Perekaman e-KTP di Kampus

Browse By

Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bekerjasama dengan dinas kependudukan dan pencatatan sipil, menyelenggarakan perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) pada (19-26/11). Perekaman yang diikuti kurang lebih 200 orang ini diselenggarakan pada pukul 08.00-14.00 WIB, di gedung Lembaga Kemahasiswaan (LK), kantor Menwa.

Allan Riyan Taufiq Akbar, salah petugas dari Sucofindo, mengatakan, perekaman yang biasanya dilakukan di Kecamatan setempat, kini dilakukan oleh sekitar 20 kampus se-Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini dilakukan dengan tujuan mempermudah mahasiswa yang tidak sempat pulang ke daerah asal untuk perekaman e-KTP, khususnya bagi mereka yang berasal dari luar Jawa.

Melalui keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), perekaman data dilakukan oleh Sucofindo. Perekaman ini digunakan untuk melengkapi data penduduk, yang meliputi pemeriksaan kembali data penduduk, perekaman iris mata, sidik jari dan foto.

Untuk dapat mengikuti perekaman ini, mahasiswa harus mengetahui Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP), selain itu mereka juga harus membawa Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM).

Untuk pengambilan e-KTP, mahasiswa harus ada verifikasi sidik jari dan itu tidak boleh diwakilkan. Karena itu mereka harus pulang ke daerah asal untuk mengambil e-KTP, karena data yang dikirim ke pusat akan dikirim ke daerah asal dalam bentuk e-KTP. Tapi tidak menutup kemungkinan ada kebijakan lain dari pusat.

Dalam proses perekaman ini petugas juga mengalami kendala, yaitu adanya mahasiswa yang masih menggunakan KTP model kuning, yang didalamnya tidak terdapat NIK.“Teman-teman mahasiswa masih punya KTP model kuning, itu kan belum ada NIKnya”, ujar Allan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, disarankan melihat KK, karena di dalamnya terdapat juga NIK.

Anindya Ayu Ciptaningtyas, mahasiswa dari Kolaka, Sulawesi Tenggara yang mengikuti program tersebut menjelaskan tujuan mengikuti perekaman e-KTP, karena menurutnya sesuai dengan peraturan yang berjalan atau ketentuan dari sensus kependudukan, bahwa setiap masyarakat wajib memiliki e-KTP.

“Karena sepengetahuanku, ketika e-KTP sudah berlaku kemungkinan KTP yang lama tidak berlaku lagi,” ujarnya.

Dia juga merasa bahwa perekaman data di kampus sangat membantu, karena dia mengaku tidak akan pulang hanya untuk mengurus e-KTP.

“Tidak ada pikiran kalau aku mau pulang hanya karena mengurus e-KTP. Karena di daerah asalku, sekarang sudah pada punya e-KTP dan berhubung aku ada di Salatiga, waktu pembuatan e-KTP di Sulawesi.  Jadi aku belum buat. Dan program pembuatan e-KTP di UKSW ini sudah membantu, meskipun pengambilan ­e-KTP nya dikirim ke daerah asal dan harus diambil oleh yang bersangkutan tapi setidaknya proses pembuatan dan pendekatan sudah dilaksanakan di sini,” tambahnya.

Penuturan tersebut juga dikatakan oleh Yodi Prasetyo, mahasiswa FEB, angkatan 2011, asal Makassar, “bagus bagi mahasiswa luar Jawa yang gak bisa pulang.” Ia juga mengatakan, tujuan mengikuti perekaman itu, “agar terdaftar sebagai warga Negara Indonesia aja.”

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *