Kuliah Kontemporer ISBD: Narayana Tunas-Tunas Bangsa Mandura

Browse By

Koordinator mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD), menyelenggarakan perkuliahan umum dengan konsep kuliah kontemporer yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB, di Balairung Utama (BU). Acara yang diikuti oleh mahasiswa dari UKSW dan Sekolah Tinggi Bahasa Asing Satya Wacana (STIBA) ini, akan ditulis dan dirangkum dalam bentuk laporan yang nantinya dikumpulkan pada 8 Desember 2012, tepat pada saat tes akhir semester ISBD dilaksanakan.

Kali ini “Narayana Tunas-Tunas Bangsa Mandura” menjadi tema perkuliahan ISBD. “Narayana mengisahkan kehidupan manusia dengan lingkungannya. Kita merupakan bagian dari lingkungan dan lingkungan adalah tempat kita hidup. Kita harus memelihara dan menjaga lingkungan. Kita juga diajarkan bahwa dalam keberagaman kita harus berinteraksi dan bekerjasama,” jelas Dr. Sri Suwartiningsih selaku ketua panitia dan koordinator ISBD, Sabtu (1/12).

Untuk tujuan acara sendiri Sri Suwartiningsih, menjelaskan supaya mahasiswa dapat saling berinteraksi dan mengetahui budaya yang dimilki.“Kami mengadakan kuliah kontemporer ini supaya mahasiswa ISBD bisa saling berinteraksi, bersosialisasi dan tahu bahwa kita punya budaya. Pesan-pesan mata kuliah ada dalam cerita yang disampaikan.”

Sri juga menambahkan, melalui acara ini mahasiswa tidak lagi melihat MKDU sebagai mata kuliah yang monoton dan menjenuhkan tetapi ada interaksi di dalamnya. Karena menurtnya ilmu sosial budaya berkaitan dengan interaksi, bukan hanya mendengarkan.

Kuliah kali ini diisi oleh Padepokan Cipta Budaya Magelang yang sudah memperoleh banyak penghargaan di luar negeri seperti di Swiss dan Inggris. Padepokan ini, menyuguhkan pagelaran mengenai kisah Narayana yang dimainkan oleh anak-anak. Selain itu, terdapat display makanan non-beras atau non-terigu dari masing-masing kelas yang dimaksudkan sebagai sarana belajar dan berinteraksi antar mahasiswa.

“Harapan kami mahasiswa menjadi tahu bahwa ada budaya yang seperti itu (seperti yang dipertunjukkan) terutama bagi mahasiswa etnis Jawa. Kami punya pikiran budaya seperti dari Kalimantan dan Papua Barat juga akan kami pentaskan. Hanya saja selama ini kami sedang merintis perkulihan dengan model seperti ini,” ujar Sri.

“Saya harap perkuliahan mata kuliah umum bukan hanya sekedar berhenti pada tataran wacana atau kognitif tetapi juga character building sehingga metode perkuliahan harus kreatif, menyentuh perasaan mahasiswa dan menjadi cerminan perilaku,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *