TUK: Ajak Peduli Lingkungan

Browse By

Komunitas Tanam untuk Kehidupan (TUK), Salatiga, untuk ke-5 kalinya mengadakan festival mata air pada (1-2/12), yang berlangsung di eks Terminal Soka. Festival yang mengangkat tema “Revolusi untuk Lingkungan” ini, bertujuan mengkampanyekan lingkungan dengan media seni dan budaya untuk memasyarakatkan gaya hidup ramah lingkungan.

Menurut Eric Setyo Dharmawan, ketua panitia penyelenggara, tema tersebut dipilih atas dasar gerakan ingin merubah lingkungan. “Saatnya beraksi bukan cuma ngobrol saja. Makanya revolusi suatu perubahan, bagaimana kita harus bergerak tidak cuma bicara, harus bersatu.”

Acara yang didukung penuh oleh masyarakat dan para komunitas ini, berawal dari kepedulian mengenai lingkungan, untuk itu mereka memilih mengadakan di  antara tumpukan sampah . “Di antara tumpukan sampah, karena memang ini menjadi tempat yang kita bisa tunjukkan ke orang-orang. Ini lho wajah kita, ini lho salah satu sudut kota kita. Siapa yang peduli coba. Kalau tidak kita sendiri,” kata Eric.

Oleh karena itu, lewat acara ini, TUK mengajak masyarakat terbuka untuk melihat kondisi lingkungan. “Kita memang mengajak masyarakat untuk berbaur dengan sampah, agar masyarakat paham bahwa bergaya hidup ramah lingkungan itu bagus,” tambahnya.

Festival yang telah dipersiapakan selama tiga bulan ini, dibuka dengan kirab budaya dari kolaborasi para seniman musik dan teater di Salatiga. Dalam pembukaannya, para seniman berjalan dari balai RW 07 Soka dan berakhir di lokasi festival.

Dalam festival ini ada bazaar; workshop; talk show “Garin Nugroho”; instalasi seni; pameran foto; teater; dan tanam pohon di Desa Tajuk, kaki Gunung Merbabu pada 30 November 2012.

Didik Indaryanto, pembina dan penasihat TUK menanggapi tentang  acara berskala internasional tersebut. “Ini sarana untuk membangkitkan persatuan dan kesatuan serta kesadaran sebagai suatu bangsa serta tanggung jawab sebagai umat, ini ada pada TUK. Medianya memang melaui seni budaya, karena seni budaya sebagai media untuk sosialisasi yang paling efektif. Jadi kesan saya belum puas dengan respon yang ada di masyarakat dan pemerintah.”

“Misal dari Dinas Tata Kota, lingkungan hidup memberikan bantuan-bantuan berupa kemudahan, tapi secara materi tidak, kemudian sambutan untuk menangkap ide dengan membentuk semacam panitia pendampingan juga tidak ada,” tambah Didik.

“Mudah-mudahan dengan kegiatan-kegiatan semacam ini, makin disadari bahwa ini bukan suatu kegiatan yang asal-asal saja.  Dikemas berapa bulan, hampir satu tahun untuk perencanaan ini bukan program yang mendadak, ini program yang  berkesinambungan,” harap Didik.

Salah satu pengunjung, Satria Bagus Utama,  berpendapat bahwa apa yang disampaikan lewat acara ini sukses dan semua dekorasi yang ada sesuai dengan tema.“Yang jelas, apa yang mereka sampaikan sukses dengan baik banget. Dilihat dari lokasi seluas itu, tidak ada tempat yang kosong. Semua terisi dengan hal-hal yang mendukung acara. Semua hal yang ada dari hiasan dan dekorasi semua nyambung dengan tema.”

  •  Data diambil oleh Else

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *