Seni Sebagai Media Kritis

Browse By

Banyak orang yang menganggap salah satu bentuk protes adalah demonstrasi. Tidak sedikit orang yang melakukan demonstrasi. Bahkan demonstrasi seringkali menjadi topik hangat dalam sebuah pemberitaan, baik melalui media cetak maupun elektronik.

Berangkat dari situasi Indonesia yang diwarnai dengan demonstrasi, seniman-seniman Salatiga yang terkumpul dalam komunitas Wulucumbu d’art Management mengadakan pagelaran karya seni lukis yang bertemakan “Dialektika Dorna-Sengkuni”. Pagelaran yang diadakan pada 4-9 Maret di Perpustakaan kampus lantai 2 ini merupakan kerjasama dengan perpustakaan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Acara yang memamerkan 27 lukisan serta melibatkan tujuh pelukis seperti Otok Shendra, Didik SM, Ronie Arto, Uwar Saja, Darmanto, Wahyu Hape, dan Go Purwa Aji ini memanfaatkan perpustakaan karena ingin memberikan warna baru terhadap tempat itu.

Dua orang mahasiswa sedang melihat lukisan yang dipajang di ruang lantai 2 Perpustakaan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. 'Pameran' lukisan yang berlangsung selama seminggu ini merupakan hasil kerjasama Wulucumbu d'art Management dengan Perpustakaan UKSW. (Foto oleh Riandi Chendana)

Dua orang mahasiswa sedang melihat lukisan yang dipajang di ruang lantai 2 Perpustakaan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. ‘Pameran’ lukisan yang berlangsung selama seminggu ini merupakan hasil kerjasama Wulucumbu d’art Management dengan Perpustakaan UKSW.
(Foto oleh Riandi Chendana)

“Karena perpustakaan sebagai sebuah knowledge, sebisa mungkin kita memberikan warna baru bagi perpustakaan, sehingga orang tidak hanya belajar dari buku tapi juga dari apa yang dilihat misalnya lukisan, bahkan dari komunikasi dengan orang lain,” ujarnya.

Menurut artikel yang dibagikan ketika pagelaran, tema yang diambil merupakan sifat dari dua tokoh pewayangan Mahabrata Jawa. Dorna (atau Durna) merupakan salah satu tokoh pewayangan yang ahli mengolah kata dan siasat sehingga banyak yang terkesima dengan ucapan dan tingkahnya. Sementara Sengkuni adalah salah satu tokoh lemah lembut dan sopan tetapi punya rencana jahat dan suka mengadu domba.

Dialektika merupakan ajaran Hegel yang menyatakan bahwa segala sesuatu yg terdapat di alam semesta itu terjadi dari hasil pertentangan antara dua hal dan yang menimbulkan hal lain lagi (http://kamusbahasaindonesia.org). Merujuk dari arti itu, maka ‘dialektika’ digunakan menjadi tema karena dua karakter pewayangan tersebut di atas juga terkadang mendapat tentangan. Jadi mengapa Dorna dan Sengkuni dihubungkan dengan dialektika? “Itu yang kita lihat sebagai realita bangsa ini, mulai dari pimpinan sampai masyarakat, karakter keduanya itu masuk, dan tidak pernah selesai. Jadi masalah muncul, di tentang lagi, dan seterusnya.”

Diapresiasikan Sendiri-Sendiri

Untuk melihat seni lukis itu, para seniman membebaskan para penikmatnya untuk mengapresiasi sendiri lukisan tersebut. “Prinsipnya, dalam menyampaikan pesan ini kita membebaskan orang untuk mengapresiasi sendiri, nah pasti akan berbeda latar belakang dari kita yang membuat karya dengan orang yang melihat”, jelasnya.

Namun tidak menutup kemungkinan apabila ada penikmat lukisan yang bertanya maka akan dijelaskan walau tidak secara detail. Tidak bisa dijelaskan secara detail menurut Darmanto, karena setiap orang pasti memiliki apresiasi yang berbeda-beda, “Kita tidak boleh mendikte apresiasi orang, dia mau bilang baik atau buruk gak ada masalah,” tambahnya.

Menurut Darmanto pula walaupun pagelaran ini menggunakan konsep pameran, acara ini sesungguhnya merupakan sebuah pagelaran. “Ini sebuah pagelaran bukan hanya sekedar memamerkan, tapi pesan yang disampaikan masing-masing karya itu menyatu.”

Sebenarnya apa sih perbedaan antara pagelaran dengan pameran?

Pagelaran atau pergelaran adalah pertunjukan (drama, wayang, orang, dsb) sementara pameran adalah pertunjukan (hasil karya seni, barang hasil produksi, dsb).

Kemudian kenapa ‘pameran lukisan’ kali ini menjadi sebuah pagelaran? “Karena lebih tematik (bersangkutan dengan tema), jadi tidak hanya sekedar memunculkan pelukis-pelukisnya tapi menciptakan karya lukis yang sesuai dengan tema, jadi lukisan yang dibuat memang khusus untuk pameran yang sesuai dengan tema”, katanya.

Tujuan dari acara ini selain sebagai bentuk kritik sosial dari Wulucumbu d’art, juga merupakan satu ajakan bagi sivitas akademika untuk ‘bangun’ dan menyadari bahwa sesungguhnya merekalah pihak yang seharusnya paling kritis terhadap keadaan atau kondisi-kondisi yang sedang terjadi dan berkembang di Indonesia. “Harapan kedepan orang-orang di kampus itu makin kritis menganalisa sesuatu yang terjadi,” harap Darmanto.

Selain itu, penyelenggara juga berharap bahwa acara ini mampu menginspirasi sivitas untuk melakukan kritik sosial bukan hanya dengan demonstrasi, namun memanfaatkan talenta yang dimiliki salah satunya melukis.

Juga Wulucumbu berharap agar acara ini mampu mengingatkan para sivitas bahwa pada dasarnya manusia memiliki dua bagian otak; kanan (kreatif, intuitif, melibatkan emosi dan berpikir dalam bentuk gambar), dan kiri (bernalar menurut logika, berpikir dengan kata-kata, dll). Untuk itu keduanya harus digunakan secara seimbang, jangan hanya ilmu yang dikejar tapi seni juga. “Jadi keduanya harus balance, jangan hanya ilmu-ilmu terus tapi sekali-kali seni”, tutup Darmanto.

Salah seorang pengunjung pagelaran, Treffi Azara Surya Permata, mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UKSW berkomentar bahwa pagelaran serupa mungkin pernah beberapa kali diadakan di kampus, “Tapi yang diadakan kemarin lebih “waw” dan keren UKSW bisa menyediakan wadah untuk orang-orang seni khususnya seni lukis,” kata Azara. Dan, “Aku lihat sih kayaknya mengangkat tentang Indonesia, anak bangsa, politik. Jadi pas kalau dipamerin di lingkup universitas,” tambahnya.

Mahasiswi satu ini bahkan berharap supaya pagelaran seperti kemarin dapat dijadikan acara rutin di kampus. “Ya jadi dengan begitu bisa saja mengundang kurator dan pelukis ternama yang bisa membawa UKSW ke dunia seni juga. Karena di bidang tarik suara UKSW sudah punya nama kenapa di bidang seni lukis engga?” tutup Azara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *