Dari Merauke ke Sabang

Browse By

Bidang Sosial dan Kebudayaan Senat Mahasiswa Universitas (SMU) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, mengadakan Pentas Seni Budaya Indonesia (PSBI) 2013. Acara yang mengangkat tema “United in Diversity of Culture, Through Art and Sport” resmi dibuka dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali oleh Pembantu Rektor III, Yafet Yosafet Wilben Rissy, SH., M.Si., LLMdan dilanjutkan dengan tarian etnis Papua, Kamis (25/4) pagi di Lapangan Sepak Bola UKSW.

Menyangkut tema yang dipakai dalam PSBI 2013, Anas Tasia selaku ketua panitia mengatakan bahwa tema tersebut tidak hanya mencakup PSBI, namun juga kegiatan POM karena dalam penyelenggaraannya ada kerja sama antara POM dengan PSBI 2013. “Yang kita tonjolkan itu kulturnya, bagaimana kultur dari berbagai macam etnis atau adat di Indonesia yang bergabung di UKSW,” ujarnya.

Setelah resmi dibuka, PSBI yang diadakan Kamis-Sabtu (25-27/4) dilanjutkan dengan pawai dari 20 etnis, beberapa Kelompok Bakat Minat (KBM) UKSW serta penampilan dari luar UKSW, yang berjalan berbaris dengan rute dari kampus UKSW – Jalan Diponegoro – Jalan Jendral Sudirman – Jalan Sukowati – Lapangan Pancasila dan kembali ke kampus UKSW.

Pejalanan dimulai dari KBM D’yera – etnis Papua – etnis Maluku – etnis Maluku Utara – etnis Minahasa – etnis Toraja – etnis Poso – etnis Timor Leste – etnis Timor – etnis Sumba – etnis Bali – KBM Wushu, Kempo dan Taekwondo perwakilan etnis Tionghoa – Marching Blek Garuda – etnis Kalimantan – etnis Landak – etnis Lampung – etnis Nias – etnis Batak Karo – etnis Batak Simalungun – etnis Batak Toba – Panitia Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) dan terakhir Marching Blek Jangkar dari Ngentak Raya Lor, Salatiga.

Tasia menjelaskan, PSBI tahun ini (dalam karnaval) diawali dari Merauke ke Sabang, karena menurutnya kebiasaan orang dimanapun menyebut dari Sabang sampai Merauke. “Sekali-sekali kita ingin buat gimana kalau dari Merauke dulu. Dan kita berharapnya setiap tahun terus bergilir. Sesuai daerahnya dan akhirnya di Aceh,” tutur Tasia.

Dalam pembukaan disebutkan bahwa ada 22 etnis, namun ketika pawai berjalan hanya 20 etnis yang mengikuti pawai. Karnaval hari pertama, setiap etnis yang berparisipasi menampilkan pakaian adat dan musik yang khas daerahnya. “Tidak semua bisa ikut pawai. Ada 20 etins kalau dihitung sama Tionghoa. Sebenarnya lebih, kita punya lebih dari itu. Tapi rata-rata mereka akan ikut di acara hari ke-2. Mereka ‘kan, orang-orangnya gak terlalu banyak, tidak diwajibkan untuk ikut pawai. Kalau mau ikut pawai boleh, tapi kita lebih fleksibel mengikuti keinginan mereka,” terang Tasia.

Untuk hari ke-2, PSBI menyajikan beberapa acara diantaranya; Parade Band, Tarian Etnis dan penyajian masakan kuliner dari berbagai etnis yang dimulai pukul 11.00 WIB. Setiap pengunjung bebas menikmati setiap sajian kuliner yang ada.

Masih berlokasi di Lapangan Sepak Bola UKSW, Parade Band dan Tarian Etnis dilanjutkan pada hari ke-3, berlangsung dari pukul 10.00-14.45 WIB. Pada hari itu juga, sekaligus dilangsungkan Closing Ceremony yang dimulai pukul 19.00-22.15 WIB. Acara tersebut akan dimeriahkan oleh Karawitan, Dance, Golden Dance, Dance Zaboack, Wanxwunx Percussion, Kembang Api dan Langensuko.

Kedatangan Tamu Khusus

Yang menjadi penekanan di PSBI tahun ini, lagi kata Tasia adalah adanya pemecahan Muri Gunungan Wayang dari botol air mineral dengan ketinggian 15 meter. Gunungan tersebut rencananya akan ditampilkan di Lapang Sepak Bola UKSW. “Kita menjanjikan akan beda. Kita menjanjikan memberi hal yang baru ke mereka. Dan acara ini untuk kita bersama nggak cuma untuk etnis aja,” terang Tasia.

Mr. Andrew Handerson perwakilan dari UNESCO memberikan piagam MURI pada Ketua SMU Albert Yosua Maliogha didampinggi oleh perwakilan MURI, PR III UKSW Yafet Rissy, dan ketua PSBI Anas Tasia. Piagam MURI tersebut merupakan penghargaan terhadap Gunungan Wayang berukuran 15×6 meter yang dibuat pada kegiatan PSBI UKSW 2013 (Foto: Ferdina Zikif).

Mr. Andrew Handerson perwakilan dari UNESCO memberikan piagam MURI pada Ketua SMU Albert Yosua Maliogha didampinggi oleh perwakilan MURI, PR III UKSW Yafet Rissy, dan ketua PSBI Anas Tasia. Piagam MURI tersebut merupakan penghargaan terhadap Gunungan Wayang berukuran 15×6 meter yang dibuat pada kegiatan PSBI UKSW 2013 (Foto: Ferdina Zikif).

Tasia menambahkan pula, dalam PSBI tahun ini UKSW kedatangan tamu dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang bertujuan untuk memberikan komentar atas ragam budaya yang ada di UKSW. Acara yang disajikan kepada masyarakat luas ini bertujuan untuk menyalurkan apresiasi, ide dan kreasi, serta mengangkat nama UKSW dan Salatiga. “Antusias dari masyarakatnya bagus, memang tidak sebanyak PSBI tahun-tahun lalu. Karena ini ‘kan masa-masa liburan. Tapi tetap banyak dan ramai,” kata Tasia.

Untuk ke depannya Tasia berharap, dari tahun ke tahun PSBI akan menjadi lebih baik. “Berharap dari tahun ke tahun (PSBI) akan menjadi lebih WAO dan lebih bisa melakukan apa yang kita lakukan sekarang. Berharap mereka (sivitas UKSW) bisa melanjutkan ini semua,” tutupnya.

3 thoughts on “Dari Merauke ke Sabang”

  1. dina says:

    Sayang banget kemaren tidak ikut acara pemecahan rekor karena ada hal yang lebih penting. Tapi salut untuk SMU dan panitia PBSI yang telah mengadakan acara pentas budaya dengan sangat meriah dan beda dari tahun-tahun sebelumnya. Semakin terlihat keberagaman di UKSW. Proud of UKSW

  2. DANI says:

    Dear Scientiarum,
    Bahagianya Saya melihat UKSW lagi, meski via media ini. Rindu dendam. Cuma saran saja, dalam mengelola situs Scientiarum ini akan lebih menarik dengan bahasa berita. Foto yang diambil dan ditampilkan juga dengan ‘sudut foto berita’. Bahasa berita memang sangat berbeda dengan bahasa artikel/opini.
    Dikelola demikian, niscaya Scientiarum akan menarik dibaca dan berkembang.

    Dani JZ
    yang memendam rindu dendam

  3. kucing says:

    ???

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *