Membangun Perdamaian Indonesia

Browse By

Satya Wacana Peace Centre (SWPC) mengadakan seminar dengan mengangkat tema, “Membangun Budaya Perdamaian Melalui Pendidikan Perdamaian di Indonesia” di Balairung Universitas (BU) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Rabu (29/5).

Theo Litaay, Ketua Seminar mengatakan alasan mengangkat tema tersebut karena, “Banyak masalah terjadi di Indonesia yang disebabkan karena intoleransi. Maka dari itu kegiatan ini memang dititik beratkan pada perdamaian. Masalahnya sekarang, topik itu belum populer di Indonesia.”

Seminar yang bekerja sama dengan UKSW, United Board-For Christian Higher Education in Asia, dan Bina Darma ini berlangsung dari pukul 09.00-16.00 WIB serta dihadiri oleh 280 mahasiswa UKSW dan 97 tamu undangan.

Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, turut hadir sebagai key note speaker sekaligus menghadiri acara peletakan batu pertama gedung baru Fakultas Teknologi Informasi di Kampus Baru UKSW di Blotongan. Ada juga Prof. Dr. Achmad Gunaryo, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag RI sebagai pemateri pertama, Frank Fosdahl, Ketua Dewan Sekolah Mountainview International Christian School Salatiga sebagai pemateri kedua.

Dalam seminar tersebut, Muhamad Nuh mengatakan bahwa konflik yang terjadi di Indonesia sering berkaitan dengan SARA. Menurutnya, hal itu disebabkan karena lemahnya manajemen konflik dan SARA di Indonesia. Tambahnya lagi, dibutuhkan adanya kesadaran dan kewaspadaan akan potensi konflik antar kelompok, di samping konflik yang disebabkan karena SARA.

Dalam kesempatan yang sama, Nuh sedikit berbicara tentang kurikulum 2013 yang akan memberlakukan pendidikan agama dan budi pekerti untuk membekali siswa dalam menciptakan perdamaian. Perdamaian menurutnya, merupakan tugas dari kaum intelektual sebagai agen perubahan yang harus mengakomodir terbangunnya toleransi dan perdamaian.

Untuk menerima perbedaan dalam masyarakat, Nuh menjelaskan ada lima tahap pembentukan pola pikir. Pertama; discipline mind, yang berarti dalam kehidupan masalah tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu disiplin ilmu. Kedua; synthesizing mind merupakan kombinasi dari berbagai disiplin ilmu. Ketiga; creative mind, pikiran berdasarkan kreativitas. “Tugas kita adalah menjaga spektrum itu bisa lebih tetap tumbuh dalam satu cahaya putih. Cahaya putih adalah cahaya yang terang yang berasal dari banyak spektrum yang berbeda-beda,” ujarnya.

Keempat; respectful mind yang menurutnya harus ditanamkan sebagai “Indonesia”, kerena tidak dapat dihindari bahwa takdir Indonesia adalah multietnik dan multikultural. Sedangkan tahap terakhir adalah ethical mind atau pola pikir yang berbasis pada etika. Pada tahap ini masyarakat harus mulai berpikir untuk tidak hanya melihat apa yang baik dan benar, tapi mempertimbangkan juga masalah kebaikan. Maka demi lima tahap perkembangan pola pikir di atas, Nuh berharap bahwa masyarakat Indonesia terus bertumbuh dan dapat mencapai pola pikir tahap yang terakhir. “Sampai berjumpa di lain kesempatan,” tutupnya sebelum turun podium.

Dengan diselenggarakannya seminar ini, Theo Litaay selaku Ketua Seminar berharap bahwa pengenalan atau promosi tentang pendidikan perdamaian dapat tersampaikan pada audience yang lebih luas. “Karena kurangnya pendidikan perdamaian di Indonesia tentang bagaimana keadaan umat beragama di Indonesia, semoga promosi tentang pendidikan perdamaian di Indonesia bisa tersampaikan pada audience yang lebih luas dan menghasilkan keluaran dalam bentuk proceeding,” tutupnya.

*Data diambil oleh Viona Alamanda.

One thought on “Membangun Perdamaian Indonesia”

  1. WH says:

    SWPC itu apa ya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *