EKA SIMANJUNTAK: Masalah Umur Calon Rektor Bukan Fokus Utama

Rubrik Kampus oleh

Terbitnya Surat Keputusan Pembina YPTKSW (Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana) No.123/B/YSW/VII/2013 Tentang Perubahan Atas Keputusan Pembina No.207/B/YSW/XI/2012 Tentang Tata Cara Pencalonan, Pemilihan, dan Pengangkatan Rektor dan Para Pembantu Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), menimbulkan beragam tanda tanya. Sivitas akademika UKSW pada berbagai kesempatan dan media membahas perihal perubahan tersebut. Banyak kalangan termasuk alumni bertanya-tanya tentang sebab terjadinya perubahan tersebut.

Menurut Sekertaris Pembina Harian YPTKSW, Eka Simanjuntak ketika ditemui di Bina Dharma, Kamis (22/8) perubahan terjadi karena keputusan yang lama oleh Pembina dianggap belum dibahas. Namun, Pengurus YPTKSW merasa bahwa keputusan yang dicabut tersebut telah dibahas dalam rapat. “Mayoritas Pembina merasa bahwa keputusan tersebut belum dibahas, sebab selama rapat-rapat yang dilakukan lebih banyak membahas tentang masalah sistem akademik,” jelasnya.

Eka menerangkan bahwa keputusan-keputusan yang telah dibuat tidak ditambat dengan baik. Akibatnya, tidak ada rekaman administrasi yang baik atas keputusan yang dibuat. Sehingga saat kedua belah pihak merasa sudah dan juga sekaligus belum dibahas, sulit untuk ditelurusi. Bahkan, masalah yang menjadikan hal ini bertambah sulit karena tambatan rapat Pembina selalu disahkan pada rapat berikutnya. Sedangkan jarak waktu rapat itu dengan rapat selanjutnya bisa mencapai tiga bulan kemudian. “Bisa saja Pembina sudah tidak mengingat lagi secara persis apa saja yang telah dibahas dan disepakati, sebab waktunya cukup lama. Hal itu diperparah dengan ketidakrapian administrasi, sehingga sulit bagi Pembina untuk menyatakan dengan pasti bahwa keputusan itu sudah dibahas. Apalagi ternyata keputusan itu mengandung masalah. Dalam hal ini sulit bagi kita untuk mengatakan siapa yang benar dan siapa yang salah,” terang Eka.

“Energi Pembina ketika melakukan rapat-rapat kala itu dihabiskan untuk membicarakan masalah terkait sistem akademik. Pembina berdebat begitu lama dan pertemuan itu sangat melelahkan. Ketika mungkin Pembina disodorkan berkas terkait keputusan yang lama para Pembina bisa saja sudah tidak fokus lagi. Bahkan Pembina sudah tidak memiliki energi lagi untuk memikirkan apa implikasi dari keputusan itu. Jadi sebenarnya agenda ini dibahas dan diselipkan saat Pembina membahas masalah sistem akademik yang begitu menguras tenaga itu,” lanjut Eka kemudian.

Baru dikemudian hari ketika keputusan itu dilaksanakan Pengurus, Pembina mempertanyakan beberapa hal yang menjadi masalah dalam keputusan itu. Tanggal 4 Juli 2013 Pembina membuat keputusan baru. Poin utama merubah keputusan itu ada pada beberapa poin krusial yang Pembina anggap merupakan masalah. Isu pertama adalah keterlibatan unit dan senat dalam Pemilihan Rektor (Pilrek). Lalu, isu yang kedua diberikanya hak yang sama seperti Pembina bagi Pengurus dan Pengawas YPTKSW.

Saat ditanya mengapa kedua isu itu menjadi masalah, Eka menjelaskan bahwa terkait isu pertama Pembina tidak ingin kejadian memiluhkan tahun 1993 (konflik UKSW ‘93) terulang kembali. Menurutnya jika unit dan senat dilibatkan untuk memilih calon rektor maka akan terjadi pengkotakan dan polarisasi di lingkungan kampus. Ada polarisasi ditingkat unit yang kemudian naik ke senat lalu menjadi tajam di Pembina. Bisa terjadi ledakan besar apabila yang dipilih Pembina bukan pilihan mayoritas. Ini mirip seperti kejadian tahun 1993. Sedangkan dalam pandanganya sivitas UKSW sebenarnya belum dewasa dengan kondisi pilrek yang demokratis semacam itu. “Selama ini saja sudah terpecah dan ada polarisasi di seluruh sivitas akademika, bagaimana kalau menggunakan cara seperti itu? Dalam hal ini Pembina tidak ingin mengambil resiko,” jelasnya.

Sedangkan untuk isu yang kedua bagi Eka, sangat jelas bahwa masalah tersebut bertentangan dengan undang-undang YPTKSW sendiri. Menurut aturan yayasan hak untuk memilih rektor ada ditangan Pembina. Baik Pengurus maupun Pengawas tidak punya hak untuk itu. Lalu, hal ini juga terkait dengan asas keterwakilan. Pembina adalah perwakilan dari gereja-gereja pendukung YPTKSW dan Ikasatya, sedangkan Pengurus dan Pengawas tidak mewakili gereja dan Ikasatya.

Disisi lain, keterlibatan Pengurus dan Pengawas yang apabila diberikan wewenang besar semacam itu harus dibahas secara komperhensif karena hal tersebut terkait dengan AD/ART Yayasan. Pertanyaan Pembina adalah apakah wewenang sebesar itu telah dipikirkan dampak jangka panjangnya? Tidak bisa kita memberi wewenang hanya untuk kepentingan jangka pendek. “Misalnya jika kita bicara wewenang harusnya diikuti dengan pembahasan tentang bagaimana kemampuan menjalankan wewenang itu, siapa yang menjalankan, apakah dia mampu, dan lainnya. Sudah seyogyanya masalah semacam itu dibahas komperhensif dan karena itu kami sudah membentuk Tim untuk membahas ulang AD/ART YPTKSW,” tandas Eka.

Jadi, perubahan paling utama dari keputusan lama yang membedakan dengan keputusan baru adalah jadwal dan proses pemilihan tidak panjang, semua proses pemilihan berpusat pada Pembina. Sehingga, unit dan senat tidak lagi terlibat dalam memilih. Senat hanya memberikan pertimbangan setiap anggota senat kepada Pembina terkait para calon rektor. Pertimbangan itu bukan satu-satunya faktor bagi Pembina untuk memilih rektor. Calon rektor juga akan memberikan presentasinya dihadapan Pembina. Selain itu juga perubahan utamanya ada pada scoring calon Rektor.

Usia Calon Rektor dihapus

Tidak hanya perubahan-perubahan utama seperti yang disebutkan, tidak seperti pada keputusan yang lama, keputusan yang baru tidak memuat syarat tentang usia calon rektor. Jika pada keputusan yang lama ditentukan usia maksimal calon rektor adalah 60 tahun. Berbeda dengan yang lama keputusan yang baru justru tidak memuat sama sekali terkait usia calon rektor.

Mengenai hal ini Eka menjelaskan bahwa terjadi perdebatan alot dalam rapat Pembina. Terjadi silang argumen yang sama-sama kuat terkait apakah usia maksimal 60 tahun calon rektor dicantumkan sebagai syarat atau tidak. Baik pihak yang menyatakan usia dicantumkan dan tidak sama-sama memiliki argumen yang kuat. Jalan tengah yang diputuskan, bahwa usia lebih baik dihapus dari persyaratan. Sebab, perdebatan yang terjadi pun tidak akan berhenti sampai disitu. Pertanyaan lain akan muncul lagi jika usia dicantumkan berapa usianya? Mengapa tidak 55 tahun, mengapa tidak 70 tahun, dan lainya. Maka dari itu syarat usia diputuskan untuk dihapus.

Eka juga menegaskan bahwa perubahan keputusan ini tidak semata-mata berfokus pada usia semata. Justru fokus masalahnya ada pada dua hal yang telah disebutkan sebelumnya. “Pada tahun 2012 ada Tim yang dibentuk untuk membuat aturan Pilrek yang lama, nah aturan itu yang diubah. Dari aturan itu yang diubah Pembina bukan masalah umur sebagai fokus utama. Akan tetapi ada pada masalah keterlibatan unit dan hak Pengurus serta Pengawas yang sama dengan Pembina,” tegasnya.

Rektor terpilih akan dipagari Pembina

Rektor yang terpilih nantinya menurut Eka akan dipagari oleh Pembina agar bekerja tidak semaunya sendiri. Siapapun yang terpilih akan kita minta komitmenya untuk bekerja sama dengan semua pihak dan melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Rektor sekarang, terutama mengenai keberadaan kampus di Blotongan. Menurut Eka, Pembina mengingikan agar rektor yang terpilih nantinya dapat merangkul seluruh komponen yang ada dalam membangun UKSW.

Dia juga menambahkan bahwa Pembina akan membantu rektor yang baru untuk bekerja dengan baik dan merangkul semua pihak. Memang tidak semua keinginan dapat ditampung, akan tetapi bekerjasama dan menghilangkan pengkotak-kotakan di lingkungan UKSW adalah hal yang nantinya perlu dilakukan untuk mencapai tujuan Satya Wacana.

Pembina akan menitipkan UKSW secara jelas kepada Rektor yang berikutnya, artinya sejak awal kita bersama-sama akan menetapkan cita-cita bersama sehingga tidak jalan sendiri-sendiri. “Namun sebelum sampai kepada tahap itu, marilah kita kawal proses Pemilihan Rektor ini dengan baik. Pembina sadar bahwa apa yang dilakukan ini bukan yang ideal, akan tetapi Pembina sedang mengusahakan yang terbaik bagi seluruh sivitas akademika UKSW,” tutupnya. (Reporter magang: Albert Josua Putera Maliogha)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*