Cantik Itu Luka

Browse By

Judul Novel : Cantik Itu Luka
Pengarang : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2012
Harga : Rp 63.750
Tebal buku : 484 Halaman

cil_2012

Tak seorang pun di kota ini, dan mungkin di seluruh alam semesta, lebih cantik darinya. Ia lebih cantik daripada Rengganis Sang Putri yang kawin dengan anjing, paling tidak menurutku. Ia lebih cantik dari Ratu Laut Kidul. Ia lebih cantik dari Diah Pitaloka yang menyebabkan perang Majapahit dan Pajajaran. Ia lebih cantik daripada Juliet yang membuat Romeo nekat bunuh diri. Ia lebih cantik dari siapa pun. Seluruh tubuh-nya seperti mengeluarkan cahaya, rambutnya lebih mengilau dari sepatu yang baru disemir, wajahnya begitu lembut seolah ia dibuat dari lilin, dan senyumnya seperti mengisap segala yang ada di sekitarnya”. (Cantik Itu Luka)

Benarkah cantik itu luka? Bukankah “cantik” itu dikagumi laki-laki? Ia yang cantik punya banyak pilihan dan ia punya kuasa memilih siapapun yang ia mau. Terkesan bahagia diatas penderitaan kaum adam, namun begitulah “cantik”. Bahkan saat ia menderita, ia akan cepat bangkit karena ada banyak yang akan menolongnya tanpa sekalipun ia meminta. Lalu atas dasar apa “cantik” terluka?

Kecantikan di dalam novel Cantik Itu Luka (CIL) diibaratkan sebagai perusak diri seseorang dan merusak segalanya. Kerusakan-kerusakan itu diawali dengan munculnya pelacur cantik bernama Dewi Ayu di tengah-tengah masa penjajahan Jepang di Indonesia sebagai latar belakangnya. Dalam novel ini, Eka menjadikannya sebagai tokoh paling sentral, biang keladi bahkan sosok yang perlu dikasihani di dalam novel ini. Ia kuat, keras kepala namun juga menyayangi ketiga anaknya hasil dari entah laki-laki yang mana.

Ia adalah biang keladi penyebab lahirnya tiga perempuan cantik, Alamanda, Adinda dan Maya Dewi, yang kecantikannya melebihi kecantikan ibunya, sampai-sampai membuat banyak laki-laki memaksa ingin mengawini mereka meski belum cukup umur. Ia menjadi biang keladi atas hilangnya suami para istri dari rumah mereka ketika malam tiba. Biang keladi atas kutukan yang menimpa anak dan cucunya yang membuat hidup mereka harus sengsara tiada akhir. Ia juga menjadi biang keladi atas buruknya wajah Si Cantik, anak keempat Dewi Ayu yang hanya bisa menanti sang pangeran di dalam kamarnya.

Berkat kisah Dewi Ayu yang terpaksa menjadi pemuas nafsu para tentara Jepang di masa penjajahan saat itu, benar bahwa Eka Kurniawan adalah penulis out of the box. Tema yang diangkatnya selalu keluar dari perhatian banyak orang. Salah satu karyanya yang lain berjudul Lelaki Harimau, berbeda tapi tak sama dengan Cantik Itu Luka, juga menandakan bahwa ia memiliki ciri khas.

Perbedaan yang sangat jelas adalah Lelaki Harimau tentang lelaki sedangkan Cantik Itu Luka tentang perempuan. Namun didalamnya sama-sama menyoal tentang berahi, darah, mayat, binatang, pembunuhan dan hal-hal lain yang jarang menjadi perhatian banyak penulis.

Novel ini sekali lagi menyimpan banyak hal selain latar belakang penjajahan dan lika-liku kehidupan pelacur cantik, Dewi Ayu yang terkesan vulgar dan lugas. Di dalam novelnya, Eka tidak melupakan sentuhan cerita cinta layaknya novel-novel karya penulis lainnya. Namun, lagi-lagi, Eka mampu membuatnya berbeda. Kisah-kisah cinta buatan Eka terkesan rumit, tidak hanya melibatkan satu atau dua orang, namun melibatkan banyak orang. Cinta Ibu kepada anaknya yang meski telah durhaka, cinta calon bapak kepada calon anak perempuannya, cinta laki-laki 40-an kepada gadis belasan, cinta remaja laki-laki kepada sepupu perempuannya sendiri, cinta seorang putri cantik kepada seekor anjing, bahkan cinta seorang pelacur kepada semua orang dan semua benda: kemaluan, ujung jari, atau kaki sapi dan bahkan cinta bahwa ia harus menjadi santa sekaligus sufi dalam waktu yang bersamaan.

Kelemahannya. novel ini lekat dengan bahasa yang lugas dan vulgar. Eka banyak mendeskripsikan bagaimana Dewi Ayu melawan atau mungkin menikmati pekerjaannya sebagai pelacur.

Pelacur itu penjaja seks komersial, sementara seorang istri menjajakan dengan sukarela. Masalahnya aku suka bercinta tanpa dibayar”. (Cantik Itu Luka: 128)

Hal menarik di dalam novel ini adalah Eka Kurniawan berhasil membuat silsilah keluarga yang rumit namun sanggup diceritakan secara jelas. Ketiga anak Dewi Ayu, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi juga ternyata melahirkan anak yang juga cantik. Nurul Aini dan Rengganis si Cantik yang kecantikannya mewarisi kecantikan neneknya kecuali Adinda yang melahirkan anak laki-laki yang juga tampan bernama Krisan.

Lewat tokoh remaja, Krisan, Eka mampu menyimpan kejutan-kejutan tak termaafkan. Ia berhasil menata rapi semua masalah yang belum terpecahkan, lalu menciptakan karakter Krisan sebagai tokoh kunci dari masalah-masalah yang disimpannya.

Saat Krisan patah hati karena sudah tergila-gila dengan kecantikan yang dimiliki sepupunya sendiri, ia mencari-cari wanita buruk rupa yang cenderung tidak akan membuatnya terluka.

Akhirnya di akhir kisah,Krisan menemui bibinya sendiri, anak ke empat Dewi Ayu, Adik dari Ibunya yang lahir berwajah buruk rupa, Si Cantik. Mereka bertemu lalu bercinta di kamarnya. Si Cantik yang terheran-heran, langsung menanyakan kepada Krisan, “Kenapa kau menginginkanku?” Dengan satu jawaban, akhirnya Krisan menjawab, “Sebab, cantik itu luka”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *