Dua Malam Benteng Vastenburg Lantunkan Musik Jazz

Browse By

Jalan Slamet Riyadi malam itu masih lenggang. Masih sedikit anak muda yang nongkrong di depan gedung Bank Indonesia. Mungkin karena mentari baru saja kembali ke peraduannya. Dari kejauhan, nampak lampu sorot yang biasa dipakai untuk acara musik membubung di langit dari sebuah benteng peninggalan Belanda. Penasaran mengenai hal itu, saya bersama Viona, Fendy dan Om Eddy sengaja mampir.

Malam itu, Jumat (27/9), merupakan hari pertama diselenggarakannya “Solo City Jazz 2013”. Acara ini diadakan selama dua hari hingga Sabtu (28/9) di area Benteng Vastenburg, Jl. Mayor Sumarno, Solo. Benteng yang berseberangan dengan Kantor Pos Pusat kota Solo ini, begitu asing bagi saya. Mungkin karena ini adalah kali pertama saya memasuki benteng yang baru saja saya ketahui keberadaannya. Selama ini saya tidak tahu kalau Solo punya benteng peninggalan Belanda. Nampak tidak terlalu ramai saat kami memasuki pelataran parkiran benteng Vastenburg. Tetapi, begitu berada di dalam area benteng, suasana etnik dan jazz begitu kental terasa.

Yang menarik perhatian saya dari Solo City Jazz 2013 ini adalah tempat yang digunakan untuk perhelatan acara ini merupakan sebuah bangunan peninggalan sejarah. Sebuah benteng peninggalan Belanda yakni, benteng Vastenburg disulap menjadi sebuah area konser yang penuh dengan nuansa etnik. Dari depan pintu gerbang masuk benteng, bisa terlihat panggung yang didekorasi dengan beberapa lampu sorot warna-warni. Panggung yang sebenarnya berfungsi sebagai bekas tempat pengintaian ini, tampil begitu artistik dengan hiasan yang terbuat dari kerajinan bambu. Penonton pun dapat mampir ke beberapa stand yang menawarkan produk kerajinan khas Solo, produk rokok, dan makanan serta minuman.

Ketika ditanya mengenai keunikan Solo City Jazz 2013, Heru “Mataya” Prasetya, Director Artistic dari event jazz tahun ini bercerita bahwa keunikan dari Solo City Jazz terletak pada pemilihan tempat penyelenggaraan acaranya. Ketika pertama kali diadakan, penyelenggara memilih Pasar Windujenar, sebuah pasar tradisional yang berlokasi di Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta sebagai tempat berlangsungnya Solo City Jazz. Dan untuk kedua kalinya, Solo City Jazz diadakan di Sriwedari, sebuah kompleks taman di Kecamatan Lawiyan, dan kembali lagi ke tempat yang pertama untuk penyelenggaraan Solo City Jazz yang ketiga. Lalu kenapa sekarang memilih Benteng Vastenburg?

“Benteng ini adalah sebuah tempat yang luar biasa indah. Sayangnya benteng ini sekarang dalam keadaan yang memprihatinkan, namun tempat ini sangat cocok untuk konser jazz bila ditata secara artistik sehingga jadilah panggung yang luar biasa,” kata Heru. “Kami (penyelenggara) sengaja memilih benteng ini sekaligus untuk mengingatkan pada warga Solo bahwa Solo itu mempunyai tempat-tempat bersejarah yang luar biasa. Semoga suatu saat, acara ini dapat menjadi icon kota Solo” tuturnya.
Heru bercerita, acara yang sudah terlaksana ke-empat kalinya ini, mengalami peningkatan jumlah penonton dari tahun ke tahun. “Jumlah pengunjungnya semakin meningkat, untuk yang tahun ini penonton mencapai angka 5000-an,” jelasnya.

Acara yang dimulai tepat pukul 19.00 WIB hingga selesai ini menampilkan beberapa musisi-musisi Jazz nasional yang sudah siap mempertontonkan kelebihan musiknya. Pada hari pertama konser ini diselenggarakan, Solo City Jazz 2013 yang diselenggarakan oleh CPRO dan Mataya, penggiat musik jazz di Solo, bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta ini menampilkan beberapa band jazz seperti; Are You Alone (AYA), Smoothies Band, Kirana Big Band, Kemlaka Etnik Musik, Bintang Indrianto Trio, dan ditutup dengan penampilan Matthew Sayersz and Indonesian Youth Regeneration.

Penampilan Matthew Sayersz yang berkolaborasi dengan Indonesian Youth Regeneration saat membawakan lagu single ‘Cinta dan Sayang’. Foto oleh: Fendy Kurniawan.

Penampilan Matthew Sayersz yang berkolaborasi dengan Indonesian Youth Regeneration saat membawakan lagu single ‘Cinta dan Sayang’. Foto oleh: Fendy Kurniawan.

Pada hari kedua, yang merupakan puncak acara Solo City Jazz 2013 ini, penonton disuguhi penampilan dari: SAHITA, Iga Mawarni feauturing B’All Stars, Michelle Kunhele, Jazz Classica n Concerta, AbsurdNation, IBF Solo featuring Harry Toledo, dan dimulai pukul 19.00 WIB hingga selesai.

Ditemui seusai Solo City Jazz 2013 hari pertama, Ahmad Purnomo, Wakil Walikota Solo, menyatakan bahwa acara ini merupakan satu bentuk apresiasi terhadap masyarakat yang suka dengan musik jazz. “Kami Pemerintah hanya memfasilitasi, karena ini merupakan keinginan dan ide dari masyarakat Solo. Walaupun tidak begitu kental dengan nilai budaya, namun tampaknya masyarakat mengapresiasi Solo City Jazz yang sudah terselenggara untuk ke-4 kalinya ini,” tuturnya ketika ditemui di lokasi pukul 23.45 WIB.

Turut hadir dalam konser Solo City Jazz 2013, Wakil Walikota Solo, Achmad Purnomo, yang sekalian membuka secara resmi . Foto oleh: Fendy Kurniawan.

Turut hadir dalam konser Solo City Jazz 2013, Wakil Walikota Solo, Achmad Purnomo, yang sekalian membuka secara resmi . Foto oleh: Fendy Kurniawan.

Lanjutnya, tujuan diadakannya acara-acara musik seperti Solo City Jazz adalah untuk menarik wisatawan datang berkunjung ke kota Solo. “Banyak ya event musik di Solo. Musik jazz, kroncong, blues music yang baru bulan lalu diselenggarakan. Itu semua bertujuan untuk menarik wisatawan datang ke kota Solo, mengingat bahwa Solo tidak punya Sumber Daya Alam yang dapat dijadikan objek wisata, semoga dengan event-event seperti ini dapat menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Solo,” tutup Ahmad Purnomo.

Hal lain yang menarik dari konser ini adalah antusias anak-anak muda kota Solo yang terlihat memadati area konser Solo City Jazz 2013 ini. Danur, salah seorang mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang datang untuk menonton bersama dengan teman-temannya, berpendapat bahwa acara ini layak untuk ditonton. “Luar biasa,” pujinya. “Harapannya agar ada kontinuitas dari acara musik dengan genre ini ya, karena kan event musik genre lain sudah ada, dangdut contohnya di THR,” tutupnya.

Penulis dengan latar belakang panggung Solo City Jazz 2013 seusai konser hari kedua. Foto oleh: Fendy Kurniawan

Penulis dengan latar belakang panggung Solo City Jazz 2013 seusai konser hari kedua. Foto oleh: Fendy Kurniawan

Begitu kreatif dan mengesankan mungkin adalah kesan yang saya dapat saat menghadiri Solo City Jazz 2013. Melihat bahwa pemerintah kota Solo begitu memperhatikan keinginan warga kota dan mengapresiasikannya dalam bentuk rangkaian agenda terjadwal begitu menggugah keinginan saya agar suatu saat ada acara serupa yang diselenggarakan di Salatiga. Yang tersisa adalah sebuah pertanyaan mengenai kapan event-event seperti ini bisa hadir dan memanjakan penggemar musik jazz yang ada di Salatiga. (Data diambil oleh: Viona Alamanda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *