Eksotisme Candi Sukuh

Browse By

Sejalan dengan niatan meliput Solo City Jazz 2013 hari kedua pada Senin (28/9), Om Eddy, begitu beliau disapa, seorang wartawan asal Solo mengajak kami; Saya, Viona dan Fendy untuk mengunjungi salah satu bangunan prasejarah di sekitaran Solo. Prehistorical place mungkin adalah tema perjalanan kami. Bangunan prasejarah yang kami kunjungi kali ini adalah Candi Sukuh.

Candi Sukuh merupakan candi yang terkenal akan relief dan arca-arcanya yang tidak lazim dibanding candi-candi lain yang ada di Indonesia. Relief-relief dan arca-arca unik, yang lain dari biasanya ini hanya dapat dijumpai di Candi Sukuh saja.

Terletak di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Kelurahan Berjo, Desa Sukuh, Kecamatan Ngayoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Sekitar 35 kilometer dari Kota Solo, candi yang terakhir dipugar tahun 1982 ini sudah menjadi objek wisata yang ramai dikunjungi turis domestik maupun turis mancanegara dan sangat mudah ditempuh dengan kendaraan pribadi. Lokasinya sejuk dan berada dilereng Gunung Lawu, sekitar 1.100 meter diatas permukaan laut. Objek wisata Candi Sukuh ini dibuka dari pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB. Bagi pengunjung yang ingin masuk melihat sekeliling candi, setiap orang akan dipungut karcis sebesar Rp. 3000.

Tiba di sana pukul 13.30 WIB, kami langsung memasuki kompleks candi yang begitu mengagumkan. Biasanya pengunjung masuk candi dimulai dari teras pertama. Namun karena terpesona oleh bangunan candi, kami langsung ke teras ketiga. Mungkin juga karena teras ketiga berada di sebelah parkiran. Karena teras ketiga bukan urutan yang tepat. Maka kami berjalan ke bawah. Kebetulan ada seorang bapak penjaga loket yang meminta kami mampir untuk mengisi buku tamu di loket karcis.

Bangunan candi pertama di teras pertama – tampak belakang, sesuai mitos tempat ini digunakan untuk mitos ritual tes keperawanan. Foto oleh: Dylan Pieter Leatemia.

Bangunan candi pertama di teras pertama – tampak belakang, sesuai mitos tempat ini digunakan untuk mitos ritual tes keperawanan. Foto oleh: Dylan Pieter Leatemia.

Tujuan melihat-lihat candi kami lanjutkan menuju pintu gerbang di teras pertama. Pintu gerbangnya besar, berbentuk paduraksa, yakni pintu gerbang yang dilengkapi dengan atap. Pintu gerbang ini diberi pagar pada jalan masuknya. Jika kita lihat ke dalam pagar gapura, di situ ada sebuah relief Lingga (tongkat keperkasaan, batang penis) dan Yoni (kelamin wanita, vagina) dalam bentuk sebenarnya. Karena lingga dan yoni satu-satunya di Indonesia, bahkan di dunia dengan bentuk seunik ini, pagar di pintu masuk gapura dibuat agar tak ada orang yang sembarang masuk ke sini dan menginjak-injak reliefnya.

Relief Lingga dan Yoni dalam bentuk sebenarnya yang ada dalam bangunan candi ber-paduraksa. Foto oleh: Fendy Kurniawan.

Relief Lingga dan Yoni dalam bentuk sebenarnya yang ada dalam bangunan candi ber-paduraksa. Foto oleh: Fendy Kurniawan.

Info yang beredar di internet menyebutkan kalau relief tersebut digunakan untuk mengetes keperawanan wanita. Info ini sepertinya dilebih-lebihkan. Diakui oleh bapak penjaga loket yang tidak mau disebutkan namanya, “Memang dulu ada mitos seperti itu, selebihnya hanyalah mitos belaka”. Dikisahkan bahwa ritual ini muncul atas keinginan Sang Raja untuk mengetes kesetiaan sang calon permaisurinya dengan melakukan tes keperawanan. Sang calon permaisuri harus melewati gerbang pertama bangunan candi yang merupakan media penentu yang dapat menunjukkan bahwa sang calon permaisuri ini masih perawan ataukah sudah tidak lagi.

Kompleks Candi Sukuh menempati areal seluas ± 5.500 m2, terdiri dari terdiri atas tiga teras bersusun. Semua gerbang di candi ini beserta candi utama dan candi pelengkapnya menghadap ke barat. Bentuk candi yang berundak-undak seperti punden berundak (bangunan suci masa pra Hindu-Buddha) dikarenakan pada abad ke-15, pengaruh Hinduisme di Jawa mulai memudar, sehingga budaya asli zaman megalitikum mulai bangkit.

Teras ketiga merupakan teras yang kaya akan relief dan juga arca-arca yang hampir kesemuanya tanpa kepala. Adapun teras ketiga ini terdapat candi utama dengan bentuk trapesium tinggi mencapai ±6m. Dilihat sekilas, bentuk candi ini mirip kuil suku Maya di Semenanjung Yucatan, Amerika Tengah.

Candi utama di dalam area Candi Sukuh yang terletak di teras ketiga. Sekilas mirip kuil suku Maya. Foto oleh: Dylan Pieter Leatemia.

Candi utama di dalam area Candi Sukuh yang terletak di teras ketiga. Sekilas mirip kuil suku Maya. Foto oleh: Dylan Pieter Leatemia.

Bila Candi Borobudur menjadi candi upacara keagamaan, dan Candi Brahu adalah candi penyimpan abu pembakaran mayat umat Hindu-Buddha, maka Candi Sukuh adalah candi kesuburan dan candi seni bercinta. Candi Sukuh dikenal sebagai candi yang berbau erotisme. Bisa dilihat dari pahatan-pahatan yang ada pada arca-arca di dalam candi.

Pesona yang disuguhkan Candi Sukuh ini bukan karena candi ini besar seperti Candi Borobudur, namun pesonanya terletak pada kesederhanaannya. Bagaimanapun, hal itu tidak mengaburkan fakta bahwa candi ini menyimpan banyak sekali misteri.

Karena hari mulai sore dan akan ada liputan lanjutan di Solo City Jazz 2013, kami memutuskan kembali ke Solo. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Candi ini menurut penulis merupakan candi dengan desain yang berbeda dari candi-candi lainnya yang ada di pulau Jawa. Selain lingkungkan candi yang sangat indah dan unik, juga jalan menuju candi itu sangat indah. Pemandangan kebun teh dan pengunungan sangat indah untuk kita bersantai santai di pinggir jalan, untuk menikmati indahnya alam lereng gunung Lawu. Datanglah dan lihatlah candi yang sangat unik ini.

2 thoughts on “Eksotisme Candi Sukuh”

  1. QTC says:

    lha itu relief linga yoni kalo dilewatin emang ada alarmnya ? XD
    COOL PLACE.

  2. rdtngrh says:

    ” sang arsitek candi,,termasuk orang yg punya daya seni yg hebat,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *