Sumpah Pemuda: Butet Kartaredjasa Isi Ibadah UKSW

Browse By

“Satya Wacana adalah bagian dari hidup saya,” ucap Butet Kartaredjasa, seorang Budayawan, Seniman dan Artis Tanah Air Indonesia saat menyambut sivitas akademika Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Senin (28/10) di Balairung Universitas (BU).

Dalam sejarah UKSW, ini memang bukan kali pertamanya Butet mengisi acara di atas mimbar BU UKSW. Salah satu naskah monolog yang pernah Butet tampilkan di UKSW yaitu naskah karya Putu Wijaya, yang berjudul Kucing pada (29/4/2011).

Kali ini dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda, Butet kembali hadir mempertontonkan kemampuannya dalam bermonolog yang bertema, “Dengan Jiwa Sumpah Pemuda Mahasiswa Kristen Menyikapi Persoalan Bangsa” di hadapan sivitas akademika UKSW pada pelaksanaan Ibadah Senin.

Dalam monolognya, Butet banyak menyinggung soal politisi yang lebih ‘enak’ ia sebut politikus. Tidak hanya itu, ia juga sempat berkhutbah dan melawak beberapa kali.

“Yesus pernah berkata, jadilah garam dan terang dunia, gimana mau jadi garam kalau garam aja kita masih impor? Gimana mau jadi terang dunia kalau PLN (Perusahaan Listrik Negara_red) aja masih buntet?” canda Butet saat bermonolog.

Di akhir monolognya, Butet sempat berpesan bahwa pemuda perlu memaknai kembali kisah tokoh dalam konteks sumpah pemuda Indonesia. Butet juga mengatakan bahwa pemuda seharusnya tidak berebutan kekuasaan, tapi bersama-sama membela merdeka.

Usai penampilan Butet, Rektor UKSW, Pdt. John A Titaley Th.D, memberikan komentar di hadapan sivitas akademika. “Itu tadi adalah refleksi yang jujur dan tulus dan tidak ada hambatan apapun,” lanjutnya, “Semoga dapat kita simak bersama-sama dan kita dapat melakukan apa yang harus kita lakukan sebagai generasi muda,” ucap John. John juga berterimakasih atas kedatangan Butet, dan John juga berharap Butet akan hadir di waktu-waktu yang akan datang.

Ditemui usai acara, Maya Rahadian Septianingtyas, Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) UKSW mengaku terkesan setelah menyaksikan untuk pertama kalinya monolog dari Butet Kartaredjasa. “Luar biasa, bisa dijadikan sebagai bahan refleksi ya, ternyata banyak banget degradasi kemunduran, dari pola pikir, dari semangat pemudanya. Jadi Banyak banget yang bisa kita lakukan untuk masyarakat, apalagi salah satu visi misinya UKSW adalah sebagai pengabdi kepada masyarakat, sebagai creative minority bisa memberikan sesuatu untuk Indonesia pada umumnya,” ucap Maya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *