Di Balik Tirai ‘Para Penjudi’

Browse By

Salah satu karya seorang sastrawan Rusia, Nikolai Gogol yang diterjemahkan J.Sunarja, diadaptasi oleh Rachman Sabur dengan judul “Para Penjudi”, hadir dalam wujud drama teater kurang lebih satu setengah jam yang diselenggarakan di Student Center (SC) UKSW malam Rabu (23/10) kemarin oleh tiga kelompok teater fakultas yakni, Teater Kronis, Tilar, dan Jiwo yang tergabung dalam FTK (Forum Teater Kampus).

Suasana riuh penonton sudah menggaung sejak pukul 19.00 WIB meskipun acara molor sejam dari yang dijadwalkan, alih-alih SC malah dipenuhi oleh sivitas kampus UKSW dan kawan-kawan teater yang berasal dari luar UKSW.

Salah satu adegan dalam pementasan teater Para Penjudi oleh Forum Teater Kampus UKSW di Student Centre UKSW.

Salah satu adegan dalam pementasan teater Para Penjudi oleh Forum Teater Kampus UKSW di Student Centre UKSW.

.

“Saya sebenarnya cuma diminta teman-teman dari FTK untuk bantu produksi perdana FTK, mereka dari tiga sanggar yang ada di UKSW, punya keinginan menyatukan tiga sanggar tersebut melalui produksi drama teater,” tutur Great Erick Kaumbur selaku sutradara.

Great pribadi mempunyai beberapa siasat untuk membasmi ego para pemain yang berasal dari tiga kelompok teater (fakultas) yang berbeda di UKSW. Selain urusan ego, persiapan drama teater ini terbilang cukup singkat yakni hanya dua bulan saja.

“Satu bulan pertama itu naskah sudah dibagikan ke mereka, tapi belum dipatok siapa saja yang berperan sebagai tokoh-tokoh drama ini. Mereka biar baca dulu lalu saya rolling peran-perannya. Setelah satu bulan itu, barulah latihan, dan selalu ditekankan ke mereka agar sering kumpul per-plot,” terang Great ketika ditanya mengenai strategi dalam menyiasati keadaan yang serba terbatas pada masa pra-persiapan teater.

Great bercerita, alasannya melakukan rolling peran selama masa persiapan adalah supaya setiap pemain dapat merasakan susah senangnya mendapat peran yang besar maupun kecil. Dengan cara tersebut, ia meyakini, semakin hal tersebut dibiasakan maka rasa “merasa paling penting” dari pemain lain dapat luntur oleh waktu.

Setelah Produksi dan Beraksi, Lanjut Diskusi

Fase produksi adalah fase yang tidak boleh luput dari sorotan, sebab berhasil tidaknya sebuah pementasan juga bergantung pada kematangan produksi. Great mengungkapan bahwa fase produksi bukanlah fase main-main karena di dalam proses produksi terdapat beberapa hal penting seperti bedah naskah yang dilakukan antara orang-orang yang terlibat dalam produksi. Ia memberikan contoh; untuk persiapan manggung saja idealnya memerlukan waktu tiga hingga empat bulan agar persiapannya dapat dibilang matang benar.

“Kalau boleh jujur justru pemain-pemain drama juga malah merangkap menjadi tim produksi, mereka usaha cari dana mati-matian, jadi artistik, dan itu saya anggap bukanlah sebuah kelemahan tim kami. Hal tersebut malah saya anggap sebagai keuntungan karena mereka bisa mendapatkan banyak pengalaman diluar peran sebagai pemain dalam kurun waktu yang singkat ini,” tutur Great perihal plus-minus fase produksi mereka.

Gregorius Rastono Kusumandaru atau yang lebih akrab disapa Ndaru, berperan sebagai tokoh utama Juan Pedro turut mengungkapkan kesusahan semasa proses produksi. “Kesusahan secara personal sih masih susah untuk pendalaman peran, aku tidak punya cermin sebagai Juan Pedro,” jelas Ndaru ketika ditanya kesulitan utamanya dalam teater “Para Penjudi”.

Pentas drama boleh saja berakhir, namun panggung pertunjukan FTK masih berjalan. Setelah teater usai, acara langsung disambung dengan forum diskusi terbuka yang dimoderatori oleh Great. Siapa saja berhak memberikan komentar, kritik, evaluasi, maupun usulan-usulan seputar durasi pentas yang terlalu lama sehingga berisiko membosankan dan beberapa hal mendasar mengenai teknis drama teater, demi kelangsungan hidup yang semakin berkualitas bagi teater-teater di kampus UKSW (Wartawan magang: Arya Adikristya Nonoputra)

2 thoughts on “Di Balik Tirai ‘Para Penjudi’”

  1. andikabw says:

    Sukses terus ya buat FTK UKSW

  2. Gregorius R says:

    Tetap semangat buat FTK UKSW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *