UKSW Menginjak Tahun Keempat Aksi Penghijauan

Browse By

Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga memasuki tahun ke-empat dalam aksi kegiatan penanaman pohon. Kegiatan yang merupakan rangkaian dari kegiatan OMB (Orientasi Mahasiswa Baru) ini diikuti oleh 2.500 mahasiswa UKSW yang terdiri dari 1.000 mahasiswa baru (maba) dan 1.500 mahasiswa penerima beasiswa.

Kegiatan pengabdian masyarakat dalam wujud penghijauan ini diselenggarakan di area Kampus III UKSW, Blotongan hari Sabtu (16/11), dan dibuka dengan sambutan dari Rektor John A. Titaley tepat pukul 07.30 WIB.

“Dari kegiatan penghijauan ini kami ingin memberikan kontribusi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar lingkungan kampus baru. Ini juga merupakan nilai tambah bagi UKSW karena turut menambah penyediaan oksigen dan pelestarian lingkungan,” jelas Koordinator Pengabdian Masyarakat, Eranus Yoga Kundhani.

Sabtu (16/11) - Suasana penanaman pohon oleh peserta OMB 2013 di kampus 3 UKSW, Blotongan, Salatiga (Foto oleh: Jessica Moranggi Tobing).

Sabtu (16/11) – Suasana penanaman pohon oleh peserta OMB 2013 di kampus 3 UKSW, Blotongan, Salatiga (Foto oleh: Jessica Moranggi Tobing).

Untuk mendukung lancarnya kegiatan, pihak universitas telah menyediakan lebih dari 2.500 bibit pohon Jabon untuk ditanam di beberapa titik pada lahan kampus baru seluas 12 hektar. Eranus menambahkan, untuk kegiatan penghijauan ini ia berharap supaya ada kelanjutan dan terus dikembangkan sehingga tahun-tahun berikutnya tidak hanya kuota pohon saja yang bertambah, tapi jenis pohon yang ditanam juga harus lebih variatif.

Penerima Beasiswa Ikut Penghijauan

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pembantu Rektor III, Yafet Yosafat Wilben Rissy, sejak tahun 2010 hingga kini, UKSW telah berhasil menanam 10.000 pohon. “Tahun pertama dan kedua murni hanya diikuti mahasiswa baru, sedangkan tahun ketiga dan keempat ini dilibatkan juga mahasiswa penerima beasiswa,” tutur Yafet. Sayangnya, Yafet menambahkan, bahwa tidak semua mahasiswa penerima beasiswa di UKSW dapat dilibatkan penuh dalam aksi penghijauan dikarenakan kuota yang tidak mencukupi.

Keterlibatan para mahasiswa penerima beasiswa dalam kegiatan penghijauan merupakan perwujudan program “Bakti Beasiswa Satya Wacana”. Sebagaimana yang diterangkan oleh Yafet, bahwa program tersebut diadakan dalam rangka mengajak para mahasiswa penerima beasiswa untuk bertanggungjawab pada pengabdian masyarakat melalui aksi penghijauan. Setiap mahasiswa yang menanam bibit pohon juga harus bertanggungjawab akan pertumbuhan pohon tersebut. Satu bulan pertama, mahasiswa peserta penanaman pohon berkewajiban untuk melakukan kegiatan monitoring bibit pohon yang sudah ditanam.

“Sesuai dengan SPPM (Skenario Pola Pengembangan Mahasiswa) kita, salah satu kompetensi yang perlu dimiliki oleh para alumnus Satya Wacana adalah environmental awareness. Salah satu bentuk kesadaran yang paling nyata adalah dengan cara memelihara lingkungan hidup dan menanam pohon. Dan sejauh ini tingkat keberhasilan UKSW dalam penanaman pohon sudah mencapai 95 persen, saya kira itu cukup tinggi karena hanya 5 persen saja bibit-bibit pohon yang mati dan tidak tumbuh,” tegas Yafet.

Yafet menambahkan bahwa untuk kedepannya, pihak universitas juga memperkerjakan beberapa warga di sekitar kampung untuk melakukan pemeliharaan bibit-bibit pohon yang telah ditanam dan telah melalui tahap monitoring yang dilakukan oleh mahasiswa.

“Kalau ada pohon yang mati atau gagal tanam, teman-teman mahasiswa yang bersangkutan harus kembali lagi untuk menggantinya dengan bibit yang hidup,” kata Koordinator Pengabdian Masyarakat, Eranus Yoga Kundhani (Wartawan magang: Arya Adikristya Nonoputra).

2 thoughts on “UKSW Menginjak Tahun Keempat Aksi Penghijauan”

  1. yoyok says:

    tapi apakah benar akan ada proses monitoring?,,,,
    kalau perlu proses monitoring, jangan 1 bulan atau 2 bulan sekali….
    kalau bisa seminggu sekali, mengingat kondisi tanaman masih dalam bentuk bibit dan masih perlu perawatan yang intensif agar tidak mati….

  2. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Sore Mas Yoyok, sekadar memberi info bahwa berdasarkan data yang saya dapat, dalam satu bulan pertama terhitung sejak hari penanaman akan ada monitoring yang dilakoni mahasiswa yang bersangkutan. Bukan sebulan hanya monitoring sekali, tapi dalam sebulan akan ada monitoring, entah berapa kali, terserah mahasiswa yang bersangkutan.

    Tapi sampai sekarang teman-teman saya jarang ada yang melakukan monitoring, seperti habis tanam lalu tinggal. Saya jadi mempertanyakan tentang “environmental awareness” yang digadang-gadang sebagai profil lulusan UKSW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *