Zuly Qodir: Mahasiswa Perlu Kritisi Media

Browse By

Dalam rangka Dies Natalis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) ke-57, sosiolog Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Zuly Qodir berbicara mengenai buku “Media dan Pluralisme di Indonesia” di Balairung UKSW pada Senin (25/11).

Buku itu ia tulis bersama sejumlah dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi UKSW, Ester Krisnawati, S.Sos., M.I.Kom dan Sri Suwartiningsih, M.Si, serta Kandyawan WP, S.I.Kom, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang.

Para pembicara Seminar&Launching Buku "Media&Pluralisme di Indonesia": (kiri-kanan) Kandyawan WP, S.I.Kom, Dr. Zuly Qodir, dan Dr. Pamerdi Giri Wiloso, MSi (Foto oleh: Jessica Moranggi Tobing).

Para pembicara Seminar&Launching Buku “Media&Pluralisme di Indonesia”: (kiri-kanan) Kandyawan WP, S.I.Kom, Dr. Zuly Qodir, dan Dr. Pamerdi Giri Wiloso, MSi (Foto oleh: Jessica Moranggi Tobing).

Dalam acara Seminar dan Launching bukunya tersebut, Zuly mengatakan bahwa dibandingkan isu-isu lain yang diangkat, isu pluralisme di Indonesia sangat minim. “Ini terjadi karena mungkin media persepsinya adalah karena untuk membiayai dirinya jadi harus banyak iklan yang masuk, padahal isu pluralisme masih agak dihindari. Kenapa? Karena masih ada perdebatan tentang pluralisme itu sendiri,” ucap Zuly.

Menurutnya, isu pluralisme juga masih sangat sensitif. “Bahkan karena sensitifnya ada lembaga yang mengharamkan pluralisme, sehingga ada ketakutan juga pada media,” katanya.

Selain itu, media menurut Zuly, sekarang mulai menguasai ruang publik. “Media yang mengkontruksi ruang publik, bukan lagi manusia yang mengkonstruk tentang bagaimana media, tetapi manusia-manusia yang ada di dalam media. Publik diarahkan oleh media supaya menjadi seperti apa yang diinginkan oleh media,” katanya.

Ketika ditemui setelah acara dan ditanya pendapatnya soal Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), Zuly berpendapat bahwa LPM mampu menjadi alternatif di tengah maraknya pers-pers yang hanya membuat pencitraan publik, rebutan tentang ruang publik, rebutan iklan atau rebutan modal.

“Mahasiswa ‘kan gak perlu modal banyak dari iklan. Ia (LPM – red) ‘kan dapat modal dari universitas,” kata Zuly. Hal itu menurutnya bisa menjadikan LPM sebagai alternatif pendidikan politik dan pendidikan publik. “Minimal di dalam mahasiswa, kalau gak begitu, gagal mahasiswa,” katanya.

Ia menegaskan bagi mahasiswa, agar perlu memperhatikan media. Bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga dikritisi.

“Media selalu punya ideologi, didalam ideologi itu yang perlu kita kritisi banyak, sehingga jika kita membaca media, bukan sekedar membaca tapi ngerti apa yang menjadi pesan dalam media” ujar Zuly.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *