Hujan Itu Hidup

Browse By

Aku sangat menikmati pemandangan bocah-bocah yang bermain, berlari, dan menyatu bersama hujan.

Seolah mereka tak takut mati disambar petir atau terpeleset pada jajakan yang licin. Mereka berani.

Mereka mengisi tangannya dengan air yang mengguyur derasnya, lalu melemparkannya ke arah kawannya yang berada di seberang sana, demi menciptakan tawa. Mereka bahagia.

Satu bocah kulihat hanya berdiri sendiri dan menikmati tetes-tetes dingin yang menempa wajahnya. Ia dapat menikmatinya sendiri.

Sesekali diantara mereka ada yang terantuk batu tak terlihat karena genangan air. Ada yang hanya melempar rasa girang, ada juga yang penuh prihatin mengangkat kawannya yang tergeletak itu. Merekalah wajah kehidupan mula-mula.

Kening mengerut–Aku getol mencari satu yang hilang dalam hujan sore ini.

Ternyata aku sendiri.

Sudah cukup lama aku tak menyampaikan mimpi-mimpiku pada tetesan hujan yang deras.

Lama aku tak menumpahkan emosi yang tersumbat pada genangan air kotor.

Telah lama aku tak bersetubuh dengan hujan dan kini aku tak lagi mengenali siapa itu hujan.

Aku yang kini dengan sekuat tenaga menjaga kebahagiaan anak-anak yang dulu sempat mengisi hari-hari yang kini tiada arti, selain kenangan itu sendiri.

Mari rayakan kehidupan ini dengan berhujan-hujan!
(Wartawan magang: Arya Adikristya Nonoputra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *