Boleh Gerakan Jalanan, Asal Berintelek

Browse By

“Gerakan tidak selalu demo, mungkin ada gerakan alternatif yang mengarah pada pemecahan masalah yang lebih praktis,” tegas Maya Rahadian Septianingtyas, Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, ketika diwawancarai di Kantornya di Gedung Lembaga Kemahasiswaan Universitas (LKU).

Seperti yang sudah diberitakan Scientiarum.com, Senin (25/11/2013) lalu, UKSW menggelar forum diskusi “Gerakan Mahasiswa” di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Sulawesi Utara.

Diceritakan oleh Maya, dalam forum diskusi tersebut UKSW mencoba menawarkan gerakan mahasiswa dari berbagai pandangan, yakni gerakan mahasiswa jalanan dan intelektual. “Sebab, gerakan mahasiswa yang bersifat intelektual di Tomohon masih sangat jarang.” Maya menyebut mereka sebagai mahasiswa apatis.

Menurut Maya, jarangnya gerakan mahasiswa di Tomohon disebabkan karena tidak adanya kesetaraan kedudukan Lembaga Kemahasiswaan (LK) dengan rektorat di UKIT. Sehingga, hal tersebut yang memicu terjadinya gerakan-gerakan mahasiswa jalanan yang tidak mendasarkan pada intelektualitas dan moralitas.

“Ketika ada universitas yang merasa LK-nya tidak mendapatkan tempat, akhirnya gerakan jalanan menjadi solusi bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi,” terangnya.

Dalam diskusi tersebut, akhirnya mereka (peserta diskusi – red) bersinergis memperbaiki paradigma tentang gerakan mahasiswa jalanan. Yang mulanya berstereotip negatif menjadi positif dimana menurut Maya, gerakan tersebut perlu diiringi dengan intelektualitas yang tidak mengesampingkan moralitas.

“Boleh gerakan jalanan tetapi, kemudian mahasiswa juga harus mengimbangi dengan kompetensi intelektual, tidak meninggalkan dari sisi intelektualitas dan moralitasnya,” jelas Maya.

Selanjutnya, kepada mahasiswa UKSW, Maya ingin menegaskan soal prinsip yang dipegang ‘kampus Indonesia mini’ ini. Prinsip tersebut adalah kritis prinsipil, kreatif realistis non-konformis. “Boleh kritis tapi harus prinsipil, boleh kritis tapi non konformis. Selama ini mahasiswa punya gerakan jalanan, tapi tidak prinsipil,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *