Maya: “UKIT Belajar Banyak Dari UKSW”

Browse By

Rabu (4/12/2013), ditemui di kantornya di Gedung Lembaga Kemahasiswaan Universitas (LKU), Maya Rahadian Septianingtyas, Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menceritakan kegiatan forum diskusinya bersama perwakilan mahasiswa dari 40 universitas tentang “Gerakan Mahasiswa” di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Sulawesi Utara Tomohon pada Senin (25/11/2013) lalu.

Namun, Maya mengaku dalam forum tersebut hanya 8 universitas yang hadir dari 40 universitas yang diundang. “Itu tidak masalah lah, yang penting kita sudah mencoba mengundang mereka, dan mengajak berdiskusi dengan mereka,” ucap Maya.

Forum diskusi tersebut dipimpin oleh Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas (SMU) UKSW, Oscar Paulus Parlaungan Karwur yang didampingi oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UKIT, Boris.
Hadir pula memberikan sambutan, Wali Kota Tomohon, Jimmy F Eman SE.Ak serta Pembantu Rektor (PR) III UKIT Meidy Yafeth Tinangon, M.Si dan PR III Universitas Huria Kristen Batak Protestan Nomensen (UHN) Medan Sumatra Utara, Maringan Panjaitan.

“Mereka sangat apresiasi sekali, bahkan Pembantu Rektor III UKIT mengucapkan terima kasih kepada perhatian UKSW terhadap forum-forum diskusi di Tomohon yang masih kurang sekali,” cerita Maya.
Hubungan baik tersebut dibuktikan UKSW dengan adanya penyerahan secara simbolik berupa buku sejarah Lembaga Kemahasiswaan (LK) UKSW tentang Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa (KUKM) dan Skenario Pola Pembinaan Mahasiswa (SPPM) oleh UKSW kepada peserta forum.

“Mereka sangat excited (gembira – red) sekali. Bahkan teman-teman dari UHN Medan mengatakan, kami tidak punya buku semacam ini, yang memandu mahasiswa, bahkan kami tidak punya buku yang mengatur tentang ketentuan-ketentuan tentang gerakan atau arah aktivitas mahasiswa selama ini,” cerita Maya.

Hal tersebut diakui Maya terjadi karena mahasiswa di Tomohon dan Nomensen Medan masih apatis. “Gerakan mahasiswa yang bersifat intelektualitas di sana hampir tidak ada, sangat apatis sekali, berangkat hanya untuk kuliah saja. Itu realitasnya. Jadi ketika kami mengadakan forum di sana, mereka sangat excited sekali,” kata Maya.

Diceritakan oleh Maya, PR III Nomensen Medan sempat mengatakan bahwa LK di universitasnya dibekukan sehingga kegiatan mahasiswanya hanya berpusat pada PR III. Berbeda dengan LK UKSW, yang menurut Maya, telah mendapatkan tempat yang setara dengan rektorat.

“Sehingga ketika ada permasalahan dalam pengambilan keputusan bagi hajat orang banyak, LK tahu, mahasiswa tahu. Tentu akan berbeda dengan universitas lain, karena mereka tidak pernah diberikan kesempatan untuk duduk bersama dengan rektorat,” jelas Maya.

Oleh karena itu, Maya mengatakan bahwa PR III UKIT tertarik dengan dokumen-dokumen UKSW dan merasa perlu menerapkannya di UKIT. PR III UKIT juga berencana akan berkunjung ke UKSW untuk belajar tentang LK dari UKSW.

“Saya berharap itu menjadi titik awal yang baik, karena mereka bersedia membuka peluang bagi kita untuk bisa bekerja sama di arah Sulawesi Utara. Teman-teman UKIT justru belajar banyak dari UKSW.” Ucap Maya.

2 thoughts on “Maya: “UKIT Belajar Banyak Dari UKSW””

  1. Nur says:

    menurut hemat saya, excited di sini artinya adalah bergairah untuk mengikuti kongres ini.. bukan gembira, karena gembira berbeda arti dengan bergairah. gembira = happy, excited = bergairah.

    Mungkin bisa dijadikan koreksi.

    Terimakasih.

  2. ayu says:

    maap ya sebelumnya..,
    kalian salah wawancara orang krna yg ikut diskusi dari pertama sampai akhir itu dian (kabid 4) dan oscar (ketua SMU)..,
    yg seharusnya kalian wawancara itu mereka berdua.., makasi..,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *