Cinta yang Tanpa Pamrih

Browse By

Sekitar 500 warga Fakultas Teknologi dan Informasi (FTI) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, dan tamu-tamu undangan seperti Pembaktu Rektor (PR) III UKSW Arief Sadjiarto S.E M.Pd, para lansia dari Panti Wreda Mandiri dan anak-anak dari Sanggar Lentera Ilmu memenuhi Balairung Universitas (BU) untuk merayakan natal bersama dengan tema “Unconditional Love” yang dipimpin oleh liturgi Pdt. Esther Helena Tulung S.Th pada Kamis (5/12) pukul 16.00 WIB.

Christa Ningtyas Fallo, ketua panitia natal FTI 2013, menjelaskan alasan mengangkat tema tersebut karena menurutnya, saat ini banyak mahasiswa yang melakukan suatu kebaikan dikarenakan ada alasan tertentu. “Kami panitia natal ingin menyadarkan kepada para mahasiswa untuk benar-benar mencintai dengan tulus, seperti kasih Tuhan Yesus pada kita manusia. Maka dari itu kami mengangkatnya melalui tema natal tahun ini yang telah dijelaskan secara lengkap oleh bapak Iman tadi,” ujar Christa.

Acara yang dibagi menjadi dua sesi, yaitu ibadah natal dan hiburan natal ini, dimulai dengan liturgi dan pujian-pujian natal yang mengambil dari kidung jemaat. Seluruh pemusik dan pemimpin pujian pada malam itu merupakan mahasiswa-mahasiswi FTI. Terdapat pula beberapa penampilan, drama dari Theater Agape, paduan suara dari VOIT dan vocal grup dari Sanggar Lentera Ilmu. Sesudah ibadah natal, acara dilanjutkan dengan hiburan natal yang menampilkan break dance dari mahasiswa-mahasiswa FTI dan VOIT sembari disuguhkan makan malam bersama.

Dalam natal kali ini, Pdt. Iman Santoso S.Th sebagai pengkhotbah menjelaskan bahwa natal merupakan hari yang sangat istimewa, karena Allah yang maha kuasa mau turun ke dalam dunia dalam wujud bayi yang tidak berdaya. Dan Tuhan datang dengan cinta yang tanpa pamrih. “Kasih Allah bukanlah kasih ‘karena’, tapi kasih ‘walaupun’. Walaupun manusia berdosa, namun Tuhan tetap mencintai kita. Maka dari itu, kita harus menjadi manusia yang mencintai tanpa pamrih.

Perwujudan cinta tanpa pamrih ini dapat dilihat melalui sanggar Lentera Ilmu yang menjadi salah satu tamu undangan dalam ibadah natal ini. Christa mengatakan, sanggar ini yang didirikan oleh Pak Utoyo ini berisi anak-anak yang berasal dari lingkungan yang kurang mendukung, dan dititipkan oleh orang tua mereka untuk dirawat dan dijamin pendidikannya dan dberi pendidikan kesenian. “Pak Utoyo itu adalah seorang petani. Dan dalam membina anak-anak ini, bapak tidak meminta mereka membayar. Beliau contoh pemberi cinta yang tanpa pamrih.”

Persiapan mepet

Christa menyatakan cukup lega dengan jalannya acara tersebut, “Tolok ukurnya, ya, melihat penonton yang tidak pulang sebelum acara selesai. ”Walau persiapan hanya satu bulan, menurutnya acara berjalan lancar dengan koordinasi yang baik antara panitia dan pengisi acara. Bila kami diberi waktu 3 bulan seperti natal tahun lalu kami jamin, pasti bisa lebih baik,” tambahnya (Wartawan magang: Chikitta Carnelian).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *