Magisnya Wisata Alam Kali Pancur

Browse By

Untuk menempuh perjalanan pulang dari lokasi utama wisata alam Air Terjun Kali Pancur memang harus lebih semangat daripada ketika berangkat. Itulah yang kami alami, Kojago (Komunitas Jam Goblok) dan beberapa orang Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Scientiarum, saat menempuh perjalanan pulang hendak keluar dari lokasi utama wisata Kali Pancur. Tapi dibalik rasa lelah yang meringkuk karena harus mendaki 3.000 buah anak tangga, ada beberapa pengalaman kami yang tak kalah menariknya selama camping di Kali Pancur.

Kawasan wisata alam Air Terjun Kali Pancur berada di Desa Nogosaren, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Sabtu pagi (23/11) pukul 10.00 WIB, kami menempuh perjalanan sejauh 14 km dari Salatiga hingga ke lokasi Kali Pancur. Perjalanan kami tempuh selama 30 menit apabila menggunakan angkutan umum. Kami sengaja tidak membawa kendaraan pribadi, karena rencananya, tidak hanya Air Terjun Kali Pancur saja yang akan kami kunjungi. Kami berencana juga untuk bermalam di kawasan hutan pinus yang berlokasi di lereng Gunung Telomoyo, dekat Air Terjun Kali Pancur, yang menyajikan pemandangan langsung menghadap Rawa Pening.

Minggu (24/11) – Suasana pemandangan ke arah Rawa Pening dari atas tempat berkemah di wisata Air Terjun Kali Pancur di pagi hari (Foto oleh: Gusti Agung Mahendra).

Minggu (24/11) – Suasana pemandangan ke arah Rawa Pening dari atas tempat berkemah di wisata Air Terjun Kali Pancur di pagi hari (Foto oleh: Gusti Agung Mahendra).

Sekadar mengingatkan, bahwa tidak ada angkutan umum yang berdomisili melewati wisata alam Kali Pancur. Jadi jika mau lebih efektif, lebih baik menggunakan kendaraan pribadi atau mencarter kendaraan umum.

Tidak perlu membawa uang terlalu banyak untuk memasuki area wisata Kali Pancur. Cukup rogoh kocek Rp 2.500,00/orang, wisatawan dapat merasakan atmosfer serba hijau dan segar Kali Pancur.

Sepanjang jalan menuruni anak tangga, kami ditemani gemericik air dan sesekali kami temui alirannya yang melewati beberapa anak tangga. Jadi berhati-hatilah, apabila menjejaki tiap anak tangga tersebut. Yang membuat adrenalin kami semakin terpacu pada saat menuruni anak tangga adalah kondisi anak tangga yang terkikis oleh cuaca dan tidak terawat bahkan tidak sedikit anak tangga yang mulai hancur. Dengan demikian, fisik dan fokus yang optimal mutlak diperlukan bagi para wisatawan.

Setelah bersusah-payah menyusuri area anak tangga, kami masih harus mendaki dan menyebrangi aliran sungai kecil dari air terjun Kali Pancur untuk mencapai lokasi hutan pinus tempat kami akan bermalam. Sekadar mengingatkan lagi, sebelum melakukan kegiatan camping terlebih dahulu harus menginformasikan kepada warga setempat sebelum memasuki lokasi Kali Pancur.

Takjub akan panorama alam Kali Pancur jelas tak dapat kami hindarkan, apalagi setelah kami memasuki kawasan hutan yang didominasi vegetasi pinus. Udara segar, kabut melintasi pepohonan pinus yang hijau dan tinggi, suara-suara penghuni hutan yang tak dapat kami tebak dimana, dan masih dengan gemericik air terjun Kali Pancur, kami benar-benar terhipnotis dengan keelokan nuansa yang tidak mungkin kami dapatkan di kota.

Jumat (5/11) - Pemandangan hijau dan berpundak tangga, jalan yang dilewati untuk bisa mencapai Air Terjun Kali Pancur (Foto oleh: Gusti Agung Mahendra).

Jumat (5/11) – Pemandangan hijau dan berpundak tangga, jalan yang dilewati untuk bisa mencapai Air Terjun Kali Pancur (Foto oleh: Gusti Agung Mahendra).

Sabtu (6/11) – Pemandangan air terjun Kali Pancur yang menjadi objek utama dari tempat wisata ini (Foto oleh: Gusti Agung Mahendra).

Sabtu (6/11) – Pemandangan air terjun Kali Pancur yang menjadi objek utama dari tempat wisata ini (Foto oleh: Gusti Agung Mahendra).

Lokasi berkemah yang kami pilih langsung menghadap ke arah Rawa Pening. Menjelang senja, kami bergegas mendirikan tenda, menyiapkan barang-barang logistik dan perapian. Direkomendasikan juga untuk membawa barang-barang logisitik seperlunya saja, karena apabila terlalu berat hanya akan menambah beban ketika menempuh perjalanan pulang.

Kami sempat kesulitan menyalakan api karena angin yang cukup kencang dan kayu-kayu bakar yang basah karena guyuran gerimis di lokasi Kali Pancur. Berdasarkan pengalaman kami, suhu terdingin yang kami rasakan berada pada pukul 01.00-03.00 WIB, pun disertai kabut dan angin.

Selama berkemah di hutan, kami juga melakukan kegiatan utama yang telah kami rencanakan, yakni pelatihan simulasi outbond. Adapun simulasi ini kami lakukan tidak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Karena menurut pengamatan kami, kontur tanah hutan pinus ini cocok untuk kegiatan outbond.

Setelah puas refreshing, Minggu siang (24/11) tepat pukul 14.00 WIB kami memulai perjalanan pulang. Namun sebelum kami kembali menaiki satu per satu anak tangga menuju pintu keluar, kami singgah beberapa saat di air terjun Kali Pancur yang mempunyai ketinggian 100 meter hanya untuk sekadar mengisi botol persediaan minum dengan mata air yang mengalir, dan memunguti beberapa sampah yang tergeletak di sepanjang jalan yang kami lewati demi menjaga kelestarian alam Kali Pancur

(Wartawan magang: Arya Adikristya Nonoputra).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *