Hujan Bermata Dua

Browse By

Bulir-bulir hujan menempa raga dan semesta sekitar. Beberapa bulirnya ada yang mampu menembus kacamata dan masuk ke dalam mata. Tanpa berpikir panjang, kupinggirkan motor pinjaman kawan untuk mencari teduh yang melangka.

Kuamati tiap detil hujan pagi ini; jalanan yang basah, air mengalir ke dataran yang lebih rendah, air keruh menggenang, proses jatuhnya butiran air dari langit berkapas kusam, orang-orang melempar sauh mencari teduh, anak-anak berseragam sekolah kegirangan menikmati hujan, ocehan bernada kesal dari seseorang yang tak kukenal. Dan tak lupa, mataku sendiri yang memerah karena kemasukan air hujan.

Pedih. Kuusap beberapa kali lalu buah air mata mengalir cukup deras. Kuusap lagi untuk kedua kalinya. Kilau dalam mata. Kuamati lagi hujan ini, mencari detil-detil yang masih tersembunyi, yang belum mengungkap keberadaannya.

Ritme dan alunan gemericik hujan kecil ini menjadi nikmat yang kemudian dalam sepersekian detik menjelma menjadi hikmat.

Pemandangan detil-detil yang kutemukan mengabur dalam hitungan kerjap. Tiba-tiba aku seperti terlempar dalam ruang nostalgia beberapa waktu yang telah menghirap. Entah mengapa, pengap.

Air mata. Mata air. Mereka mengitari langit-langit ruang dimana nurani dan pikiran banyak meluangkan waktu untuk bercumbu. Mengapa sumbu mereka begitu penting untuk dinyalakan sepagi ini? Ternyata, gelap dan terang saling merindu.

Tanpa peluh, air mata hanyalah air mata. Tanpa peluh, mata air akan menjadi air mata. Tanpa peluh, aku akan mengeluh. Tidak lagi teduh.

Riuh orang-orang yang berteduh semakin menyalak. Tak kalah, hujan serta merta menjadi semakin galak. Terang matahari masih terhalangi, namun terang dalam nurani terbang bebas dan membanjiri dimensi pribadi. Setiap keberadaan detil hujan semakin jelas kekinian.

Air mata adalah gelap. Mata air adalah terang.

Gelap menggiringku menuju terang. Sesaat teringat akan perkataan salah seorang budayawan, “Jika kelak kau mati, tinggalkan mata air untuk kelangsungan hidup anak cucumu kelak, bukan hanya meninggalkan air mata” (Wartawan magang: Arya Adikristya Nonoputra).
Editor : Kumas Setyo Hadi Putri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *