Selamat (musim) Natal dan Selamat Menyambut (musim) Tahun Baru

Browse By

Setiap tahun saya pasti merayakan Natal bersama keluarga di Manado. Tema yang diangkat setiap tahun selalu berbeda, dari tema kesederhanaan hingga penantian. Perayaan Natal di tempat ini memang selalu meriah (walau Tahun Baru lebih meriah). Jika dipikir-pikir memang perayaan Natal dan Tahun Baru di Manado selalu identik dengan yang namanya pesta pora, hura-hura, dan tentu saja disertai dengan yang namanya pengeluaran skala besar.

Perayaan Natal di sini (Manado) selalu diawali dengan alunan musik Natal di jalan-jalan, di kampung-kampung, dan bahkan di mall-mall. Aroma kue kering yang menjadi keharusan dalam setiap perayaan Natal pun menyeruak, seakan-akan Manado sudah tidak butuh parfum karena seluruh Kota Manado berbau kue kering (Kukis Mentega).

Menjelang hari H (25 Desember dan 1 Januari) pasti di Kota Manado akan dipenuhi oleh sebagian besar pendatang dari kota-kota lainnya (Tomohon, Tondano, Bitung, Amurang, bahkan Kotamubagu). Para pedagang berbagai bahan-bahan persiapan Natal dan Tahun Baru, bagai mendapatkan Panen Raya menjelang hari H. Jalanan kota yang (memang) kecil menjadi padat, kendaraan merayap perlahan layaknya siput. Mall-mall dipenuhi oleh pengunjung, toko-toko pakaian mendulang lembaran uang, pernak-pernik Natal menjamur, binatang-binatang ternak meringis di tempat penjagalan.

Yang saya lihat selama dua minggu ini, ada dua hal yang tampak menarik dibalik semua kemeriahan di Manado. Hal menarik pertama adalah, semakin mendekati hari H, gereja-gereja makin sunyi. Mungkin kesibukan ibu-ibu serta anggota keluarga yang (seakan-akan diwajibkan) mengisi toples kukis mentega, mengakibatkan amnesia ringan untuk mempersiapkan iman dalam menyambut Natal.

Hal yang kedua adalah ketika mencoba masuk ke beberapa mall, ratusan orang bergerombol untuk masuk ke toko-toko pakaian dan pernak-pernik Natal. Mereka berjubel memilah dan memilih baju-baju baru. Ada yang saling berkompetisi, ada juga yang (mungkin) saling cakar, saling tarik, saling sikut, dan (mudah-mudahan tidak) saling jambak. Anak-anak ada yang terinjak (kakinya) hingga menangis, dan ibunya bukan menenangkan anaknya malah dimarahi bahkan dikatakan tidak hati-hati. Entahlah, sedikit bingung juga memikirkan siapa diantara kedua pihak ini yang tidak hati-hati.

Ada pula bonus lain dari toko buku yang saya dapatkan ketika sedang mencari novel. Ketika mall padat dan ribuan pengunjung saling berebut untuk mempersiapkan Natal, toko buku benar-benar sunyi. Kesunyian itu mungkin merupakan bentuk penghayatan sejati akan Natal yang sunyi senyap dan dunia terlelap. Hanya penjaga toko yang tinggalah terus, jaga buku yang tak tergerus (dinyanyikan dalam irama lagu malam kudus). Kesimpulan atas bonus tersebut adalah bahwa toko buku hanya akan ramai saat musim awal sekolah, atau musim setelah liburan. Akhirnya disaat musim-musim persiapan Natal ini tempat-tempat seperti itu seakan-akan tak terjamah.

Akhirnya mungkin harus diterima bahwa kesederhanaan akan penantian Natal di Kota Manado memang seperti ini. Bayangkan saja bentuk sederhananya seperti ini, sederhana bila warga Manado dan mungkin Sulawesi Utara membutuhkan sekitar 10.000 ekor babi untuk memenuhi kebutuhan Natal. Sederhana, karena warga Manado (hanya) membutuhkan sepasang baju baru untuk persiapan Natal dan sepasang lagi untuk Tahun Baru. Sederhana, karena warga Manado (hanya) butuh kukis kering dan bukan kue pelangi. Sederhana, hanya karena warga Manado dan sekitarnya menghabiskan beberapa Miliar untuk “membakar” langit Manado dengan kembang api disaat Tahun Baru.

Akhirnya di penghujung tulisan ini saya secara pribadi mengucapkan, “Selamat (musim) Natal dan Selamat Menyambut (musim) Tahun Baru.”

Editor: Kristy Leny Pratiwi

2 thoughts on “Selamat (musim) Natal dan Selamat Menyambut (musim) Tahun Baru”

  1. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Jadi kepingin sekali-sekali ke Manado.

  2. stefanie maria says:

    waaah mantaapp…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *