Pemilihan Dekan FISKOM

Browse By

Terhitung sejak 31 Desember 2013, masa jabatan Dr. Pamerdi Giri Wiloso sebagai Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial (FISKOM) akan segera berakhir. Seiring dengan lengsernya dekan lama, posisi dekan akan segera digantikan oleh Drs. Daru Purnomo M.Si. sebagai dekan terpilih untuk periode selanjutnya setelah menang suara voting 10 lawan 6 pada pemilihan dekan kemarin Jumat (20/12).

Pukul 08.30 WIB tepat, kegiatan pemilihan Dekan FISKOM diawali dengan sambutan dari Pamerdi selaku dekan lalu dilanjutkan dengan dua rangkaian acara, yakni: Pemaparan pokok pikiran dari para calon dekan sekaligus sesi dialog tanya-jawab dan proses pemilihan dekan.

Hampir seluruh durasi waktu pemilihan Dekan FISKOM dihabiskan di ruang Probowinoto lantai 5 gedung G, sedangkan sisa waktu proses pemilihan dekan bertempat di ruang Rapat kantor fakultas FISKOM.

Sepanjang kegiatan pemilihan dekan tersebut, sepenuhnya dipimpin oleh Satuan Tugas (Satgas) terpilih yakni Elly Esra Kudubun. Pemilihan dekan FISKOM Jumat lalu dapat dibilang bersifat forum terbuka karena jika ditilik dari kategori peserta yang hadir jauh lebih banyak ketimbang rapat pemilihan dekan FISKOM periode lalu, dimana menurut Elly masih bersifat tertutup dan tidak sembarang mahasiswa boleh masuk.

Kegiatan ini melibatkan dua calon dekan yang nantinya akan dipilih, masing-masing Ketua Program Studi (Kaprgodi) dari tiga Program Studi, para dosen fakultas, dua wakil mahasiswa yakni Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF) dan Senat Mahasiswa Fakultas (SMF), serta mahasiswa dan alumni yang turut berdatangan untuk berpartisipasi dalam acara tersebut.

Pemaparan Pokok-Pokok Pikiran Para Calon Dekan

Pemaparan visi misi dan program kerja para calon dekan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam banyak melahirkan konsep maupun ide-ide mengenai pengembangan fakultas ini kedepannya. Calon dekan pertama, Ir. Title R. Siahainenia. M.Si., atau yang lebih akrab disapa Om Roy, memaparkan pokok-pokok pikirannya mengenai pengembangan fakultas.

“Pikiran saya sangat sederhana, bagaimana menjadikan FISKOM yang komunikatif. Itu persoalan kita,” paparnya Jumat lalu di hadapan para hadirin. Roy menjelaskan bahwa hal pertama yang menjadi prioritas utamanya, apabila terpilih menjadi dekan sebagai upaya pengembangan fakultas adalah melirik kembali apa itu komunikasi.

Ia beranggapan bahwa seorang dekan haruslah sekaligus merangkap sebagai komunikator, dimana seorang komunikator adalah seseorang yang mampu mengkomunikasikan segala hal tentang apapun dalam rangka membentangkan sayap fakultas baik di aras universitas, nasional, mapun internasional.

Dalam rangka pengembangan fakultas, Roy memiliki beberapa program kerja seperti apresiasi karya akademik sebagai salah satu pilar pengembangan predikat fakultas dan menjadikan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran dimana mahasiswa adalah mitra belajar dosen dan kegiatan perkuliahan difokuskan pada penelitian dan pengabdian masyarakat.

Untuk menyokong program-program kerjanya Roy menetapkan untuk menggunakan sistem pembelajaran topikal, sebagaimana yang ia maksudkan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar di kelas, namun juga menjadi pengajar.

Berbekal dari Skenario Pola Pembinaan dan Pengembangan Mahasiswa (SPPM) 2012, Roy ingin memfokuskan FISKOM pada tiga kompetensi yang tercantum dalam SPPM 2012.

“Saya mengajak kepada LKF (Lembaga Kemahasiswaan Fakultas-red) hingga fakultas untuk berpikir tiga hal itu saja. Bagaimana mengembangkan leadership and managerial skills, social-entrepreneurship, dan yang ketiga international awarenes,” tegas Roy.

Menginjak pada poin terakhir yang hendak ia sampaikan ialah, berkenaan dengan menyelesaikan persoalan yang tertinggal. Persoalan tertinggal yang Roy maksudkan adalah pengaturan manajemen lembaga, perumusan kembali arah dan tujuan kerja dari tiga progdi, dan upaya penyediaan sarana prasarana dan membangun jejaring kerja sama dari pihak terkait lainnya.

Berbeda dengan apa yang dipaparkan Daru Purnomo, jika Roy sejak awal sudah memaparkan beberapa program kerja menjurus spesifik yang akan dijalankannya, Daru mengungkapkan bahwa ia hanya akan memaparkan segelintir pokok-pokok pikiran yang mendasari kepemimpinannya untuk 4 tahun mendatang.

“Dekan itu bukan segala-galanya, dekan tidak akan bisa kerja jika tidak ada tim-nya,” tutur Daru mengawali pemaparannya.

Daru beranggapan bahwa, untuk membentuk suatu rangkaian program kerja sebagai upaya pengembangan fakultas haruslah ada diskusi program kerja dengan para Kaprogdi, LKF, maupun staf fakultas yang bertugas. Hal ini ia tekankan karena menurutnya percuma apabila menggagas suatu program kerja namun tidak ada kesesuaian dengan kebutuhan dari para mahasiswa fakultas tersebut.

“Yang paling utama akan saya lakukan sebagai dekan nantinya adalah bagaimana saya mampu memberikan jaminan agar kegiatan akademik yang dilakukan oleh tiap program studi dapat berjalan lancar.” paparnya lanjut.
Adapun pokok-pokok pikiran yang Daru sampaikan di ruang Probowinoto lebih mengarah pada peningkatan mutu akademik dalam rangka menanggapi perubahan jaman yang selalu menuntut lebih dan lebih. Tak ketinggalan peningkatan pelayanan akademik baik dari dosen maupun staf kantor yang tentunya mendukung tercapainya peningkatan mutu akademik. Daru menempatkan dosen bukan sebagai ‘dewa’, demikian istilah yang ia gunakan, namun sebagai fasilitator atau pelayan untuk mendukung mahasiswa sebagai subjek pusat kegiatan proses belajar mengajar, seperti yang sudah diterangkan oleh Roy di atas.

Peningkatan kualitas sumber daya dosen dan staf juga masuk kedalam fokus utama Daru. Ia menerangkan bahwa ia juga memerlukan sinergi kerja dengan komponen-komponen yang ada di bawahnya, agar program-program kerja yang nanti akan dibentuk bersama LKF, dosen, dan staff, serta tiga pokok pikiran yang telah ia tentukan dapat tercapai.

Kegiatan pemaparan segera disambung dengan kegiatan dialog interaktif antara para calon dekan dengan para hadirin. Dengan dibukanya dialog tanya-jawab oleh Satgas, Elly Esra Kudubun, hanya ada dua pertanyaan yang terlontar dari para hadirin dan kegiatan tersebut berlangsung sekitar 30 menit.

Proses Pemilihan Dekan

Hasil pemilihan dekan FISKOM memang telah jatuh pada kemenangan suara Daru atas Roy. Perbandingan suara yang tertera pada hasil rapat pemilihan adalah 10 suara untuk Daru, 6 suara untuk Roy, dan 1 suara hangus karena seorang empunya hak suara tidak hadir pada rapat voting dekan.

 Suasana pengambilan voting dilakukan di ruang rapat. {Foto Oleh: Guntur Segara}

Suasana pengambilan voting dilakukan di ruang rapat. {Foto Oleh: Guntur Segara}

Namun sebelum rapat voting dekan yang bertempat di ruang rapat kantor FISKOM, dua perwakilan mahasiswa yakni Indah Puspitadewi selaku Ketua BPMF dan Ayu Christina, Ketua SMF. Mereka berdua diminta Satgas untuk memimpin musyawarah dalam lingkup mahasiswa dan alumni yang hadir.

Hasil musyawarah seluruh mahasiswa dan alumni yang hadir melahirkan konsensus bahwa Roy diangkat menjadi dekan FISKOM periode selanjutnya. Nantinya mufakat tersebut akan diangkat pada rapat pemilihan dekan bersama para dosen dan staf di ruang rapat melalui dua hak suara dari dua perwakilan mahasiswa.

Ada kejanggalan bahwa di dalam ruang rapat ternyata hasil musyawarah mahasiswa tidak mempunyai pengaruh banyak, karena pada akhirnya sistem yang digunakan untuk pemilihan dekan bukan melalui hasil musyawarah melainkan menggunakan sistem voting.

Hal yang janggal ini kemudian diperjelas oleh Elly sebagai pimpinan rapat pemilihan dekan.

“Sudah pasti, sudah jelas itu ada kubu terbagi dan tidak memungkinkan untuk musyawarah, jadi langsung masuk voting saja.” terang Elly.

Elly menambahkan bahwa apabila musyawarah diberlakukan dalam rapat itu, sudah jelas akan memakan waktu yang banyak untuk memperdebatkan banyak hal.

Pemilihan dekan FISKOM periode ini juga terbilang kurang tepat waktunya dikarenakan bertepatan dengan hari libur para mahasiswa, maka dari itu jumlah hadirin yang hadir pada forum terbuka tidak memenuhi seluruh isi ruangan Probowinoto.

Berdasarkan keterangan lanjut yang diberikan oleh Elly mengenai penempatan waktu yang kurang pas karena adanya kesalahpahaman antara dekan fakultas dengan Surat Keputusan (SK) Rektor yang menyebutkan bahwa, masa jabatan dekan FISKOM habis terhitung per 31 Desember 2013, sedangkan dekan fakultas mengira akan purna masa jabatan per akhir Januari 2014 mendatang.

“Jadi ini memang semuanya tergesa-gesa,” tutup Elly. (Wartawan Magang: Arya Adikristya Nonoputra)

Editor: Kristy Leny Pratiwi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *