Cukup Salatiga

Browse By

Habis kopi, terbitlah terang—sepasang mata tak lagi mengerang.
Siap begadang dan menulis hingga lewat terang.
Menyambut terang-terang baru di Salatiga.
Sebelum mengetuk tiap tuts pada badan laptop ini,
Aku membayangkan betapa beruntungnya aku dapat berada di sini.
Masih di Salatiga.

Orang-orang mulai terbangun,
Buyar fokusku, pecah dan tercecer di alun-alun.
Tetapi tetap ingin bertahan di Salatiga.
Orang-orangnya sibuk dengan urusan masing-masing.
Menyudutkan kenangan-kenangan lama pada ujung tebing.
Tebarkan dirimu dan buat cerita-cerita manis di Salatiga.

Namun Salatiga tak selalu cerah,
Awan dengan kelambu abu-abu pun terkadang bisa marah.
Tak apa, aku masih padamu Salatiga.
Hiruk pikuknya sangat jarang menyentuhku.
Aku betah, tahu?
Cukup Salatiga.

Wartawan Magang: Arya Adikristya Nonoputra
Editor: Dylan Pieter Leatemia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *