Seminar Internasional FISKOM: Wanita, Anak dan Kekerasan

Browse By

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Violence Againts Woman and Children” di Balairung Universitas (BU) pada Selasa (21/01).

Acara yang dimulai pukul 09.30 WIB ini menghadirkan dua narasumber, yakni Prof. Jay Carlye Wade, Ph.D, peneliti psikologi konseling dari Fordham University New York, Amerika Serikat dan Dr. Ir. Arianti Ina Restiani Hunga, M.Si, dosen dan sosiolog dari UKSW.

Sambutan Rektor UKSW Pdt. Prof. Drs. John A.Titaley Th.D menjadi pembuka acara seminar internasional yang pertama kali diadakan FISKOM. Dalam sambutanya, John mengatakan bahwa acara seminar ini berguna untuk mengembangkan riset di bidang gender.

Dekan FISKOM UKSW, Drs. Daru Purnomo, M.Si dalam sambutanya mengharapkan, hasil penelitian yang dilakukan oleh Jay dapat menjadi referensi mahasiswa yang melakukan riset di bidang kajian gender. “Semoga seminar ini dapat menginspirasi mahasiswa untuk melakukan kajian lanjut di bidang gender,“ ujarnya.

Steering Comitee (SC) dari seminar ini, Dear Silvia Carolina Manutede dan Siti Mukhayaroh mengatakan, tujuan diadakannnya seminar ini adalah FISKOM ingin mengangkat isu global tentang kekerasan terhadap wanita dan anak-anak. “Karena sebenarnya, kekerasan pada anak dan wanita ada disekitar kita, dan setiap tahunya jumlah kasusnya semakin meningkat. Ini menjadi suatu keprihatinan kita,” ujar Siti.

Silvia mengakui, salah satu tantangan dalam penyelenggaraan seminar internasional ini adalah waktu persiapan yang singkat, namun dia bersyukur karena acara yang diselenggarakan bisa berjalan lancar. “Kedepannya sih agar FISKOM bisa sering mengadakan seminar yang mebahas isu-isu global agar kita sebagai mahasiswa bisa lebih care terhadap masalah-masalah sosial di sekitar kita,” tuturnya.

Maskulinitas, Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan

Dalam seminarnya, Jay memaparkan hasil penelitiannya di bidang psikologi konseling yang terfokus pada maskulinitas. Menurutnya, maskulinitas merupakan sifat kepriaan alamiah yang dibawa pria sejak lahir, namun untuk menjadi sosok yang maskulin, manusia perlu berusaha untuk mencapainya.

Jay menemukan fakta bahwa maskulinitas pada zaman tradisional lebih baik dibandingkan zaman modern. Hal ini dikarenakan pada era tradisional, maskulinitas dijunjung tinggi oleh masyarakat yang menjadikan pria sebagai pemimpin dalam segala bidang. Disaat memasuki era modern, masyarakat mulai mengenal emansipasi kaum wanita, sehingga masyarakat mulai memandang wanita sebagai sebagai sosok pemimpin.

Ina mengatakan bahwa kekerasan yang dilakukan pria terhadap anak-anak setiap tahunnya cenderung meningkat. “Menurut data dari United Nation, lebih dari 140 juta wanita dan anak-anak di dunia mengalami kekerasan secara mental dan seksual oleh pria,” ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab masih maraknya kekerasan terhadap wanita dan anak-anak. “Sebagian kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak didominasi olehFaktor ekonomi, sosial kultural, dan mitos dalam masyarakat merupakan faktor dominan dalam masih tingginya angka kekerasan terhadap wanita dan anak-anak.” Tutur Ina.

Hendro Bram Merauje, salah satu peserta seminar kepada Scientiarum mengatakan bahwa seminar ini dapat membuka pengetahuan kita tentang peran gender yang saling menghargai agar kekerasan terhadap wanita dan anak-anak dapat dihentikan. “Seminar ini juga memberikan pengetahuan kepada saya, bagaimana seharusnya saya sebagai pria dalam hidup berkeluarga,” ujar mahasiswa FISKOM UKSW angkatan 2013 tersebut.

Senada dengan Hendro, salah satu peserta yang lain, Maria Delsa, mengatakan acara ini memberinya edukasi tentang pentingnya menghargai peran gender. “Semoga kita sebagai mayarakat, khusunya generasi muda dapat saling menghargai sesama kita sebagai manusia dan mencegah terjadinya kekerasan supaya kita bisa hidup dengan harmonis,” tutur mahasiswa FISKOM UKSW angkatan 2010 ini (Wartawan magang : Robertus Adi Nugroho).
Editor (Nova Christina Sihite)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *