Terkait Bencana Fukushima, Natsuko: Hentikan Proyek PLTN!

Browse By

Program Pascasarjana Studi Ilmu Pembangunan Universtas Kristen Satya Wacana Salatiga mengadakan kuliah tamu bertema Dampak Kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi dan Gerakan Anti Nuklir Jepang. Acara yang menghadirkan Natsuko Sueki sebagai pembicara ini dimulai pukul 13.00 di ruang G505 pada Kamis (28/2). Natsuko merupakan aktivis anti nuklir dari Universitas Seikei Jepang.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) saat ini digunakan oleh beberapa negara seperti Jepang, Amerika, Inggris, dan Perancis sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah karbon. Namun dibalik keuntungan yang didapat dari energi nuklir, banyak dampak negatif yang ditimbulkan.

Natsuko menjelaskan, di daerah Prefektur (Hampir sama seperti negara bagian) Fukushima terdapat sebuah PLTN bernama Fukushima Daichi. Saat bencana gempa dan Tsunami melanda daerah tersebut pada Maret 2011, PLTN Fukushima mengalami kebocoran pada keempat reaktor nuklir yang ada. Akibatnya, Prefektur Fukushima terkena radiasi yang melampaui batas normal.

Bila setiap tahunnya Prefektur Fukishima memiliki batas ambang normal radiasi pada angka 50 Milisevert (SV) per tahun, pada saat PLTN Fukushima Daichi mengalami kebocoran reaktor nuklir, tingkat radiasinya meningkat tajam menjadi 1800 SV dalam satu hari. Milisevert merupakan satuan paparan radioaktif pada benda cair.

Menurut Natsuko, kondisi ini menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan, seperti kanker, katarak, gangguan kehamilan, dan janin. Selain kesehatan, hasil bumi masyarakat Fukushima, yang meliputi ternak dan pertanian, menjadi tidak dapat dikonsumsi, karena terkena radiasi yang tinggi.

Sejak bencana PLTN Fukushima Daichi, Natsuko dan bersama beberapa kawannya membentuk gerakan anti nuklir di Jepang. Natsuko beralasan, PLTN saat ini sudah tidak bisa dianggap energi alternatif, karena mempunyai dampak negatif apabila terjadi bencana.

“Saya tidak ingin daerah-daerah lain di Jepang menjadi seperti Fukushima. Gerakan anti Nuklir Jepang akan terus mendesak pemerintah untuk menghentikan proyek PLTN ini, dan beralih ke energi alternatif yang lebih ramah lingkungan,” ujar Natsuko.

Phriscila Ayu Christina, salah satu peserta kuliah tamu mengungkapkan, dirinya memperoleh informasi tentang seluk beluk teknologi Nuklir setelah mengikuti kuliah tamu kali ini.

“Selain paham tentang seluk beluk teknologi nuklir, saya menjadi tahu tentang dampak negatif yang ditimbukan energi nuklir ini,” komentar Phriscila, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi.

Phriscila berharap, acara seperti ini dapat lebih sering diadakan karena bermanfaat bagi mahasiswa untuk belajar tentang ilmu pengetahuan.

“Mungkin acara seperti ini ke depannya bisa mengundang pembicara dari luar negeri lagi supaya lebih menarik,” tutup Phriscila (Wartawan magang: Robertus Adi Nugroho).
Editor: Nova Christine Sihite.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *