Berani atau Jujur

Browse By

Sore itu air hujan turun derasnya, untungnya aku sudah sampai di rumah makan ibu Hamid sebelum hujan lebih deras. Setibanya di tempat makan yang saat itu cukup sepi, aku langsung mencari meja kosong yang letaknya paling belakang di pojok ruangan. Tempat duduk itu adalah tempat kami. Sejak kami bersama, aku dan dia selalu duduk di tempat yang sama bila kami makan di rumah makan itu, tentunya bila tak ada pelanggan lain yang menempatinya. Sampai-sampai ibu pemilik rumah makan sudah mengenal kami dan tempat favorit itu.

Aku pun duduk di sana sambil menunggu kedatangannya. Untuk mengisi kebosananku selama menunggunya, seperti biasa, aku membaca novel yang aku pinjam di perpustakaan kampus.

“Mau pesan apa, non Fara? Masnya belum datang, ya?” sapa ibu pemilik rumah makan menyodorkan menu makanan, secarik kertas kecil, dan pulpen.

“Iya, bu. Nanti aja aku pesannya.”

“Iya, non. Kalau sudah mau pesan nanti langsung ke depan saja ya,” balas ibu Hamid dengan lembut.

“Iya, bu. Terima kasih.”

Setelah ibu Hamid meninggalkan meja, aku melanjutkan membaca novel pinjamanku.

10 menit kemudian, aku melihatnya berjalan ke arahku dengan jaket yang sangat basah karena hujan kian deras. Aku memperhatikan dia melepas jaketnya, lalu menggantungkannya di kursi dan kemudian duduk. Hanya menatapnya, aku tertawa.

“Kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang lucu? Kau belum pernah lihat orang yang kehujanan, ya?” tanyanya sambil mengelap kacamatanya yang kebasahan dengan sehelai tisu di atas meja.

Aku melihatnya sambil menutupi setengah wajahku dengan buku — hanya mataku yang terlihat. Aku tertawa kecil melihat gerakannya. Memang tidak ada yang lucu dengannya, namun saat menatapnya entah kenapa aku ingin sekali tertawa.

“Ada yang lucu dengan mukaku? Kenapa kau tertawa?” ia bertanya kembali sembari mengacak-acak rambutku yang berantakan.

“Tak ada yang lucu, mukamu biasa saja,” jawabku sambil memasukkan novel yang kubaca ke dalam tas.

“Dasar aneh, kalau tidak ada yang lucu, lalu kenapa kau tertawa?”

“Tidak tahu,” jawabku sambil mengangkat bahu. “Mungkin wajahmu memang terlihat aneh saat tidak memakai kacamata,” tawaku meledak di rumah makan itu, sampai-sampai ibu Hamid tersenyum melihat kami.

Untungnya tidak ada pelanggan lain di rumah makan itu selain kami, kalau ada, aku pasti malu setengah mati karena tertawa kencang.

“Dasar kau,” dia tertawa sambil mencubit lenganku cukup keras. Aku pun membalasnya.

Aku sudah mengenalnya cukup lama, namun kami baru bersama selama enam bulan. Meskipun kami bersama, kami tidak mempunyai suatu ikatan atau status resmi yang sering digunakan orang-orang selama ini, seperti pacaran atau in-relationship. Kami hanyalah teman dekat, cukup sampai di situ saja. Tapi kami nyaman dengan hubungan seperti ini.

“Kau sudah memesan makanan?” dia bertanya sambil membuka menu makanan.

“Belum, kau ingin makan apa?”

“Sepertinya, makanan biasanya saja”

“Ya, sudah kalau begitu pesankan untukku juga ditambah teh tawar hangat ya.”

“Oke.”

Makanan kesukaan kami di rumah makan ibu Hamid adalah nasi goreng ruwet. Rasanya biasa saja, tapi karena porsinya yang besar, membuat kami sering memuaskan perut di tempat ini.

Aku tidak tahu kenapa makanan menjadi salah satu alasan yang bisa mempertemukan kami. Sesibuk atau selelah apapun, saat salah satu dari kami mengajak makan, kami pasti bergegas angkat kaki. Sebenarnya kami memang jarang bersama, jadi mungkin momen ini adalah alasan terbaik untuk bisa bertemu.

“Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” tanyaku langsung setelah dia duduk.

“Memangnya apa yang ingin kutanyakan padamu?” jawabnya datar.

“Bukannya kemarin kau mengirimkan SMS padaku untuk bertemu karena ada hal penting yang ingin kau tanyakan?”

“Hal penting apa?”

“Astaga,” jawabku agak sebal.

“Seberapa percaya kau padaku?” ia akhirnya bertanya pelan dengan wajah menunduk.

“Aku percaya padamu, walaupun suatu saat nanti kau tidak percaya padaku, tapi aku akan terus berusaha untuk
percaya padamu,” jawabku tegas, “kenapa bertanya seperti itu?”

“Hanya ingin tahu saja. Aku ingin kau percaya padaku sekarang. Aku ingin kau memercayakan cerita-ceritamu padaku.”

Aku terdiam dan menutup mata untuk beberapa detik. Aku berusaha mencerna perkataannya.

“Kenapa kau takut kalau aku tidak percaya padamu?” aku balik menimpal.

“Karena sepertinya kau kurang percaya padaku.”

“Ku kira kita sudah lama saling mengenal, tapi ternyata tidak juga. Aku ingin kau tahu bahwa aku percaya padamu dan akan terus berusaha percaya padamu, dan aku ingin kau percaya akan perkataanku. Kalau aku tidak menceritakan semua ceritaku padamu, itu bukan karena aku tidak percaya padamu, tapi karena aku tidak tahu bagaimana cara menceritakannya.”

“Aku berharap kau bisa melupakan masa laluku dan bisa benar-benar menerimaku. Mungkin dulu aku pernah menyakitimu, aku berharap itu tidak memengaruhimu untuk percaya padaku.”

“Kenapa kita membicarakan hal ini? Oke, biar kutebak kau takut untuk kutolak, bukan?” candaku.

“Ya, betul sekali,” dia menjawab sambil mengacungkan kedua jempolnya.

“Permisi, mbak,” mas pelayan rumah makan membawakan pesanan kami.

“Terima kasih,” kataku sambil tersenyum.

“Sama-sama, mbak,” balasnya.

“Oke, kita kembali ke pembahasan tadi,” ucapnya menyadarkanku.

“Aku akan berusaha menjawab. Pertama, aku tidak peduli dengan masa lalumu. Yang kedua kau tidak pernah kutolak bahkan sebelum kita menjadi dekat. Yang terjadi malah kau yang menolakku,” jawabku sambil bergurau, “dan yang ketiga, aku ingin kau percaya padaku. Aku janji suatu saat kau akan tahu semua kisahku, tapi tunggu saja waktunya.”

“Baiklah, aku juga tidak ingin memaksamu. Maaf, kalau mungkin aku sering memaksamu.”

“Dan yang paling terakhir, kau boleh bercerita padaku tentang apapun yang aku pikirkan atau rasakan. Jangan malu padaku, anggap saja aku teman laki-laki yang sering kau ajak bicara, paham?”

“Paham. Sekarang kita makan dulu, ceritanya dilanjutkan kalau sudah selesai makan.”

Kami pun makan.

Sepanjang suap menghampiri mulut, aku memikirkan sesuatu tentang diriku sendiri. “Kenapa kau begitu sulit untuk mengatakan semua ceritamu?” tanyaku membatin. Mungkinkan aku kurang berani selama ini? Atau aku malu sehingga aku belum bisa jujur pada diriku sendiri dan orang lain tentang apa yang kurasakan dan kupikirkan? Apa yang terjadi padaku?

Aku sendiri tidak tahu apa jawabannya. Aku berharap orang yang kupercayai bisa membantuku untuk menemukan jawaban yang kucari.

 

***

 

“Besok sore ada waktu kosong gak? Makan yuk di bu Hamid, ada hal penting yang ingin kutanyakan”
Delivered. Tanda SMS-ku terkirim padanya.

“Apaan tuh, Don?” dia balik tanya.

“Besok aja baru kusampaikan langsung.”
Delivered

“Oke, see u,” balasnya.

 

***

 

Aku sudah mengenalnya selama beberapa tahun, tapi baru saja kami menjadi semakin dekat. Bagiku, dia sangat berbeda dengan perempuan lain yang pernah kukenal. Parasnya biasa saja, namun ada hal berbeda dari dirinya yang membuatku sangat tertarik padanya. Mungkin dengan sikapnya yang lugu, polos, dan sederhana.

Walaupun kami sudah lama berteman, aku merasa bahwa masih banyak hal yang dia sembunyikan padaku. Dulu, kami pernah berjanji untuk saling terbuka. Selama itu kami berusaha bicara blak-blakan. Tidak peduli apapun pikiran atau perasaan yang ada, kami berusaha menceritakannya.

Setiap kali kami bertemu, akan ada cerita baru. Entah itu pekerjaan, keluarga, orang lain, atau hal-hal menarik lainnya. Aku bercerita tentang apa yang kupikirkan dan kurasakan padanya, dan dia pun demikian.

Ada satu hal yang ingin kuketahui darinya, yaitu semua yang pernah dia alami. Aku ingin tahu semua cerita-ceritanya. Tapi sepertinya dia belum cukup memercayakannya padaku. Aku hanya ingin berbagi dengannya. Sudah banyak yang dia lakukan untuk orang lain dan sekarang aku ingin melakukan sesuatu untuknya: menjadi pendengar kisah-kisahnya. Aku tidak ingin dia menanggung bebannya sendiri, aku ingin menunjukkan bahwa aku selalu ada untuknya.

Sudah cukup lama dia berjuang seorang diri, dan sekarang aku tidak ingin dia merasa sendirian lagi. Terkadang aku menyesal dengan apa yang pernah kulakukan padanya dulu. Aku pernah meninggalkannya dan tidak ada untuknya di saat dia benar-benar memerlukan seseorang. Padahal dia sudah menjaga hatinya untukku selama beberapa tahun.

Aku bersyukur karena dia sudah berjuang untukku dan tetap menerimaku — sekarang aku ingin berjuang untuknya. Aku ingin memperbaiki kesalahanku. Mungkin tidak banyak yang bisa kulakukan untuk membantunya, tetapi aku berharap agar kehadiranku memberi arti lebih baginya. Aku ingin dia merasa dicintai.

Mungkin karena itulah dia sulit untuk memercayai orang. Ada tantangan besar untukku — membuatnya percaya padaku dan meyakinkan padanya bahwa dia bisa mengandalkanku. Aku ingin membuatnya sadar bahwa dia layak mendapat perhatian.

Entah apa yang terjadi pada diriku, kenapa aku bisa seberani ini? Aku tidak tahu apa jawabannya.

 

***

 

Hujan sangat deras, tapi tidak hanya itu, pekerjaan yang harus kuselesaikan juga sangat banyak. Tapi aku sudah berjanji padanya untuk bertemu. Aku tidak ingin membuatnya menunggu lama, tapi pekerjaan memaksaku untuk agak terlambat. Aku berharap dia bisa mengerti.

Dengan tubuh setengah basah kuyup, aku melihatnya duduk di meja itu. Meja favorit kami bila makan di rumah makan bu Hamid.

Dia menatapku sambil tertawa seakan-akan ada hal lucu di wajahku. Tapi itulah dirinya. Tawanya mengandung bermacam makna yang belum bisa kupahami. Saat dia senang maupun mengalami tekanan, dia selalu tertawa. Bahkan saat dia menangis, pasti juga akan tertawa. Terkadang kupikir bahwa dia menyembunyikan sesuatu dalam tawanya. Mungkin saja tawa itu hanya kamuflase.

Bila tawanya menyimpan kebohongan yang dia sembunyikan, bagaimana aku bisa tahu dia jujur dengan perasaannya? Apakah dia benar-benar bahagia atau tidak?

Aku telah lama mengenalnya, tapi aku merasa bahwa dirinya menyimpan banyak misteri yang terkadang membuatku sulit menerka siapa dirinya.

Dia menutupi wajahnya dengan buku, aku hanya dapat melihat matanya. Aku tahu dari mata itu bahwa dia sedang tertawa kecil melihatku. Dan dia tidak berhenti tertawa sampai aku duduk di kursi tepat di seberang matanya.

“Dasar aneh, kalau tidak ada yang lucu kenapa kau tertawa?” tanyaku.

“Tidak tahu,” jawabnya sambil mengangkat bahu. “Mungkin wajahmu memang terlihat aneh saat tidak memakai kacamata,” jawabnya sedikit bergurau.

Untungnya tidak ada pelanggan lain selain kami. Bila ada, mereka pasti berpikir kalau perempuan yang kusukai itu gila karena tertawa sendiri padahal tidak ada hal yang menarik untuk ditertawakan.

“Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” dia bertanya setelah memesan makanan.

“Memangnya apa yang ingin kutanyakan padamu?”

“Bukannya kemarin kau mengirimkan SMS padaku untuk bertemu karena ada hal penting yang ingin kau tanyakan?”

“Hal penting apa ya?”

“Astaga, baiklah kalau begitu,” jawabnya cuek.

“Seberapa percaya kau padaku?” tanyaku pelan.

“Aku percaya padamu, walaupun suatu saat nanti aku tidak percaya padaku, tapi aku akan terus berusaha untuk percaya padamu. Kenapa bertanya seperti itu?” ia bertanya balik.

“Hanya ingin tahu saja. Aku ingin kau percaya padaku sekarang. Aku ingin kau memercayakan cerita-ceritamu padaku.”

Dia terdiam untuk beberapa saat sambil mengalihkan pandangannya ke sudut lain di ruangan. Bila dia sedang melakukan hal ini, aku tahu bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.

“Kenapa kau takut kalau aku tidak percaya padamu?” ia bertanya lagi.

“Karena sepertinya kau kurang percaya padaku.”

“Kukira kita sudah lama saling mengenal, tapi ternyata tidak juga. Aku ingin kau tahu bahwa aku percaya padamu dan akan terus berusaha percaya padamu, dan aku ingin kau percaya degan apa yang kukatakan. Kalau aku tidak menceritakan semua ceritaku padamu, bukan karena aku tidak percaya padamu, tapi karena aku tidak tahu bagaimana cara menceritakannya.”

“Aku berharap kau bisa melupakan masa laluku dan bisa benar-benar menerimaku. Mungkin dulu aku pernah menyakitimu, aku berharap itu tidak memengaruhimu untuk percaya padaku.”

“Kenapa kita membicarakan hal ini? Baiklah, biar kutebak kau takut untuk kutolak, bukan?” candanya.

“Ya, betul sekali,” jawabku sambil mengajukan kedua jempolku.

Ya, memang benar. Aku takut dia akan menolak dan kemudian tidak memercayaiku. Aku takut bila dia jenuh denganku.

“Baiklah, aku akan berusaha menanggapi. Pertama, aku tidak peduli dengan masa lalumu. Yang kedua kau tidak pernah kutolak bahkan sebelum kita menjadi dekat, yang terjadi malah kau yang menolakku. Dan yang ketiga, aku ingin kau percaya padaku. Aku janji suatu saat kau akan tahu semua ceritaku, tapi tunggu saja waktunya.”

“Oke, aku juga tidak ingin memaksamu. Maaf, kalau mungkin aku sering memaksamu.”

“Dan yang paling terakhir, kau boleh bercerita padaku tentang apapun yang aku pikirkan atau rasakan. Jangan malu padaku, anggap saja aku teman laki-laki yang sering kau ajak bicara.” “Oke?”

“Baik, sekarang kita makan dulu, ceritanya dilanjutkan kalau sudah selesai makan,” ajakku.

Walaupun dia sudah berani menyatakan apa yang dia katakan, tapi apakah dia mengatakannya dengan jujur? Ah, aku sudah tidak peduli lagi dengan hal ini. Bila aku memintanya untuk percaya padaku, apapun itu, aku juga harus percaya perkataannya.

Grace Paramythia, mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *