Sisi Lain WikiLeaks

Browse By

The Fifth Estate

The Fifth Estate

Judul                : The Fifth Estate

Sutradara         : Bill Condon

Pemain             : Benedict Cumberbatch, Daniel Bruhl, David Thewlis, Laura Linney, Stanley Tucci

Durasi              : 128 menit

Rilis                 : 5 September 2013 (Festival Filem Internasional Toronto)

SEBELUM ANDA membaca ulasan saya, ijinkan saya membuat dua pengakuan mengapa saya meresensikan filem ini.

Yang pertama, saya mau menonton filem ini karena ada Benedict Cumberbatch. Saya benar-benar terpincut dengan aktingnya saat memerankan sosok detektif eksentrik asal Inggris, Sherlock Holmes di serial Sherlock (2010-2014). Ia begitu natural saat memerankan Sherlock yang jenius tapi anti-sosial.

Dalam filem ini, ia akan berperan sebagai Julian Assange, pendiri media WikiLeaks yang sempat menjadi buah bibir beberapa tahun silam. Saya pun jadi penasaran bagaimana aktingnya ketika memerankan sosok orang Australia yang membuat Amerika naik pitam.

Lalu pengakuan kedua: menurut informasi yang saya cek di internet, filem ini kebanjiran kritikan negatif ketika pertama kali dirilis di Festival Film Internasional Toronto 2013. Kritisi menganggap alur cerita filem ini terlalu datar. Lalu dinamika dan polemik yang terjadi antar tokoh tidak terlalu menarik dan kurang menggigit.

Hal inilah membuat saya tambah penasaran ingin menontonnya. Sebab jika ditilik dari ongkos produksinya, filem ini termasuk mewah.

Secara garis besar, filem yang digarap Bill Condon ini mengangkat kisah berdirinya WikiLeaks. Selama ini, kita hanya tahu bahwa Julian Assange adalah orang yang ada di baik layar Wikileaks. Tetapi ternyata, ada satu lagi yang membantunya, Daniel Domscheit-Berg (Daniel Bruhl), namanya. Ia seorang aktivis teknologi asal Jerman.

Mereka berdua bahu membahu membangun WikiLeaks, agar kebebasan informasi tidak lagi didominasi oleh kalangan kelas atas (kalangan berduit) tetapi juga bisa dinikmati seluruh kalangan.

Kolaborasi mereka membuat WikiLeaks makin besar dan terkenal: Berbagi informasi rahasia. Puncaknya adalah ketika dokumen-dokumen rahasia AS tentang perang Afganistan mereka dapatkan.

Isinya mengerikan. Sebanyak 90.000 dokumen perang mengungkapkan ratusan penduduk sipil yang meninggal dalam insiden yang tidak dilaporkan. Lebih dari itu, badan intelijen Pakistan menginisiasi akan melakukan pemberontakan.

Ketika Julian akan mempublikasikannya secara penuh, Daniel melarangnya. Perpecahan antar keduanya pun dimulai. Daniel menganggap idealisme Julian mengenai kebebasan informasi sudah melenceng. Jauh dari kata manusiawi. Pun juga dengan Julian. Ia menganggap Daniel mulai tidak realistis.

Keduanya mulai berseteru. Klimaksnya, Daniel pun menghapus seluruh data informasi lain yang hendak dipublikasi Julian.

Usai menonton filem ini, saya kira apa yang disampaikan kritisi itu ada benarnya juga. Saya merasakan dinamika dan polemik dalam filem ini terlalu tawar. Tidak ada kesan yang menarik. Bahkan beberapa kali saya sempat menguap saat menonton.

Selain itu, saya merasa penggambaran karakter Julian kurang mendalam dan dibuat tergesa-gesa. Maklum, kamera lebih banyak merekam aktivitas Daniel ketimbangJulian. Yang ada malah penokohannya jadi timpang.

Sekalipun kamera sedikit menyoroti sosok Julian, Cumberbatch memerankannya dengan ciamik. Dalam setiap adegan di mana Julian muncul, ia bisa memerankannya totalitas. Hingga karakter jenius yang idealis (mirip seperti Sherlock) dalam karakter Julian tampak hidup.

Namun jika boleh saya duga, ketimpangan ini terjadi disebabkan dari sumber yang dipakai Condon, yakni buku Daniel Domscheit-Berg, co-founder Wikileaks, Inside WikiLeaks: My Time with Julian Assange and the World’s Most Dangerous Website (2011) dan WikiLeaks: Inside Julian Assange’s War on Secrecy (2011) buah pena David Leigh dan Luke Harding. Kedua buku tersebut dijadikan acuan Condon dalam menggambarkan sosok Julian, sekaligus ruang kerja WikiLeaks.

Di sinilah letak kekeliruan Condon. Kedua buku itu, bukanlah data yang tepat guna menggambarkan sosok pendiri WikiLeaks tersebut. Kedua buku hanya memperlihatkan pendapat tentang sosok Julian saja. Jadi yang tertera dalam filem ini hanyalah Julian versi kedua buku tersebut. Bukan versi murni.

Apabila Condon memang ingin menggambarkan sosok Julian versi murni, sudah semestinya Condon bertemu langsung dengan Julian. Dari sana, ia baru bisa menggambarkan secara penuh tokoh utama WikiLeaks tersebut.

Lepas dari itu, beberapa komentar kritisi tentang filem ini juga banyak kelirunya. Tema penting atau esensi filem ini, saya kira, bukanlah polemik antar kedua tokohnya (Julian dan Daniel), tetapi bagaimana sosok Julian mendapatkan informasi rahasia.

Berdasarkan kedua buku tadi, Condon bermaksud menggambarkan metode yang dipakai Julian secara sederhana. Memakai beberapa alamat email palsu, Julian berhasil mendapatkan sekaligus meyakinkan para narasumber untuk mengisi website-nya dan menjadi “Whistle-blower” atau pengungkap aib.

Buat Condon, apa yang dilakukan Julian dan WikiLeaks-nya itu keliru dan ilegal. Pemakaian alamat email palsu dalam mendapatkan informasi, tidaklah memenuhi kaedah-kaedah jurnalistik. Hal ini coba diangkat olehnya agar masyarakat sadar bahwa metode yang digunakan WikiLeaks dalam memproduksi informasi itu salah.

Sayangnya, usaha Condon meleset. Masyarakat sekarang, tidak terlalu ambil peduli bagaimana cara media memproduksi informasinya. Sebab buat masyarakat, pemenuhan kebutuhan akan informasi ialah yang hakiki.

Apatisme masyarakat dalam mengamati proses produksi informasi di media inilah yang menjadi celah dalam kebebasan pers. Celah ini biasanya digunakan oleh orang-orang dari kelas ekonomi atas (utamanya para pemilik media) guna memelintir opini publik.

Namun usaha Condon lewat filem ini patutlah diapresiasi. Sebab dari sana, kita jadi sadar bahwa mindset atau logika pikir kebutuhan informasi di dalam masyarakat, ternyata direpresentasikan dalam logika pasar ekonomi moderen.Berwujud masyarakat yang lebih mementingkan hasil ketimbang proses produksi.

Dan cara terbaik guna memperbaiki paradigma tersebut bukanlah mengubah mindset-nya, tetapi memberi pengetahuan tentang literasi media pada masyarakat luas. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih kritis pada informasi yang mereka terima. (Editor: Arya Adikristya Nonoputra)

Erwin Santoso, mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2008. Sekalipun masih terjebak dalam status mahasiswa tingkat akhir di UKSW, ia kini bekerja sebagai penulis lepas di beberapa media lokal. Ia acapkali menulis mengenai filem, sastra dan budaya populer. Anda bisa mengikutinya di @dik_eL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *