Di Sebuah Persimpangan Jalan

Browse By

 

ilustrasi: Alodia Yap

Di sebuah Persimpangan jalan. Ilustrasi: Alodia Yap

LANGIT HARI ITU CERAH. Awan putih tampak menggantung. Sinar matahari juga tak terlalu menusuk kulit. Puluhan ribu orang asing terlihat berlalu lalang keluar lobi bandara Antonio Carlos Jobim. Ini membuat lalu lintas di depan bandara internasional mendadak padat merayap. Polisi lalu lintas terlihat siap berjaga.

Pemandangan semacam ini jarang sekali terjadi di kota Rio de Janeiro. Sebab, kota ini bukanlah kota wisata. Hanya ada beberapa objek wisata. Sekalipun masuk empat besar kota terbesar di dunia, kota ini juga tidak terlalu ramah seperti dibayangkan orang. Kejahatan para gangster dan preman acapkali menghiasi headline berita-berita di media massa. Semua ini mungkin gara-gara pesta besar yang besok akan digelar: Piala Dunia.

Di antara orang-orang asing itu, tampak seorang lelaki setengah baya baru saja keluar dari gate Eropa. Lelaki berkulit putih ini nampak dandy. Rambut yang disisir rapi dan agak klimis. Setelan pun cukup modis. Kaos putih polos yang disinergikannya dengan jeans coklat tua. Ia menenteng ransel sekaligus jaket yang warnanya sama dengan jeans-nya.

Sekalipun masih sedikit lelah, lelaki setengah baya itu masih mampu berjalan cepat ke arah lobi bandara. Setiba keluar dari lobi, ia langsung menebar pandang ke arah ke arah lalu lintas. Di sana tampak lautan turis yang sedang memanggil taksi. Ia tahu kalau hal ini pasti bakal terjadi. Oleh sebab itu, ia pergi berjalan menuju arah belokan. Di dekat ujung jalan tak jauh dari bandara ada halte, tempat ia bisa naik bis.

Ketika menuju ke arah halte, ia melihat kios. Di sana berjejer koran dan majalah. Ia mengambil beberapa koran dan segera menyerahkan 3 lembar 5 reals. Usai menerima beberapa uang kembalian, segera ia berlalu menuju Halte.

Dari kejauhan, ia melihat ada mini bis yang sedang berhenti. Ia melambaikan tangannya, tanda agar mini bis itu menunggunya. Untungnya sopir bis itu melihat ke arah spion, dan menunggunya. Segera saja, ia berlari sekencangnya agar mini bis itu tak terlalu lama menunggunya.

Sesudah menaiki mini bis, ia segera mencari tempat untuk duduk. Kebetulan ada satu tempat kosong di bagian belakang dekat jendela. Tepatnya berada di sebelah seorang Ibu tua yang sedang memeluk erat tasnya. Ia segera berjalan menuju ke arah belakang. Sebelum duduk, ia menaruh dan merapikan ranselnya di rak atas kursi penumpang.

“ah, untung saja bisa naik,” ujar lelaki itu sambil mengatur nafas. Ia mengambil botol air yang ada di dalam ranselnya dan segera menenggaknya hingga habis. Ia kembali mengatur nafas dan mulai membuka beberapa koran yang tadi ia beli.

Beberapa koran yang dibelinya punya headline yang sama: PERSIAPAN AKHIR PEMBUKAAN PIALA DUNIA DI MARACANA. Sebenarnya ini headline ini cukup membosankan. Ini membuatnya teringat pada tujuannya datang kembali kemari: bekerja.

Tak merasa nyaman dengan berita yang dibacanya, ia kembali menebar pandang ke arah luar jendela mini bis. Di sana terlihat jelas gedung gedung tinggi pencakar langit, mini-market, dan beberapa apartemen yang berjejer lurus. Ada pula rumah-rumah tua reyot yang masih ditinggali. Di baliknya itu semua, terpampang megah Cristo Redentor (Patung Kristus Penebus) yang letaknya ada di Corcovado.

Di sekitar trotoar, terlihat pula beberapa anak kecil sedang menendang bola. Beberapa ibu muda berlalu lalang menenteng belanja makan malam. Tak jarang pula, ada beberapa eksekutif muda yang sedang menenteng tas dan ponselnya. Pemandangan semacam ini sudah seringkali ia lihat dulu. “kota ini tak banyak berubah,”gumamnya.

Ia kembali melihat-lihat berita di koran yang digenggamnya. Tiba-tiba, mata terbelalak melihat sebuah berita. “Beberapa Demonstran Anti Piala Dunia Ditangkap”. Artikel itu menggelitiknya, hingga membuat dirinya meneruskan membaca. “Sebanyak 53 orang dibekuk polisi anti huru-hara dalam demonstrasi yang dilakukan di depan gedung parlemen Brazil. Mereka dibekuk karena melakukan aksi anarkis dengan membakar ban.”

Kabar kericuhan ini bukan lagi kabar baru untuknya. Sudah hampir setahun yang lalu, ia sudah mendengarnya. Beberapa media internasional mengabarkan bahwa masyarakat Brazil— terutama Favela, tanah kelahirannya—tak setuju dengan kebijakan pemerintah yang menggelontorkan dana besar-besaran untuk pagelaran event tersebut. Tetapi untuk secara jelas, ia tak tahu apa alasan kekontraan tersebut.

Tiba-tiba telepon genggam yang ada di saku celananya berdering kencang. Ibu-ibu tua yang duduk tertidur di sebelahnya terkaget mendengar deringnya yang kencang. Ia pun buru-buru menerima panggilan itu. Ibu-ibu tua itu mengumpat dan mencoba tidur kembali.

“Iya?” ujarnya sambil menutupi mulutnya dengan tangannya.

“Santiago? Kau sudah tiba?”kata suara lelaki di ujung telepon itu.

“Sudah, Roberto,”jawab Santiago.

“Lalu sekarang kamu ada di mana?”tanya Roberto lagi.

“aku sedang menuju rumahku. Ini aku berada di mini bus. Nanti aku telpon lagi,”sahut Santiago cepat.

“Baiklah, kabari aku kalau kamu sudah di rumah,”jawab Roberto.

Santiago, kemudian, memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku lagi. Ia terkejut bahwa Roberto, sahabat masa kecil—hingga kuliah, menghubunginya. Ternyata aktivis cum dokter bedah itu benar-benar memilih setia berada di Favela, pikirnya.

Kesetiaan Roberto pada tanah kelahirannya Ini membuatnya teringat pada sebuah kenangan yang memilukan: Roberto kehilangan adiknya yang sangat disayanginya.

***

Santiago ingat, kejadian itu terjadi 15 tahun silam. Tepatnya, beberapa hari menjelang Natal. Saat itu, dirinya dan Roberto berada dalam perjalanan pulang dari universitas Federal Rio De Janeiro. Mereka baru saja selesai berdiskusi dengan beberapa kawan tentang marxisme dan nazi di Jerman. Diskusi itu berjalan cukup seru. Bikin mereka sedikit lupa waktu.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba seorang tetangga Roberto datang menghadiri mereka dengan sebuah taksi. Tetangga Roberto itu mengatakan bahwa adiknya tertabrak mobil. “kondisi sedang kritis. Ayo cepat kita ke rumah sakit,”serunya.

Tanpa berpikir panjang, mereka berdua segera menuju rumah sakit, tempat di mana adik Roberto dirawat. Di rumah sakit kecil (atau lebih tepatnya disebut klinik?) Favela, mereka tiba. Di sana, Roberto langsung berlari kesetanan menuju unit gawat darurat. Tetapi para suster dan dokter yang sedang berjaga lainnya segera menahannya.

“Dilarang masuk! Dokter sedang melakukan pengobatan!”seru salah satu suster itu sembari menahan Roberto.

Santiago dan tetangganya segera menghampirinya dan mencoba menenangkannya. “Tenanglah, Roberto. Biarkan dokter mengoperasinya terlebih dulu,”kata Santiago.

Seketika Roberto lemas dan terduduk di lantai. Air matanya mulai mengalir. Ia dipapah oleh Santiago menuju tempat duduk terdekat.

Setelah mendudukkan Roberto, Santiago meminta tolong pada tetangga Roberto tadi untuk segera mengurus segala bentuk administrasi rumah sakit. Ia sendiri akan menjaga Roberto yang sedang kalut pada musibah yang menimpa adik satu-satunya itu. Roberto sendiri tampak sedang duduk gusar, menanti dokter keluar. Berkali-kali ia mamanjatkan doa “Bapa kami” dan “Salam Maria” untuk adiknya.

Beberapa jam kemudian, dokter yang mengoperasinya keluar. Ia berjalan dengan tegap menuju tempat duduk Santiago dan Roberto. Tapi wajah dokter itu dingin. Hampir tanpa ekspresi. Dari gerak-gerik tubuh sang dokter itu biasanya operasi yang dilakukan…

Tunggu, jangan pesimis terlebih dahulu. Bisa saja, asumsi ini keliru.

“Maaf, kami sudah berusaha dengan baik. Operasinya berjalan dengan lancar, tetapi sayangnya adik anda tidak bisa selamat. Ia kehilangan banyak darah ketika dibawa kemari,”kata dokter itu berusaha tidak menyakiti hati keluarga pasien.

Mendengar ucapan dokter itu, Roberto segera terduduk lemas. Tak ada sepatah kata pun bisa keluar dari mulutnya. Pelan-pelan air matanya yang tadi mengering, kembali membasah. Ia tak bisa percaya bahwa adik satu-satunya—sekaligus keluarga satu-satunya, pergi lebih lebih dulu darinya. “padahal ia masih berusia 13 tahun, kenapa dia mesti meninggal terlebih dahulu?”tanya Roberto.

Santiago hanya bisa diam ketika mendengar pertanyaan itu.

Sehari setelah adiknya meninggal, Roberto akhirnya tahu siapa yang menabrak adiknya. Ternyata pemilik mobil itu adalah anak seorang pejabat pemerintah. Ia terkenal sebagai anak yang ugal-ugalan. Sudah banyak kasus yang disebabkan olehnya. Mulai dari pemerkosaan, narkoba hingga mabuk-mabukan di jalan utama Rio de Janeiro.

Kecelakaan yang terjadi pada adik Roberto itu pun terjadi dikarenakan perilaku anak pejabat itu. Sayang polisi di Brazil tak pernah membekuknya. Sebab mereka tahu kekuatan yang ada di belakang anak itu: kekuasaan dan uang. Keduanya adalah sumber kekuatan mutlak yang ada di Rio de Janeiro.

Realita ini membuat Roberto berubah. Ia yang semula dikenal supel, berubah menjadi pendiam. Bahkan selama satu semester pasca kematian adiknya, ia tak berangkat ke kampus. Santiago berusaha membujuknya. Tetapi yang ada ia malah diusir dari rumah Roberto.

Pada semester berikutnya, Roberto akhirnya kembali. Wajah suram yang selalu dilihatnya ketika mengunjunginya di rumah, berubah menjadi selalu tersenyum. Rambutnya yang gondrong, dipangkas rapi. Ia tak lagi menutup diri akan kesedihan akan ketiadaan adiknya. Sebaliknya, ia mau berbagi akan kesedihannya tersebut.

Kembalinya Roberto ke bangku kuliah membuat Santiago merasa gembira. Tetapi Santiago merasa ada yang berbeda pada diri sahabatnya itu. Perbedaan yang ia rasakan, sekarang ini Roberto jadi jauh lebih rajin untuk datang berdiskusi. Dalam diskusi itu, ia kerap kali mengkritisi segala bentuk kebijakan pemerintah. Tak jarang, dalam diskusi itu, Roberto menyusun demonstrasi untuk melawan pihak pemerintah. Di sinilah, letak perubahan Roberto: Apabila ada rekan mahasiswa yang tidak setuju dengan pendapat Roberto, maka ia akan langsung membalasnya dengan argumen berbau ad hominem.

Ini jelas berbeda dengan bayangan Roberto yang dikenalnya. Roberto, kenangannya, sangatlah ramah. Ia selalu menghormati tiap perbedaan pendapat yang terjadi. Bahkan, ia tak pernah melakukan serangan se-frontal seperti itu.

Mungkin ini cuma perasaanku saja, pikir Santiago saat itu.

Hingga pada suatu pagi, Roberto datang ke rumah Santiago. Ia mengajak Santiago pergi ke makam adiknya. “aku ingin berkunjung ke makam adikku. Aku ingin menyebar bunga di atas makamnya,”ajak Roberto sambil memperlihatkan seikat bunga.

Santiago segera mengiyakan ajakan itu. Mereka berdua segera menuju makam adiknya.

Letaknya tak terlalu jauh. Mungkin sekitar 15 menit dari rumah Santiago. Di Favela ini, pemakaman begitu dekat. Maklum tiap harinya pasti saja ada orang yang meninggal. Penyebabnya pun bermacam-macam. Mulai dari kelaparan, pembunuhan, dan penyakit (Aids). Penyakit barusan wajar. Sebab, banyak muda-mudi, utamanya kaum hawa di sini, banyak terlibat prostitusi.

Sesampainya mereka di sana, Roberto segera menaruh bunga yang tadi dibawanya. Lalu, Ia melipat tangannya dan mulai berdoa. Usai melakukan ritual tersebut, Roberto mengajak pergi pulang. Dan selama perjalanan pulang, Roberto berbicara dengan sahabatnya itu.

“Apa kau tahu apa yang ada di dalam doaku?”

Santiago menggeleng.

“Aku berdoa, agar adikku merestuiku. Aku bergabung dengan para oposisi untuk berdemonstrasi melawan rezim Fernando Collor,”kata Roberto.

Sontak saja, kabar itu membuat Santiago terkejut. Sebab, perpolitikan tahun ini memang berat. Bahkan mungkin lebih berat dari rezim diktator militer yang pernah mereka alami ketika masih bocah.

Panasnya perpolitikan tahun ini, bermula ketika Collor, presiden terpilih setelah kudeta militer, membekukan tabungan masyarakat guna menghentikan hiperinflasi. Ini jelas menyengsarakan masyarakat Brazil, utamanya Faleva.

Bergabungnya Roberto dengan oposisi Collor ini juga memperkuat dugaannya: Roberto telah berubah.

***

Kenangan itu seketika buyar. Teleponnya kembali berbunyi. Namun kali ini bukan telepon, tapi sandek (pesan pendek). Dari layar teleponnya, terlihat nama Roberto. Santiago pun segera melihat isi pesannya.

“Aku tidak jadi berkunjung ke rumahmu. Agak berbahaya. Polisi sedang banyak melakukan pengamanan karena esok akan ada pembukaan Piala Dunia. Pergilah ke rumahku. Di sana, aku menunggumu bersama beberapa kawanku lainnya. Aku sudah siapkan makan malam dan bir dingin kesukaanmu.”

Usai membaca undangan dalam sandek itu, Santiago terdiam. Ia berpikir mencari maksud dari undangan Roberto ini.

“Ah, ya, sudahlah. Mungkin saja, ajakan Roberto ini punya maksud baik untuk memperbaiki hubungan persahabatan kami,” gumam Santiago.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Matahari yang cerah sudah mulai menghilang. Pekatnya malam membuat jalanan jadi sedikit tak terlihat. Memang, ada beberapa lampu sorot yang menerangi. Tetapi listrik di tempatnya tinggal tidaklah kuat.

Benar juga kata Roberto. Dari arah jalan, terlihat sekali banyak polisi berlalu lalang. Mereka tampak bersiap menjaga keamanan. Sejumlah orang yang dinilai dicurgai, segera ditangkap atau digeledah di tempat. Para pelacur yang biasanya menjajakan diri, juga ikut diamankan. Semua demi amannya event internasional yang akan digelar 8 jam lagi itu.

Santiago yang agak takut, langsung berjalan cepat setelah melihat inspeksi tersebut. Malang, seorang polisi mencegatnya. Ia segera dimintai kartu identitas. Dengan sedikit terburu, santiago segera mengeluarkan kartu identitasnya.

“Anda mau ke mana?”tanya polisi yang lebih muda 10 tahun darinya itu.

“ehm… ke rumah teman. Saya ada janji makan malam dengannya,”jawabnya gagap.

“bapak harusnya tidak keluar malam-malam seperti ini,”saran polisi. “keamanan sedang kacau. Takutnya kalau ada huru hara lagi malam ini. Maklum MTST bisa beraksi seenaknya sendiri,”

MTST yang dimaksud oleh polisi itu sendiri adalah Movimento dos Trabalhadores Sem Teto, atau gerakan buruh dan tuna wisma di Brazil. Gerakana ini paling sering melakukan aksi demonstrasi atas ketidakadilan yang terjadi pada kelas mereka.

“memangnya ada apa dengan mereka, pak?”tanya Santiago.

“Mereka adalah kelompok yang paling anti dengan piala dunia. Ada kabar rencananya hari ini mereka akan membuat huru-hara. Oleh sebab itu seluruh pihak kepolisian berjaga,”jawab Polisi itu sembari mengembalikan kartu identitas pada Santiago. “baiklah, silahkan bapak  pergi. Hati-hati di jalan. Tuhan berkati anda,”salam polisi itu.

Sembari memasukkan lagi identitasnya ke dalam dompet, Santiago kembali berjalan menuju rumah Roberto. Untungnya letaknya sudah tak terlalu jauh lagi, pikir Santiago.

Tak sampai 10 menit kemudian, Santiago tiba di depan sebuah rumah. Rumah itu mungil. Tapi cukup asri. Terlihat kebun yang rimbun dan hijau, bila matahari ada di atas kepala  Selain itu, tiang rumah yang berwarna putih itu, tampak segar dan cerah di malam buta.

Santiago mulai menaiki tangga yang terbuat dari kayu. Ia mengentuk pintu rumah itu.

Tak berapa lama, seorang lelaki setengah baya keluar. Ia tinggi dan sedikit kurus. Rambutnya hitam keriting. Di ujung rambutnya terlihat warna putih tanda usianya yang menua. Kumis dan jabangnya terlihat tak terlalu rapi. Malam itu, lelaki setengah baya itu tampak sopan. Memakai kemeja putih sekaligus celana kain hitam.

“Santiago. Selamat datang!” sambut lelaki itu sembari memeluk Santiago erat.

Santiago menerima pelukan hangat lelaki itu.

“Apa kabar… Roberto?” katanya pelan.

Seketika itu juga, Roberto segera meminta sahabat kecilnya itu masuk ke dalam rumah.

“pergilah ke ruang makan. Aku sedang menyiapkan Feijoada,” kata Roberto.

“Feijoada? Ah, sudah lama aku tak makan itu. Di Italia sangatlah jarang makanan yang berbahan utama kacang hitam itu,”sahut Santiago. Masakan khas Brazil ini memang jadi masakan favoritnya sejak kecil. Sayang, kedua orang tuanya tidak bisa membelikannya.

Santiago melangkah ke arah ruang makan. Di meja yang terbuat dari kayu itu, tersedia peralatan makan. Mulai dari sendok, garpu hingga piring. Lampu neon 5 watt ikut menerangi meja makan itu. Sorotnya terlihat menyinari beberapa pigura yang tergantung di dinding.

Pigura-pigura itu cukup menarik perhatian Santiago. Santiago mendekatinya. Terlihat jelas, Roberto sedang memakai jas putih khas dokter sedang berfoto dengan seorang tentara Irak. Mereka tampak dekat dan bersahabat.

“Nah, makanan sudah jadi.”seru Roberto dari arah belakang.

Santiago segera menyambut ajakan itu Roberto. Ia segera berjalan menuju kursi tempat mereka akan makan. Roberto sendiri sibuk membawa panci berisikan Feijoada. Aroma kacang hitam yang pekat menggugah rasa lapar Santiago.

“Kau pernah ke Irak?”tanya Santiago, membuka pembicaraan.

“Hahaha… itu sudah sangat lama. Sudah sekitar 10 tahun yang lalu. Saat itu aku bergabung dengan NGO. Dan aku dapat tugas untuk membantu para korban perang. Entah itu dari pihak Irak atau Amerika,” jelas Roberto sambil menyiapkan makanan.

“berapa lama kau di sana?”jawab Santiago ringan.

“Sekitar 2 tahun,”sahut Roberto.

Percakapan itu makin lama makin mendalam dan berat. Dimulai dari perpolitikan Amerika dengan Irak, lalu krisis ekonomi Uni Eropa (UE), terakhir mengenai konflik antara pemerintah dengan masyarakat Brazil: Piala Dunia.

“Konflik ini sebenarnya bermula karena pemerintah dengan egois menggelontorkan dana 11 miliar dolar hanya untuk membangun infrasturktur dan fasilitas piala dunia. Padahal bila dihitung-hitung, dana itu sanggup membiayai rekonstruksi sekolah-sekolah di sini,”jelas Roberto.

“Tetapi bukankah sebuah kebanggaan, apabila Brazil menyelenggarakan Piala dunia?”tanya Santiago.

“Bangga? Tidak. Lihatlah, anak-anak kecil di daerah kita. Mereka tiap harinya hanya bermain bola, berharap dan bermimpi menjadi pemain bola seperti Ronaldinho, Kaka atau Neymar. Padahal apa, sih, enaknya jadi pemain bola? Apakah menjadi pemain bola adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukan oleh orang-orang di Brazil?”debat Roberto.

“Bayangkan apabila mereka bersekolah! Mereka tidak akan punya hanya satu impian saja. Tetapi lebih. Jadi dokter, insinyur, atau seperti kau, jadi seorang wartawan. Dengan banyaknya opsi bidang pekerjaan, ini bisa membuat masyarakat Brazil tak lagi diremehkan,” tambah Roberto sembari mengambil sebungkus rokok. “negara ini tidak akan maju hanya karena sebuah bola!”tegasnya.

Apa yang dikatakan oleh Roberto memang benar. Sebuah negara tak hanya bisa maju karena satu cabang olah raga saja. Sekalipun orang-orang di dunia cukup mengakui Brazil adalah negara penuh talenta sepak bola, tetapi sedikit yang tahu bahwa alasan para pemain sepak bola itu memilih bekerja menjadi pemain sepak bola karena mereka ingin keluar dari kemiskinan.

Paradigma inilah yang tidak pernah disetujui oleh Roberto. Sebab, ia percaya bahwa masih ada jalan lain guna keluar dari kemiskinan.

“bagaimana kalau kita besok ikut demonstrasi?” tanya Roberto tiba-tiba.

Mendengar tawaran itu, sontak mata Santiago langsung terbelalak. “apa maksud perkataanmu itu?”tanya Santiago tergugup.

“Sebenarnya aku adalah salah satu orang yang menggerakan demonstrasi anti piala dunia selama ini,”jelas Roberto.

“Jangan-jangan kau ikut bergabung ke MTST juga?”

Roberto hanya mengangguk. Setelah itu Santiago langsung terdiam. Ia akhirnya sadar bahwa maksud dari ajakan makan malam ini adalah mengumpulkan massa guna melakukan demonstrasi. Makan malam tadi yang terasa lezat, kini agak sedikit hambar.

“Aku tunggu kamu esok di persimpangan jalan depan Arena Corinthians,”ujar Roberto.

***

13 Juni 2014. Jam menunjukkan pukul 12 siang. Ini berarti tinggal 2 jam lagi, pertandingan pembuka, Brazil lawan Kroasia dimulai. Jalan raya menuju Arena Corinthians, Sao Paolo padat. Ibarat semut yang sedang berebut gula, banyak kendaraan berusaha saling selip menuju ke arah stadion yang dipunyai salah satu klub sepak bola terkaya di Brazil, Corinthians.

Dalam salah satu jejeran kendaraan, Santiago tampak terlihat gusar di dalam taksi yang ditumpanginya. Wajahnya tak terlalu segar, karena kurang tidur. Di bawah matanya, terlihat jelas kantung mata hitam yang menggantung. Rambutnya tak terlalu rapi siang itu. Dan sesekali, ia menguap cukup lebar.

Santiago sendiri terlambat bangun pagi ini. Semula rencananya ia akan berangkat jam 7 pagi ke Sao Paolo. Tetapi ia terlambat hampir 1 jam lebih. Tak ayal, ia terpaksa buru-buru mandi dan segera berangkat menuju Sao Paolo menggunakan kereta api.

Keterlambatan Santiago ini tak wajar. Santiago, di kantor medianya, sangat terkenal sebagai orang yang tepat waktu. Bahkan, ia mendapat julukan Mr. on time oleh kawan-kawannya.

Mungkin penyebab utama keterlambatan ini adalah larutnya ia pulang dari acara makan malam dengan Roberto. Ia berusaha mengingat-ingat, jam berapa ia pulang ke rumah malam tadi.

Hhmm…Sekitar pukul 2 pagi, batinnya. Tetapi semakin ia mencoba mengingat, kepalanya jadi tambah pusing. Akhirnya, ia bertanya pada supir taksi untuk menanyakan berapa lama lagi perjalanan menuju stadion Arena Corinthians. Sebab, ia ingin cepat sekali sampai ke stadion dan beristirahat sebentar di ruang pers stadion.

“masih lama, pak?”tanya Santiago pada supir taksi.

“Sebenarnya tidak. Tinggal 3 blok lagi, kita bisa sampai ke stadion. Tetapi lihatlah mobil-mobil di depan tidak bergerak sama sekali,” jelas supir taksi itu sebal dan kembali mengklakson mobil di depannya.

3 blok lagi? Sudah cukup dekat, pikir Santiago. “Pak, saya turun di sini saja. Saya mau jalan kaki saja ke sana,”kata Santiago sembari menyerahkan uang.

Ketika Santiago keluar dari taksi, terlihat kemacetan yang terjadi sangatlah parah. Puluhan.. ah, tidak. Ratusan kendaraan berhenti memanjang seperti ular. Semuanya tampak saling mengklakson dan berebut untuk segera sampai tujuan. Para polisi lalu lintas agak sedikit kelabakan mengatur ratusan kendaraan tersebut.

Santiago segera berjalan menepi ke trotoar jalan. Di sekelilingnya, tampak banyak sekali orang berjalan menuju ke arah stadion.

Mereka memakai atribut yang seragam: baju tim nasional Brazil. Atribut tambahannya pun variatif. Ada yang memegangi bendera Brazil. Ada pula yang membawa terompet. Bahkan beberapa wanita muda berambut pirang dan berwajah latin, tampak terlihat sibuk menggambari pipi mereka yang mulus dengan cat warna hijau-kuning. Semuanya ini menunjukkan animo yang besar untuk mendukung kemenangan Brazil hari itu.

Santiago berjalan cepat menghindari kerumunan itu. Ia segera berjalan menyusuri jalan setapak. Beberapa kali ia mengambil botol minumnya. Ia minum agar kerongkongannya yang kering menghilang. Teriknya hari itu memang membuat keringatnya bercucuran. Wajahnya juga masih tampak terlihat lelah.

Namun dibalik kelelehan dan panasnya hari itu, ada gelisah yang menyelinap dalam pikirannya. Kegelisahan itu sebenarnya sudah muncul sejak keberangkatannya tadi. Tetapi karena keterlambatannya, ia jadi sedikit lupa. Sayangnya, kini kegelisahan ini muncul lagi. Dan kali ini lebih kuat daripada yang tadi.

Sumber kegelisahan Santiago sendiri adalah ajakan dari Roberto semalam: ajakan untuk memberontak dan berdemonstrasi pada pemerintah agar menghentikan piala dunia. Ajakan itu masih saja terngiang dalam telinganya. Padahal semalam, ia sudah menolak ajakan dari Roberto itu. Tetapi yang ada, Roberto malah murka karena penolakannya itu.

“ke mana nasionalisme yang dulu itu? Dan apakah kamu membiarkan anak-anak kecil di daerah kita itu terus kelaparan dan tidak bersekolah?”hardik Roberto geram.

“aku kembali ke Brazil bukan untuk berdemo, Roberto. Aku ke sini untuk meliput pertandingan pembukaan. Ini adalah tanggung jawabku sebagai pers,”

“Ah, bilang saja kau takut tidak mendapatkan gaji karena tak mendapatkan hasil liputan. Dasar antek kapitalis,”sergah Roberto tajam.

Tudingan itu membuat Santiago naik pitam. Segera saja, ia bangkit dari kursinya dan memutuskan pulang. Ketika melangkah keluar dari ruangan, langkah Santiago berat dan kepalanya pusing. Semua ini disebabkan efek vodka dingin yang disuguhkan Roberto. Tetapi ia melanjutkan langkahnya untuk segera pulang.

Pertengkaran semacam ini memang sudah acapkali terjadi. Bahkan gara-gara ini, ia sedikit menjauh dari Roberto. Santiago tentunya masih ingat salah satu peristiwa yang membuat hubungan persahabatannya dengan Roberto kandas.

***

Saat itu tahun 1991. Tahun yang cukup berat untuk rakyat Brazil. Di tahun tersebut, rakyat Brazil menderita kelaparan dan kekurangan gizi. Bencana kelaparan dan kekurangan gizi ini bukan disebabkan karena alam, tetapi karena rezim pemerintah Fernando Collor.

Fernando Collor yang membuat kebijakan untuk membekukan uang-uang rakyat di bank nasional Brazil. Alasannya, uang-uang rakyat itu digunakan untuk menghentikan hiperinflasi yang terjadi dalam perekonomian Brazil.

Sayangnya, banyak masyarakat tidak percaya dengan kebijakan tersebut. Beberapa kelompok, utamanya para mahasiswa mulai membuat aksi demonstrasi untuk menurunkan Collor dari kedudukannya.

Santiago dan Roberto turut andil ke dalam aksi tersebut. Roberto sangat dikenal karena ia berani turun ke garis depan dan bentrok dengan polisi huru-hara. Lalu Santiago yang ikut dalam pers mahasiswa sangat getol membuat tulisan-tulisan yang analitis dan provokatif. Kolaborasi keduanya membuat mereka  dikenal sebagai simbol aktivis mahasiswa Brazil era 90an.

Hingga pada suatu hari, mereka berdua bertemu untuk berdiskusi aksi massa selanjutnya. Roberto mencetuskan sebuah ide gila untuk menyandera beberapa pejabat.

“Memangnya apa yang akan kau lakukan kepada mereka, Roberto?”tanya Santiago setengah terkejut mendengar ide tersebut.

“Ya, kita pukuli. Sama seperti layaknya para aparat memukuli kawan-kawan kita dulu,”jawab Roberto bangga.

“Memangnya siapa yang akan kau culik?”tanya Santiago balik.

“Antonio”

Mendengar jawaban itu, Santiago tambah terkejut. Ia tidak habis pikir bahwa Roberto akan mengincar Antonio Hongo. Dia adalah pajabat rakyat saat itu. Ia cukup kontroversial, sebab banyak keputusannya yang hanya menguntungkan pihak pemerintah ketimbang rakyat. Dia jugalah Ayah dari anak yang menabrak adik Roberto.

“Aku tidak setuju bila kau melakukan penculikan tersebut. Kita ini aktivis. Bergerak atas dasar moralitas. Jika kamu melakukan hal itu, apa bedanya kamu dengan mereka?”tanya

“Tetapi pejabat korup semacam dia, apa pantas menjadi seorang pejabat? Apalagi kalau boleh dibilang dia adalah salah satu kunci dari pemerintahannya Collor,”kata Roberto.

“Bilang saja,kalau kau ingin balas dendam atas kematian adikmu,”potong Santiago.

Roberto diam.

“Kalau kamu masih nekat dengan ide itu, silahkan saja. Tetapi aku tidak setuju. Maaf aku harus pergi,”ujar Santiago.

Beberapa hari kemudian, ketika sarapan pagi sebelum berangkat ke kampus, Santiago terkejut ketika membaca koran paginya. Di sana, ia mendapati bahwa rumah Antonio hampir diculik oleh sekelompok orang tak dikenal. Orang-orang ini sekarang diproses di kepolisian.

Tanpa menyelesaikan sarapannya, Ia buru-buru pergi ke luar rumah. Ia segera menuju kepolisian. Selama perjalanan, ia terus berdoa bahwa orang-orang itu bukanlah Roberto.

Sayang, doa itu tak didengar oleh Tuhan.

Ketika sampai di kepolisian, ia mendapati Roberto sedang diproses dan diinterogasi. Lewat salah satu koleganya di kepolisian, ia berhasil mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Roberto.

“Kenapa kamu melakukan ini? Sudah aku bilang jangan, tetapi kenapa kamu mesti nekat?”tanya Santiago.

Roberto diam.

“Mulai saat ini, aku tidak bisa lagi berteman denganmu Roberto. Aku membantumu ikut berjuang melawan rezim ini karena memang rakyat butuh. Tetapi caramu salah. Mengungkap kebenaran itu penting, akan tetapi bagaimana cara mengungkapnya juga tak kalah penting!”ujar Santiago sembari pergi meninggalkan sahabatnya itu.

***

Source: The Guardian

Graffiti ini dibuat oleh Paulo Ito, seorang seniman jalanan di Brazil. Judulnya: Seorang anak yang kelaparan, tetapi tidak ada yang bisa dimakan kecuali bola. Sumber: The Guardian

Usai mengenang kenangan itu, tak terasa Santiago tiba di persimpangan jalan depan stadion Arena Corinthians. Stadion itu menjulang seperti raksasa dan megah. Rekonstruksi yang dilakukan pemerintah pada salah satu dari 12 stadion tampaknya sukses.

Retakan-retakan di dinding sudah dibeton ulang. Cat-cat pada tembok stadion yang dulunya luntur, kini sudah direnovasi ulang. Tiang-tiang penyangga juga dipugar. Beberapa fasilitas juga ikut diperbaiki.

Sayup-sayup, dari dalam stadion berkapasitas 66ribu orang itu, terdengar riuh suara para penonton. Antusiasme mereka kelihatannya meninggi menyambut partai pembuka Piala Dunia. Di sinilah kegelisahan Santiago mencapai puncaknya.

Di sana, ia melihat di sisi sebelah kanan terlihat pintu masuk ke arah stadion. Dan di sisi sebaliknya, ia melihat beberapa aparat keamanan sedang berjaga. Dari arah itulah demonstrasi akan terjadi nanti.

Ketika kegelisahannya makin memuncak, tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Di layar telepon genggamnya ada nama “Angela”. Angela adalah anak semata wayang dari perkawinannya yang hancur. Buru-buru ia segera mengangkat telepon itu.

“Halo, sayang.“

“Papa.. sudahkah ada di Brazil?”

“Oh, di sini aman, kok. Ini Papa sudah ada di depan stadion. Maaf baru kasih kabar. Kemarin Papa lagi sibuk sekali. Papa ini baru saja datang ke stadion. Kamu sudah minum obat? Bagaimana keadaanmu? Apakah suster merawatmu dengan baik?,”ujar Santiago.

“Sudah, Pa,”jawab Angela.

“Lalu sekarang kamu sedang apa?”tanya Santiago.

“Sedang nonton pesta pembukaan Piala Dunia, Pa,”

“Ya sudah, Papa  masuk dulu ya? Nanti kalau sudah selesai Papa akan telepon kamu lagi.”ujar Santiago.

Setelah menerima telepon itu, Santiago menuju sisi kanan jalan, tempat pintu masuk berada. Bayangannya hilang bersama riuhnya sorak-sorai penonton.

Erwin Santoso, penulis lepas asal Madiun. Ia kini masih terjebak sebagai mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi UKSW. Lalu untuk gambar ilustrasi di atas dibuat oleh Alodia Yap, seniman muda dan berbakat asal Salatiga. Ia adalah mahasiswa FTI angkatan 2013. Silahkan ikuti kicauan mereka di @dik_eL dan @alodiaYAP

2 thoughts on “Di Sebuah Persimpangan Jalan”

  1. Bima Satria Putra says:

    ini cerpen atau cerpan?
    saya baru membaca paragraf pertama, dan sudah malas melanjutkan.

    1. Erwin Santoso says:

      Halo Bima. Terima kasih sudah berkomentar. Ijinkan saya sebagai penulisnya menjawab.

      ini cerpen atau cerpan?

      Saya tetap bilang karya ini adalah sebuah cerpen. Sebab yang namanya cerpen, untuk saya, hanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot (maju, mundur atau campuran), setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat. Selain itu, masih dalam pemahaman saya tentang Cerpen, konten ceritanya sendiri cenderung kurang kompleks bila dibandingkan dengan novel.

      Memang cerpen saya ini menghabiskan banyak sekali halaman MS Word saya. Tetapi saya biarkan saja mengalir waktu menulisnya, sebab bila saya cut atau pangkas. Ceritanya, saya kira akan menggantung. Lagipula, saya kira saya tidak melanggar kaedah jumlah kata maksimal dalam pembuatan cerpen.

      Tetapi apakah Bima punya pendapat lain?

      saya baru membaca paragraf pertama, dan sudah malas melanjutkan..

      Memangnya ada apa dengan paragraf pertamanya, Bima? Apa yang bikin kamu malas melanjutkan? Bisakah kamu memberikan ulasannya, biar saya yang penulis awam ini bisa belajar dari kamu? Nah, biar lebih jelas saya kutipkan saja ya? Dan silahkan diulas di komentar selanjutnya.

      LANGIT HARI ITU CERAH. Awan putih tampak menggantung. Sinar matahari juga tak terlalu menusuk kulit. Puluhan ribu orang asing terlihat berlalu lalang keluar lobi bandara Antonio Carlos Jobim. Ini membuat lalu lintas di depan bandara internasional mendadak padat merayap. Polisi lalu lintas terlihat siap berjaga.

      Salam,

      Erwin Santoso

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *