Tetaplah Maju!

Browse By

Sumber gambar: IMDB

Sumber gambar: IMDB

 

Judul Film : Meet The Robinson (2007)

Produksi :  Walt Disney Animation Studios dan Walt Disney Pictures

Durasi : 90 menit

 

 

“Around here, however, we don’t look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new thing, because we’re curious… and curiosity keeps leading us down new paths.” – Walt Disney

Dalam hidup, wajar bila kita merasa kuatir terhadap masa depan atau takut akan apa yang sedang kita hadapi. Banyak orang yang terus berusaha untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan mereka, dengan cara apapun yang menurut mereka ampuh. Ada orang yang berpikir bila ia dapat kembali ke masa lalu, maka ia dapat memperbaiki kesalahannya, sehingga ketakutan yang sedang ia alami tidak terjadi. Ada pula orang yang berpikir bahwa bila ia bekerja keras pada saat ini, ia tidak perlu kuatir lagi terhadap masa depannya.

Tak ada satu pun manusia yang ingin gagal. Tapi sayangnya, sekuat dan sebesar apapun yang dilakukan manusia untuk mengatasi kegagalan, tidak ada jaminan pasti bahwa masa depan akan sesuai dengan apa yang diinginkan. Untungnya, kita mempunyai sesuatu yang dinamakan harapan, yang dapat membantu kita untuk mengatasi kekuatiran terhadap masa depan. Namun tentu saja, apakah harapan itu ada?

Meet the Robinson, filem animasi keluarga dengan moto “tetaplah maju” (keep moving forward) ini diproduksi oleh Walt Disney Animation Studios dan Walt Disney Pictures pada 2007 lalu. Animasi ini mengisahkan perjalanan Lewis, seorang anak panti asuhan yang mencari ibunya. Ia ditelantarkan sejak masih bayi. Ide mencari ibu kandungnya ini sebenarnya muncul sebagai bentuk kecemasan Lewis akan masa depannya.

Sebelumnya, Lewis, yang bisa disebut si jenius itu, senang membuat penemuan-penemuan. Tapi sialnya, penemuan itu kerap kali gagal. Tak satu pun penemuannya yang berhasil. Tak hanya itu, kegagalan lainnya berupa ketidak-berhasilan menemukan orangtua yang bersedia mengadopsinya. Hampir 124 kali, ia dipertemukan dengan calon orang tuanya. Naas, selalu berakhir dengan kegagalan.

Kesal dengan seluruh ketidak-berhasilannya menemukan orangtua asuh, akhirnya ia membuat suatu alat yang diberi nama “Memory Scanner” untuk melihat ibu kandungnya di masa lalu. Tapi, lagi-lagi ia gagal. Yang ada, alat itu malah dimanipulasi dan dicuri oleh Pria Bertopi Bundar (Bowler Hat Guy).

Suatu saat, Lewis mendapat kunjungan dari seorang anak laki-laki aneh bernama Wilbur yang memberi tawaran untuk mengunjungi masa depan. Lewis takjub dan menerima tawaran itu. Di masa depan, si jenius ini akan mempunyai keluarga besar yang mencintainya. Selain itu, ia menjadi seorang penemu yang luar biasa.

Selain tokoh utama, Lewis, ada satu tokoh lain yang patut untuk disoroti dalam cerita ini: Bowler Hat Guy. Goob adalah nama asli dari Bowler Hat Guy. Ia adalah seorang pria dari masa depan yang berhasil mencuri pesawat mesin waktu. Dengan pesawat itu, ia kembali ke masa lalu dan bertemu dengan dirinya sendiri, seorang anak panti asuhan dan mempunyai teman sekamar yang tidak lain adalah Lewis.

Goob, ingin mengubah masa depannya menjadi lebih baik dengan cara mengubah masa lalunya. Ia telah merasakan masa depannya, tapi sangat membencinya. Tak lain karena teman “Einstein”-nya, Lewis, selalu mengerjakan proyek gila untuk science fair. Lewis tak memberi Goob kesempatan untuk tidur pada malam hari, sehingga Goob mengalami kelelahan dan gagal memenangkan pertandingan baseball. Kekalahan itulah yang dianggap sebagai akar malapetaka bagi masa depannya.

Goob tumbuh menjadi seorang anak yang menyalahkan teman sekamarnya. Tak hanya itu, ia juga selalu merasa bahwa orang lain di sekitarnya membencinya. Padahal realita yang ada bukan seperti itu.

Karena hal itu juga, membuat Goob tak pernah mendapatkan orang tua asuh. Sepanjang hidupnya, Goob tinggal sendirian dalam sebuah bangunan tua yang dulunya adalah panti asuhan tempatnya tinggal.

Seperti Lewis, terkadang kita tidak menyadari hal-hal sepele yang kita lakukan saat ini dapat mempengaruhi masa depan orang lain, termasuk mengganggu orang yang sedang tidur. Dan terkadang juga seperti Goob juga, kita acapkali  menyalahkan orang lain karena kegagalan yang kita alami.

Tentu dengan realitas yang ada, kita tidak dapat pergi ke masa depan atau pergi ke masa lalu seperti dalam filem animasi ini. Tapi yang bisa kita lakukan adalah hidup di masa sekarang. Inilah bagian yang penting, yakni perlu mengambil keputusan-keputusan tepat dalam menyikapi masa lalu, sehingga bisa menentukan langkah ke depan: apakah akan menyerah atau terus bergerak maju?

Filem ini ssebenarnya cukup menginspirasi. Sayangnya, kurang tepat bila ditonton anak-anak. Percakapan dan joke yang dipakai cukup sukar untuk dipahami. Mungkin percakapan dan cara nge-jokenya mengadopsi dari situasi dan kondisi Amerika. Oleh sebab itu, bila anda menonton, anda wajib tahu kultur Amerika. (Editor: Erwin Santoso)

 

Grace Paramythia, mahasiswi Fakultas Psikologi UKSW angkatan 2011. Ia kini menjadi wartawan magang Scientiarum. Anda bisa mengikutinya di @graceparamythia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *