Kenapa Memilih Hidup Ketika Mempunyai Heroin?

Browse By

Sampul filem Trainspotting. | Sumber: http://atomicmoviefreak.blogspot.com/2012/05/top-25-movies-of-1996.html

Judul Filem: Trainspotting

Sutradara: Danny Boyle

Produksi: Channel Four Film

Pemain: Ewan McGregor, Ewen Bremner, Jonny Lee Miller, Peter Mullan, Robert Carlyle, Kevin Mckidd

Durasi: 94 Menit

Rilis: 23 Februari 1996

Bersama Spud (Ewen Bremner) dan Sick Boy (Jonny Lee Miller), Mark Renton (Ewan McGregor) menghabiskan waktunya dengan mengonsumsi heroin di tempat Mother Superior (Peter Mullan), seorang penjual narkoba.

Suatu hari selepas dari sakau yang ia alami, karena mempertimbangkan banyak hal, Renton memutuskan untuk menyetop adiksinya pada heroin. Kisahnya bermula di sini.

Dimulai saat Renton mengalami titik balik kesadaran akibat overdosis. Gegaranya, bayi Sick Boy meninggal karena terlantar seminggu – menyuntikkan heroin adalah pelariannya. Termasuk urusan dengan Francis Begbie (Robert Carlyle) temannya yang temperamental dan gemar berbuat onar. Otomatis Begbie selalu merepotkan teman-temannya.

Setelah sekian lama nafsu seksnya terkubur karena heroin, Diane (Kelly Macdonald), wanita yang ia temui di klub, membuatnya jatuh cinta lagi. Melihat kehidupan Renton, Diane ingin Renton mencari suatu hal baru dalam hidupnya.

Walaupun sempat kembali ke heroin berulang kali, tapi dia tidak menyerah. Adegan favorit saya saat Renton berusaha menghadapi kenyataan. Dengan perjuangan diikat di atas tempat tidur dan dikurung di kamarnya selama beberapa hari tanpa komunikasi, hingga akhirnya Renton dapat lepas dari ketergantungan obat.

Lalu Renton memutuskan untuk pindah ke London, bekerja sebagai agen apartemen. Hidupnya membaik selepas berpisah dengan temannya yang membuat Renton terjebak dalam masalah di Edinburgh. Naas, Begbie dan Sick Boy mengunjungi Renton. Lebih tepatnya, Begbie bersembunyi dari kejaran polisi dan Sick Boy mempunyai urusan bisnis heroin yang besar di London.

Selang beberapa lama kemudian, mereka kembali ke Edinburgh karena mendapat kabar kematian sahabat karib mereka Tommy (Kevin Mckidd) karena penyakit Toxoplasma.

Walaupun Renton tidak lagi mengonsumsi heroin, mau tidak mau, berkat jasa teman-temannya dia kembali terjerumus pada heroin.

Diadaptasi dari novel karya Irvine Welsh, novelis Skotlandia, Trainspotting filem bergenre drama karya  sutradara Danny Boyle (Slumdog Millionaire, 127 Hours) merupakan salah satu filem Inggris terbaik yang pernah dibuat.

Bagaimana tidak, menurut Internet Movie Database (IMDB) filem ini mendapat 20 nominasi dan memenangkan 21 penghargaan. Antara lain Academy Award (Oscar) kategori nominasi Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published, BAFTA Award kategori Best Screenplay, London Critics Circle Award kategori British Actor of the Year, dan nominasi MTV Movie Award kategori Best Breakthrough Performance.

Filem yang akrab dengan kehidupan para pecandu narkoba  sarat akan dialog kasar ala Skotlandia,  adegan seksual dan Komedi yang jujur. Semuanya dibuat Boyle tanpa takut memvisualisasikan imajinasi dalam otaknya. Disokong alur cerita yang unik karena menonjolkan naratornya ketimbang dialog antar tokoh semata.

Saya bisa dibuat  jijik dan tertawa pada saat bersamaan – keduanya muncul tak terduga. Yang lebih penting, makna dari filem itu sendiri bukan sekadar filem kotor dengan umpatan dan beberapa adegan porno yang tidak ada nilai moralnya.

Tapi Trainspotting lebih dari sebuah kisah kehidupan gelap para junkie. Filem ini mengajarkan saya bahwa hidup itu soal konsistensi akan sebuah pilihan. Seperti Renton yang memilih keluar dari dunia narkoba, tapi seringkali gagal dan kembali memakai narkoba.

Pada epilog, akhirnya Renton ingin menjalani hidupnya sebagai manusia pada umumnya dan berkarir. Ia berkata, “choose your life, choose a job and choose your carrier I like when you interesting with this social desease!

Terkadang pilihan yang kita pilih bukanlah pilihan yang benar, tapi semua pilihan itulah yang akan kita ceritakan kepada orang-orang. Entah kelak akan dikemas dengan rasa sesal ataupun puas. Yang jelas kehidupan itu tidak akan pernah berjalan lurus-lurus saja.

Ada saat dimana kita ingin mencoba sesuatu yang baru, yang belum pernah kita coba. Pun ada saatnya dimana kita mencapai titik balik dalam hidup kita, sehingga mendorong kita ingin berubah. Tapi perubahan itu susah karena kita harus menerima tiap konsekuensi dari pilihan yang kita ambil.

Editor: Arya Adikristya Nonoputra

Bernadus Trimurio Rajagukguk, mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi angkatan 2012. Ia merupakan Web Master Scientiarum. Ikuti kicauannya di @BernadusRyo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *