Investasi Memori Blek Bekas, Barisan Bendera, dan Kostum Warna-Warni

Browse By

“Ini bukan cara terbaik, tapi dicoba dulu. Kalau bagus ya terus, kalau tidak ya kita ganti dengan pola yang sudah lama. Kalau hal ini kurang realistis bagi mahasiwa, ya pakai cara dulu yang hura-hura,” – Arief Sadjiarto, Pembantu Rektor III UKSW (kutipan wawancara “OMB 2014 Tanpa Drumblek” pada Buletin Lentera edisi 6 Agustus 2014)

***

Selembar tiket kereta api kelas ekonomi milik seorang anggota TNI yang batal pulang kampung, membawa saya ke gerbang stasiun Semarang Poncol. Entah dari mana asalnya, yang jelas tiket dan KTP asli anggota TNI itu menyelamatkan hidup saya ketika semua akses transportasi ke Jawa Tengah penuh.

Sahabat saya tahu benar betapa saya keranjingan pada Karnaval Kostum dan Marchingblek UKSW. Bukan tanpa alasan dia ikut berjuang mati-matian mencarikan tiket pulang “dadakan”. Hajatan berkelas, tontonan kreatif menghibur, dan tentu: kebanggaan kota dan almamater.

Pulang guna menyaksikan semarak Pawai Budaya UKSW memang sudah menjadi agenda wajib selama dua tahun terakhir saya bekerja di Ibukota. Dua hal yang tak pernah membuat saya bosan menonton dan ikut jalan mengiring arak-arakan Pawai Budaya: Karnaval Kostum dan Marchingblek.

Sebenarnya pada 2013 itu, saya sudah putuskan untuk absen karena agenda dan load kerja yang sangat menyita waktu. Namun apa lacur rasa rindu pada kota, provokasi sahabat seperjuangan, dan simpati berlebihan pada almamater yang sedang menggelar hajatan membuncah tak terbendung.

Euforianya masih sama ketika saya memasuki gerbang kampus pada pagi September 2013 itu. Riwa-riwi mahasiswa baru (maba) yang menenteng tong bekas, bambu, dan bendera masih sama. Senior-senior dengan kaos hitam, kacamata Rayban, dan muka sangarmasih sama. Senyum manis Satpam dan Juru Parkir masih sama manisnya dengan tahun lalu.

Satu yang beda, mana kostumnya? Bola mata saya bergerak dari kiri ke kanan, dan sebaliknya, mencari-cari kostum unik yang biasanya sudah berlenggak-lenggok melakukan pemanasan.

“Ini mana tontonan saya?”

Pertanyaan itu muncul berulang-ulang dalam benak yang mulai curiga. Tak ada satu pun kostum warna-warni yang biasanya menjadi primadona di tahun sebelumnya.

Memang sudah empat tahun berturut-turut, Karnaval Kostum menyulap warna pelataran kampus yang kusam termakan zaman, menjadi warna-warni tiap Pawai Budaya Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) berlangsung. Sangat disayangkan, ketika akhirnya saya sadar bahwa Karnaval Kostum tidak dipakai lagi saat itu.

Kostum-kostum megah dalam balutan seni kontemporer berganti dengan manusia-manusia “Styrofoam” dengan dekorasi berbentuk komputer, televisi, jarum suntik, pesawat, dan berbagai bentuk aneh yang lain (yang menurut saya kurang jelas maksud dan tujuannya).

Pawai OMB UKSW 2013 melewati rute Jalan Diponegoro – Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Sukowati – Lapangan Pancasila – Jalan Adisucipto – Jalan Kartini – Jalan Monginsisdi  - Jalan Diponegoro, dan berakhir di kampus UKSW.

Pawai OMB UKSW 2013 lalu. Dok: SA

“Ini pawai tahun 2013 bukan? Kenapa serasa tema pawai tahun 1993?”

Saya ingat betul ketika kelas dua SD, sekitar 21 tahun yang lalu, menyaksikan pawai serupa yang saya  saksikan tahun 2013 pada Pawai Budaya OMB 2013. Eksekusinya tidak lebih bagus dari pawai kota tahun 1993.

Degradasi ini namanya!

Pawai Budaya OMB 2013 adalah kekecewaan saya yang pertama (yang langsung saya sampaikan secara secara lisan dan tulisan ke bagian Humas Universitas – tanpa ada tanggapan). Bagi saya, menyedihkan ketika konsep secerdas dan se-moderen Karnaval Kostum ala UKSW diganti begitu saja dengan konsep yang sebetulnya sangat kuno.

Apa kabar industri kreatif? Bukankah sejak awal masuk ke gerbang ilmiah ini kita sudah dituntut untuk sekreatif mungkin? Sekarang sudah ada sebuah konsep apik, ikonik, berkelas nasional, justru dihilangkan dengan alasan-alasan, maaf, naif, semacam “ribet”, “makan waktu”, “ganggu kelas”, dan (tentu) “mahal”.

Saya tetap teguh berpendapat bahwa konsekuensi logis dari sebuah perjuangan adalah pengorbanan. Butuh pengorbanan besar untuk hasil yang besar baik pikiran, tenaga, atau materi.

Jer basuki mawa bea.

Atas Dasar Ke-akademis-an

Kekecewaan saya terus berlanjut. Di tahun kedua, saya mendengar kabar bahwa CS Marchingblek “diabsenkan” pada Pawai Budaya OMB 2014 ini. Sempat tercengang ketika menyimak statemen demi statemen Pembantu Rektor (PR) III yang menjadi headline Buletin Lentera edisi 6 Agustus 2014.

Menurut saya, statemen seorang elit Universitas sekelas PR III, AriefSadjiarto, merupakan representasi gagasan elit-elit pengurus Pawai Budaya OMB yang secara struktur berada di bawahnya. Yang pertama adalah mengenai pandangan bahwa Marchingblek, Flag, dan Karnaval Kostum dianggap kurang akademik dan terkesan “hura-hura”. Oleh sebab itu, maba akan diarahkan ke kegiatan-kegiatan yang lebih akademik seperti bakti sosial membagikan tas ke ibu-ibu di pasar dan membersihkan gulma di pohon.

Memang hal-hal apa saja sih yang dianggap akademik? Apakah desain kostum yang berpijak pada gaya seni kontemporer yang memadukan balutan etnik, folk culture, high culture, bahkan pop culture kemudian dikemas khas ala industri kreatif masa kini, tidak lebih akademis dari membagikan tas ke pasar?

Lalu, apakah instrument alat pukul dan melodis dengan konsep secerdik garbage percussion, alat-alat “sampah” atau recycle, yang notabene berguna untuk mengakali biaya pengadaan – tidak lebih akademis daripada mencabuti gulma di pohon? Dengan aransemen ketukan-ketukan mars dan lagu-lagu etnik yang eksekusi komposisinya digarap oleh mahasiswa-mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan, apakah tidak lebih akademis dari mencabuti gulma di pohon? Dan apakah pertunjukan megah yang tak pernah luput dari media massa kelas lokal maupun nasional, baik cetak maupun elektronik termasuk televisi, sudah tidak menarik lagi untuk dikulik dan kembangkan? Apakah liputan televisi nasional pada kegiatan pawai universitas keliling kota yang hanya satu-satunya di Indonesia, tidak cukup menarik dipertahankan untuk jadi ajang promosi universitas? Apakah tingkat ke-akademis-an Karnaval Kostum, Flag, dan Marchingblek hanya sebatas baris-berbaris dan teknik memukul tong? Menurut saya, itu pelecehan.

Kalau Marchingblek, Pawai Budaya, dan Flag dianggap bukan kegiatan akademik, mari kita baca lagi bab-bab mengenai postmodern, seni kontemporer, industri kreatif, entertainment production, cultural studies, pop culture, komunikasi pemasaran, dan juga branding!

Merangkul Masyarakat

Melalui konfirmasi yang saya lakukan melalui saluran telepon, Arief menjelaskan bahwa Pawai Budaya 2014 ini memang dikhususkan untuk merangkul kelompok-kelompok masyarakat di Salatiga, yang mana akan melibatkan mereka dalam parade drumband dan drumblek, mengiringi pawai kelompok etnis UKSW (yang menurut saya sebenarnya sebelas duabelas dengan konsep acara tahunan UKSW, PSBI – Pentas Seni Budaya Indonesia).

Hal itu merupakan bentuk pengabdian pada masyarakat kota Salatiga, yaitu dengan membuatkan acara tahun 2014 serta bantuan pendanaannya. Untuk pawai-pawai sebelumnya yang berkonsep “hura-hura”, yang Arief maksud, bukan hura-hura dalam artian yang selama ini kita pahami identik dengan ‘hedonisme’, namun “hura-hura” lebih ke meriah dan hingar bingar.

“Untuk kostum memang tidak ada, tapi untuk Marchingblek bukan ditiadakan, hanya dikurangi jumlahnya menjadi 50-70 orang peserta yang terdiri dari instruktur-instruktur drumblek tahun yang lalu, dan jawaban dari perwakilan suara CS Marchingblek memutuskan mundur dari Pawai Budaya 2014,” ujar Arief.

Mendengar konfirmasi tersebut, hemat saya, CS Marchingblek mundur teratur. Selama ini CS Marchingblek menjual “People Power”. Walau belum sempurna (dan terus disempurnakan dari tahun ke tahun), namun kenyataannya Marchingblek, Kostum, dan Flag merupakan potongan utama opera yang dinanti oleh banyak penonton.

Pengurangan jumlah secara sepihak dari 500 atau 1000 menjadi 50-70 adalah penyunatan. Pemberian jatah main 50 orang tak

OMB Salatiga

22 September 2012, ribuan warga memadati Jalan Jenderal Sudirman sampai persimpangan Jalan Sukowati untuk menyaksikan Pawai Marchingblek dan Karnaval Kostum dari bagian acara OMB 2012 UKSW. | Dok: SA

lebih dari sekedar skenario “tombo gelo” alias “daripada tidak ada”. Kian ironis, mengingat Marchingblek merupakan salah satu elemen substansial dalam Pawai Budaya OMB di tahun-tahun sebelumnya.

Pemberian “jatah main” ini seolah-olah merubah logika berpikir dari yang seharusnya “UKSW membutuhkan Marchingblek untuk ditampilkan”, menjadi “Marchingblek membutuhkan UKSW untuk tampil”.

Untuk pertunjukan sejumlah itu, sebenarnya CS Marchingblek memiliki divisi “pasukan elit” yang bernama “Orkes Blek” yang tersusun dari leburan beberapa elemen kelompok seperti Wang-wung Percussion, Salatiga Drummer Community, dan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan.

Namun kembali lagi, “tim elit”dengan format semi-orkestra tersebut tidak sesuai untuk segmen pawai keliling kota.

Memberikan wadah pada masyarakat untuk terlibat dalam Pawai Budaya OMB 2014 memang bagus. Namun menurut hemat saya, sebenarnya elit panitia OMB universitas tak perlu terlalu ambil pusing memikirkan konsep acara untuk masyarakat, karena sebenarnya kegiatan itu sepenuhnya merupakan kewajiban pemerintah kota Salatiga untuk mendukung kemajuan seni dan budaya kota Salatiga.

Mengembangkan konsep yang cerdas, menarik, berkesan, dan menghibur bagi internal mahasiswa universitas juga sangat penting. Bagaimana menumbuhkan kesan pertama dan rasa kekeluargaan yang tak terlupakan untuk maba, bagaimana menumbuhkan sikap “fanatik” dan bangga terhadap almamater dengan cara yang “out of the box”.

Tak kelewatan juga memperkenalkan maba pada kota dan lingkungan dalam kemasan yang luar biasa meriah dan menyedot perhatian publik dan media massa, bagaimana mempertahankan dan mengembangkan ikon hasil kontemplasi intelektual tokoh kreatif terdahulu yang dituangkan dalam kegiatan seni popular sangatlah layak untuk selalu dikembang dan perjuangkan.

Bukan mengganti dengan gagasan yang memang lebih sederhana, praktis, (mungkin) ekonomis, namun, maaf, uzur.

Kesimpulan saya setelah berbincang via telepon dengan bapak PR III adalah, Arief yang notabene baru seumur jagung duduk di “bangku panas”, hanya berusaha mengakomodir suara elit-elit panitia OMB yang memang menghendaki Karnaval Kostum, Flag, dan Marchingblek ditiadakan dengan berbagai alasan.

Adapun alasan pokok yang beredar di kalangan mahasiwa adalah masalah pendanaan yang over budget, kelangsungan latihan yang menyita waktu kuliah, dan noise ditimbulkan ketika latihan.

Jika benar adanya alasan-alasan tersebut merupakan benih mengapa panitia OMB 2014 memilih untuk meniadakan pawai kostum dan rentetan elemen pendukungnya, keputusan tersebut hanyalah merupakan kegagalan panitia Pawai Budaya OMB 2014 dalam mempertahankan “aset” universitas.

 Ini juga membuktikan ketidakberdayaan dalam mengakomodir SDM untuk bersatu-padu mempersembahkan pagelaran yang akbar bagi UKSW dan Salatiga.

Tahun 2014, Pawai Kostum, CS Marchingblek, dan Flag tak lebih dari sebuah “ide usang”, yang sebenarnya dicinta dan dinantikan ribuan orang. Sayangnya, sudah tak satupun duduk dan berjuang di dalam parlemen kepengurusan acara tahunan OMB 2014.

Ide-gagasan berkembang, kemasan berkembang, kreativitas berkembang. Konsep dan gagasan akan berhenti ketika metode berpikir tidak lagi diperbaharui. Selamat berhenti, semoga kami tidak terlalu lama menanti. Salam hangat “Creative Minority”.

(Editor: Erwin Santoso dan Arya Adikristya Nonoputra)

Girindra Prawredhi Abhiyoga, alumni Universitas Kristen Satya Wacana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi, angkatan 2005. Girindra merupakan salah satu penggagas sekaligus mantan Koordinator Lapangan CS Marchingblek pada 2011 lalu. Kini ia tengah bekerja mencari sesuap nasi di Ibukota. Anda bisa menghubungi Girindra di Facebooknya.

14 thoughts on “Investasi Memori Blek Bekas, Barisan Bendera, dan Kostum Warna-Warni”

  1. Fandi says:

    Pandangan yg menarik analitis.. hihi kita telah di nina bobokan oleh sifat hedonis,,merubah sebuah konsep bukan pda esensi dan kepraktisnya dan berbobot.. tpi merubuh atas dasar angka2 dengan pertimbangaan prinsip neraca Untung dan rugi.. OMG

  2. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Kira-kira tulisan ini nyampe ke mata panitia OMB 2014 gak ya?

  3. prasetyo says:

    Saya angkatan 2013, saya juga kecewa kenapa angkatan saya tidak semegah sebelumnya, akhirnya saya tidak ikut pawai omb sebagai mahasiswa baru, tapi sebagai salah satu komunitas kostum carnival, salatiga ethnic batik carnival, kami berharap 2014 lebih baik, ternyata malah dihapuskan…

  4. wahyu says:

    Memang.. tiap tahun saya sekeluarga selalu nunggu kostum dan drublek kampus.. diliat enak, yang main banyak yg cantik2 juga. Malah ngga ada.. PAYAH!

  5. Gloria says:

    Serius bagiin tas ama cabut rumput???? Ha.. ha.. ha… Katrok. untung angkatanku (2011) kebagian pawai budaya.. momen tak pernah terlupakan!!! Pengen lagiiiiiii….. T T

  6. yopa says:

    wah, jadi teringat dimasa itu. ketika saya berkenalan dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang. banyak juga pengalaman yang saya dapatkan dan pastinya “kebahagiaan” menyenangkan sekali. Semoga kedepannya pawai bisa diadakan dan pastinya lebih baik.

  7. Bias galih says:

    Dari awal yg sekedar cm nongkrong dan hanya melihat semangat latian generasi emas pertama akhirnya diajak pak Girindra Prawredhi Abhiyoga agar memberanikan diri untuk meniup terompet lagi duet bersama Haryo Sasongko walaupun sering kacau,bermodal nekat padahal akeh fales e haha..tp ini menjadi tonggak marching blek pertama dalam sejarah,mulai ikut menjadi instruktur juga,saya pasti akan selalu rindu saat latian dan euforianya…

  8. Febby says:

    Dulu awal pertama ikut ngerasa ini hal gk berguna dan gk kebayang wktu pas harinya pasti bakal panas2an.. Tapi setelah semua mw berakhir dan setelah berakhirnya pawai, im so missing drumblek.. Disini lah kita bisa dilatih kerja sama, disiplin waktu dan otomatis harus bisa interaksi sm org2 disekitar kita yg notabenenya blom ada yg dikenal..Dan ketika tahun ini di hilangkan gk akan ada lagi suasana rame dengan latihan drumblek .. Ini Suatu kemunduran dari ciri khas kita yg uda ada di 3th belakangan ini .. Sangat disayangkan kita kehilangan ciri khas yg unik yg gk prnh ada di universitas2 manapun..

  9. Kris says:

    Kurang seru,karena pada tahun lalu saya belum sempat merasakan euforia saat pawai keliling kota Salatiga.
    dan yang membuat lebih kurang seru adalah ada isu bahwa pada tahun ini welcome party tidak diadakan.
    menurut saya pribadi angkatan tahun 2014 kurang beruntung karena pihak kampus kurang menyambut hangat kedatangan mereka.

  10. freddy says:

    haaaa.. haaa.. Haa… Kasian angkatan 2014.. dapet panitia2 letoy.. Pada males mungkin.. LOL

  11. Vincentius Yudhistira says:

    Dua dekade lalu mahasiswa UKSW terkenal dengan kecintaanya akan almamaternya serta semangatnya dalam memperjuangkan nilai yang mereka imani benar. Banyak dosen dan pejabat UKSW yang mempertanyakaan kemana perginya kecintaan mahasiswa UKSW kini terhadap almamater serta hilangnya kobaran api semangat dalam memperjuangkan nilai yang konon dulu dimiliki senior-senior kita. Aneh. Bagaimana api itu mau berkobar kalau bara saja mereka siram air?

  12. Didik says:

    @Vincentius Yudhistira: Biar bara yang disiram air, asapnya membumbung tinggi menjadi kawanan uap yang suatu saat nanti hujan dengan lebatnya!!! 😀 huehuehuehuehuehue

  13. Vincentius Yudhistira says:

    @Didik: Semoga saja mas didik. Semoga saja…
    🙂

  14. Dom says:

    Tulisan yang bagus, Girindra. Semoga tekanan dan larangan malah melahirkan ide baru!

    Saya mau komentari lagi 1 hal, tidak terlalu penting tapi fundamental (lho?): anu…harusnya kata ALUMNI di “Girindra Prawredhi Abhiyoga, alumni Universitas Kristen Satya Wacanai” diganti pakai alumnus. Soalnya -i itu menunjukkan kejamakan dan maskulinum. Kalau perempuan pakainya alumna.

    Yaksip. Salam sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *