Work and Holiday Visa, Solusi Pas Pelancong Muda Indonesia

Browse By

Halo, Australia! Pemandangan luar biasa di Yarraville, Melbourne.

Halo, Australia! Pemandangan luar biasa di Yarraville, Melbourne.

Halo, para pelancong muda! Salam bolang dari saya di Melbourne.

Banyak teman yang bertanya bagaimana saya bisa tinggal di Melbourne saat ini. Beberapa mengira saya sedang bekerja atau belajar. Tapi ini jawaban saya, “Work and Holiday Visa!”. Lalu umumnya teman saya bereaksi, “oh kerja ya di sana? Gimana dapet sponsor-nya, Non?”. Well… saya yakin yang ada di pikiran mereka adalah Work Visa yang jelas berbeda dengan Work and Holiday Visa (WHV). Lagipula, belum banyak yang tahu tentang visa ini.

Work and Holiday Visa adalah visa kerjasama pemerintah antar negara dengan tujuan utama pertukaran budaya generasi muda antar bangsa. Jenis visa semacam ini sebenarnya sudah umum dikenal dan digunakan anak-anak muda di negara-negara maju dengan sebutan Working Holiday Visa (subclass 417). Seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, United Kingdom, Belanda, Jerman, dan Korea Selatan.

Namun, untuk beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, jenis visa-nya adalah Work and Holiday Visa (subclass 462). Namun, apakah perbedaannya? Ya, kita bisa mengajukan permohonan WHV 417 untuk kedua kalinya, sedangkan WHV 462 hanya berlaku sekali saja. Meskipun berbeda, esensi kedua visa ini sama, yaitu memberi kesempatan pada traveler muda untuk jalan-jalan, bekerja tanpa sponsorship, dan belajar di negeri orang lain. Siapa yang tak tergoda dengan kesempatan ini?

Saya tertarik untuk mencoba WHV setelah paman saya yang kebetulan berkewarganegaraan Australia menawarkan info tentang WHV 462. Saat itu, saya masih kuliah semester tujuh di Fakultas Hukum UKSW. Saya pikir ini tawaran yang menantang, mencoba berpetualang di Negeri Kanguru, sekaligus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya.

Mumpung sedang menjelajah di negeri empat  musim, bermain salju nggak boleh dilewatkan di musim dingin.

Mumpung sedang menjelajah di negeri empat musim, bermain salju nggak boleh dilewatkan di musim dingin.

Usai berdiskusi dengan keluarga, akhirnya saya berencana untuk mengajukan permohonan visa setelah wisuda. Tapi ternyata jadwal tersebut bergeser satu tahun, karena pada saat saya mengajukan permohonan WHV di tahun 2012, kesepakatan WHV antara Indonesia dan Australia sedang diperbarui.

Pemerintah Australia melihat animo kawula muda yang semakin meningkat dalam proses pendaftaran visa, sehingga memutuskan untuk menaikkan kuota yang semula hanya 100 orang per tahun menjadi 1000 orang per tahun. Kini, gerbang menuju Australia lebih terbuka lebar untuk anak muda Indonesia.

Persyaratan WHV sebenarnya sangat mudah, hanya saja lumayan banyak. Jadi, jika ingin mendapatkan WHV, harus berani bersabar menjalani setiap tahap. Alon-alon waton kelakon, begitu kata orang Jawa. Syarat dan ketentuan bisa dilihat pada tautan ini.

Saran saya, ketika anda memulai proses pendaftaran, buatlah check list semua proses pendaftaran. Hal ini akan membuat anda lebih rapi dan menghindari sindrom “lupa-dokumen”. Nah, jika persyaratan tersebut sudah lengkap, maka tahap terakhir adalah pengiriman berkas ke Australia Visa Application Center (AVAC), sebuah lembaga yang ditunjuk pemerintah Australia untuk menerima berkas dari pemohon WHV. Selanjutnya, tinggal menunggu e-mail dari pemerintah Australia tentang pemberitahuan diterima atau tidaknya permohonan WHV.

Total waktu yang saya butuhkan untuk mengurus WHV adalah 3 bulan. Memang prosesnya lumayan lama, namun tentunya sebanding dengan pengalaman berharga yang saya dapatkan di Australia sampai sekarang.

Karakter visa bolang ini sangat unik dan pas untuk para pelancong muda. Anda bisa berkeliling Australia selama setahun, jangka waktu yang jauh lebih panjang dibanding visa turis. Jangka waktu satu tahun akan mulai berlaku saat anda tiba di Australia dalam jangka waktu 12 bulan sejak tanggal pemberian visa. Hal ini membuatmu lebih fleksibel menentukan jadwal keberangkatan ke Australia. Selain itu, WHV bersifat multiple-entries. Maksudnya, kamu bisa mondar-mandir Indonesia-Australia sebanyak yang kamu mau tanpa pengajuan visa kembali. Kalau saya sih, lebih memilih menghabiskan satu tahun penuh di Australia. Dengan begitu saya lebih mempunyai waktu banyak untuk berkeliling.

Sampai saat ini saya sudah banyak mengunjungi berbagai tempat menarik di negara bagian Victoria. Mulai dari kawasan pantai di South-East Bayside yang meliputi Frankston, Carrum, Bonbeach, Chelsea, Edithvale, Black Rock, Brighton, dan St. Kilda. Selain itu kawasan pantai di bagian Barat, seperti Williamstown dan Geelong. Saya juga sempat mengunjungi festival tahunan di Melbourne seperti White Night Melbourne, Anzac Parade, dan Moomba Festival.

Pantai Bondi, Sydney. Salah satu perjalanan bolang paling seru selama di Australia!

Pantai Bondi, Sydney. Salah satu perjalanan bolang paling seru selama di Australia!

Untuk tema olahraga, saya juga pernah menonton Australian Cricket Game dan Formula 1 Australian GrandPrix. Sedangkan yang bernuansa sejarah dan seni, saya lancong ke berbagai  tempat,seperti Shrines of Remembrance, Art Center Melbourne, Geelong Gallery, National Gallery of Victoria, Museum of Immigration, National Wool Museum, dan Old Melbourne Gaol. Berburu tempat wisata di Victoria memang tidak ada habisnya. Setiap perjalanannya, saya menikmati.

Hal kedua yang ditawarkan WHV adalah kesempatan bekerja di Australia tanpa sponsorship. Dengan visa ini, kamu akan dianggap sebagai anak muda yang level-nya sama dengan anak muda Australia dalam mencari pekerjaan. Aturan kerja dalam WHV adalah bekerja maksimal 6 bulan untuk setiap tempat kerja, yang artinya selama enam bulan tersebut tidak diperbolehkan untuk memiliki pekerjaan ganda. Setelah masa enam bulan berakhir, kamu harus berpindah kerja di tempat lain.

Lapangan pekerjaan yang umumnya terbuka untuk pemegang WHV adalah bidang hospitality seperti di restoran, toko, hotel, dan sebagainya. Pertama kali saya mencari pekerjaan di Australia secara online. Namun, karena kurang efektif, maka saya memutuskan memberikan Curiculum Vitae (CV) langsung ke tempat yang dituju.

Ada kejadian menarik saat saya mencoba memasukkan lamaran sebagai delivery staff ke suatu apotek. Saat itu staf apotek melihat CV saya dan berkomentar, “you are a bachelor of law having so many experiences. You look so over-qualified for this position”. Kurang lebih seperti ini terjemahannya, “anda seorang sarjana hukum dan mempunyai banyak sekali pengalaman. Anda sangat cocok untuk posisi ini.” Ya, jujur saja, saya salah membuat CV. Apalagi fakultas hukum di sini memiliki prestise yang agak tinggi.

Saran saya ketika anda membuat CV untuk melamar pekerjaan di Australia, CV itu cukup dibuat satu lembar yang berisi foto, nama, alamat, nomor telepon, usia, ketersediaan waktu bekerja (availability), dan pengalaman bekerja. Jika belum memiliki riwayat pekerjaan di Australia, ada baiknya tidak memasang informasi jabatan yang terlalu tinggi seperti manager karena akan dipandang terlalu tinggi untuk posisi yang dibutuhkan sehingga mereka hanya akan menyimpan CV-mu, tanpa panggilan kerja.

Belajar dari hal tersebut, saya mulai memperbaiki CV dan menggunakan cara lain yang lebih sesuai. Hingga saat ini saya sudah memiliki beberapa pengalaman kerja mulai dari tenaga sukarela di Salvos (Chelsea Heights), casual staff di Mrs. Fields (Southland Mall, Cheltenham), kitchen hand di Chelsea Kebab House, customer service di Omega Fish and Chips (Chelsea), Pizza on Young (Frankston), Shangri-La (Bayside Mall, Frankston), dan juga sempat bekerja sebagai professional marker di Pearson, sebuah lembaga yang saat itu sedang memperkerjakan saya untuk proyek penilaian hasil tes murid di Inggris dan Australia.

Saya bergabung di Mini Party pemuda gereja yang sedang menyelenggarakan pentas seni di Geelong.

Saya bergabung di Mini Party pemuda gereja yang sedang menyelenggarakan pentas seni di Geelong.

Satu hal penting yang saya tanamkan di otak saya saat bekerja di Australia adalah keberanian untuk meninggalkan gengsi jabatan. Hal tersebut tidak terpakai di sini. Selain itu,harus berani berproses mulai dari nol dan mengubah cara pandang terhadap pekerjaan yang dianggap rendah, karena di Australia, tidak ada pekerjaan rendah. Sumber daya manusia di sini dipandang tinggi, sekalipun kamu adalah housekeeper.

Yang terakhir, fasilitas WHV ketiga ini memperbolehkan kamu untuk belajar maksimal 4 bulan di Australia. Saya kurang begitu tahu jenis pendidikan apa yang sesuai dengan kriteria WHV ini. Mungkin sejenis kursus MYOB danbook-keeping. Tapi karena saya tidak berminat untuk mengambil kursus jangka panjang, saya hanya mencoba mengambil kursus pendek seperti kursus barista dan kursus food safety and handling. Pengetahuan ini akan lebih bermanfaat, jika kamu ingin bekerja di dunia perhotelan.

Dari pengalaman saya tadi, WHV telah menjadi sarana untuk belajar bagaimana rasanya hidup di negara maju seperti Australia. Melihat bagaimana sistem kehidupan yang ada di dalam masyarakat, dan yang saya rasakan sampai saat ini, kehidupan di Australia memang terasa jauh berbeda dengan Indonesia.

Beruntung saya memiliki kesempatan untuk mengalami perbedaan tersebut secara langsung.

Tak hanya itu, berkat WHV kini saya mempunyai teman-teman yang tak hanya berwarganegara Australia, tapi juga berlatarbelakang Filipina, India, Korea Selatan, Jerman, Perancis, Turki, dan Hongkong. Beberapa di antara mereka juga merupakan anak-anak WHV dari negara masing-masing. Melalui mereka, saya bertukar budaya, pengalaman, dan pengetahuan yang beragam. Jadi, kapan giliranmu, para bolang muda Indonesia?

Berikut tautan yang berguna tentang informasi WHV:

Dirjen Imigrasi Indonesia: http://www.imigrasi.go.id/index.php/layanan-publik/rekomendasi-visa-bekerja-dan-berlibur

Untuk yang ingin tahu cerita mendetail bagaimana saya melakukan proses melamar WHV, silakan baca http://ninonthinks.blogspot.com.au/2013/12/work-and-holiday-visa-for-indonesian.html

Ninon Melatyugra, penulis lepas yang kini menetap di Melbourne. Ia adalah alumni Fakultas Hukum, angkatan 2009.  Bagi yang tertarik membaca cerita bolang Ninon selama di Australia, silakan kunjungi ninonlives.wordpress.com. Ikuti juga kicauannya di @NinonCoemi.

12 thoughts on “Work and Holiday Visa, Solusi Pas Pelancong Muda Indonesia”

  1. Jaran kota Salatiga says:

    Kalo mau apply gitu, harus punya tempat tinggal dulu (yg jelas) di Ausie ato tanpa menyertakan tmpt tinggal juga bisa, kak Ninon? 🙂

  2. Ninon says:

    Setahu saya sih ngga wajib menyertakan tempat tinggal karena biasanya anak-anak WHV baru cari tempat tinggal setelah menerima visa. Keterangan di formulirnya pun cuma meminta info keluarga, teman, atau orang yang kamu kenal di Australia. 🙂

  3. Jaran kota Salatiga says:

    Wah gitu ya…siap SIKAT! 😀

  4. Ninon says:

    Selamat berjuang! 😀

  5. joe says:

    bagi no Whats up donk k

  6. urli says:

    untuk persyaratan “Surat keterangan / Jaminan Bank atas kepemilikan dana sejumlah AUD $ 5000 (lima ribu Dollar Australia) atau yang setara” dananya apa harus mengendap dulu selama 3 bulan? atoo bisa kita taro aja, sebulan kemudian minta bank statemen/jaminan kepemilikan dana dari bank?

  7. Ninon MelatyugraN says:

    @Joe: Silakan message saya di akun Facebook Ninon Melatyugra. My pleasure to answer all your questions. 🙂
    @Urli: Setahu saya, pada dasarnya bank statement diberikan pada nasabah yang minimal 3 bulan bertransaksi dulu di banknya. Jadi kalau kamu sudah memiliki rekening di bank lebih dari 3 bulan, maka kamu bisa langsung meminta bank statement tersebut (tidak peduli seberapa besar uang yang kamu endapkan di rekening). Saran saya, jika kamu menyimpan AUD $5,000 lebih lama, maka bank history record tersebut akan lebih meyakinkan pihak imigrasi yang nanti mewawancarai kamu di Jakarta karena mereka juga memeriksa rekening koran tabunganmu. Hehe…

  8. Irham says:

    Mba, kalo surat pernyataannya lbh baik dibuat kapam? 3 bulan sebelum wawancara atau dkt ke waktu wawancara (yg jadwalnya aja blm tau? ditunggu infonya mba 😀

    1. Ninon says:

      Sebaiknya mendekati jadwal wawancara saja, karena bank statement-nya akan lbh dinilai up-to-date. Nggak enaknya memang kita nggak bisa memprediksi tanggal tepatnya wawancara ???? Jaman saya dulu setiap daftar online, selang seminggu pasti sudah keluar jadwalnya. Kalau sekarang dri cerita teman2, sempat ada penundaan jadwal wawancara yg akhirnya buat antrian semakin panjang dan jeda waktu smakin lama. Perlu sering2 dipantau dari jadwal wawancara di imigrasi. Semangat! ????

  9. Rahmad Harahap says:

    halo mbak, saya tadi ada message mbak ke facebook, trs saya add juga mbak, mgkn message saya terdampar ke pesan lain/arsip, makasi mbak sebelumnya.

    1. Ninon says:

      Halo, Rahmad!
      Message-nya sudah ketemu dan dibalas ya 🙂

  10. merlin says:

    Tabta dong kak bisa lihat contoh cv yg pas buat apply ke avac ya? Sy bru mau lodge ke avac tp bingung di cv. Klo boleh liat contohnya bisa tolong kirim ke merlianaabung46@gmail.com

    Terima kasih sebelumnya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *