Gara-gara UKSW

Browse By

Empat bulan yang lalu, akhirnya saya kembali ke Salatiga. Kota kecil tanpa bioskop, mal besar dan tempat Clubing ini mampu membuat hampir setiap pendatang yang berkuliah di sini menjadi rindu dan ingin kembali ke kota.

Entahlah. Mungkin ini karena kafe-kafenya, atau mungkin karena orang-orangnya.

Delapan tahun yang lalu ketika pertama kali menjejakkan kaki di Salatiga, hawanya masih sejuk sekali. Jalan Kemiri pun masih asri dan belum dipadati oleh rumah toko (ruko). Satu-satunya tempat hiburan yang menarik kala itu hanya studio karaoke di Hotel Wahid.

Jika ingin mendapat hiburan lebih, kita mesti meluncur ke Semarang, Solo atau Yogyakarta. Sempat tersirat di benak, “wah, kok kotanya minim hiburan ya? Bisa-bisa saya bosan kuliah di sini.”

Namun, anggapan itu berubah ketika perkuliahan dimulai. Di sini hidup saya mulai berproses. Dari yang semula terbiasa hidup manja dengan orang tua, menjadi harus lebih mandiri, mengatur keuangan sendiri sampai memanajemen diri sendiri. Dari yang semula gengsi tidak mau naik motor cenglu (gonceng telu, baca: bonceng tiga sekaligus), jadi mengerti sensasi asyiknya naik motor cenglu. Paling menarik, dulunya saya hanya bergaul dengan teman-teman yang memiliki latar kultur yang sama, tapi setelahnya, saya harus berkomunikasi dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda. Gara-gara kuliah di UKSW saya mempunyai banyak kosakata daerah.

Berkuliah di UKSW berarti anda sedang belajar tentang komunikasi lintas budaya. Komunikasi antara orang-orang yang berasal dari budaya, kepercayaan, nilai dan perilaku yang kontras. Belajar memahami perbedaan aksen, bahasa termasuk cara bercanda. Awalnya, pasti akan terasa janggal, namun ketika memaknainya sebagai suatu proses memahami pluralnya perilaku orang lain, hal ini akan menjadi sesuatu yang mengasyikan. Kecenderungannya adalah proses ini berjalan secara alami.

Gara-gara berkuliah di UKSW, saya mengenal bermacam masakan di Nusantara. Beberapa diantaranya adalah Binte. Dahulu, kakak kos saya yang berasal dari Sulawesi sering sekali membuat Binte. Binte terbuat dari racikan sup yang terdiri dari jagung, terkadang bisa diisi udang atau ikan yang menghasilkan tiga rasa yang khas, yakni manis, asin dan pedas. Suatu masakan yang sangat lezat apalagi jika dimakan selagi hangat.

Jika cemilan, pisang goreng sambal Roa tentunya menjadi andalan. Pisang gorengnya hampir mirip dengan pisang goreng kebanyakan, namun yang membuatnya berbeda adalah pisang goreng itu dimakan barengan dengan sambal yang terbuat dari daging ikan Roa yang diiris kecil-kecil dicampur dengan cabai sehingga menimbulkan citarasa sangat lezat. Ada lagi cemilan kegemaran saya, yaitu keripik pisang aneka rasa dari Lampung. Favorit saya adalah rasa melon dan coklat. Perpaduan antara gurihnya pisang dan manisnya coklat atau melon sangat menggugah selera.

Selain bisa mencicipi masakan khas Nusantara, gara-gara di UKSW saya bisa tertawa kala mendengar cerita humor dari teman-teman yang asal Papua. Nama leluconnya, Mop Papua. Menurut teman saya, Mop Papua itu baru terasa mengocok perut jika yang menceritakan dan yang mendengar sama-sama tahu aksen serta logat berbicara khas Papua.

Itulah sebabnya saya merasa beruntung sekali berteman dengan mereka. Memberi saya kesempatan belajar semuanya itu. Karena bergaul dengan teman-teman dari Papua, saya mengerti aksen dan gaya hidup mereka, maka Mop Papua yang mereka lontarkan menjadi lucu sekali. Mendengarkan Mop Papua, kini menjadi kegemaran saya.

Gara-gara di UKSW saya bisa mendendangkan lagu pop di luar daerah saya. Seringkali teman-teman dari Indonesia Timur sangat senang mendendangkan lagu pop daerah mereka. Contoh yang sering saya dengarkan adalah lagu pop daerah dari Manado. Sahabat saya asli Manado dulu amat sering memutar lagu pop Manado di kos. Judulnya “Saki hati no” , liriknya seperti ini:

“ Kita da minta tulus ngana pe cinta, janji setia musti ngana jaga, yang kita minta Cuma ngana pe cinta, satukan hati kita rasa torang bisa”

Saya selalu tertawa jika mengingat lagu ini, karena mengingatkan saya pada sahabat saya itu. Menurut teman saya, lagu ini sering sekali diputar di angkot-angkot Manado yang membahana karena full volume. Atau lagu favoritnya di tempat karaoke yang berlirik “Polo pakita sayang, ciong pakita sayang.”

Tiba di kota asing dalam usia belasan tahun, dan menjadi anak indekos, tentunya menimbulkan sensasi yang berbeda. Apalagi harus bertemu orang-orang dengan  Frame of Reference dan Field of Experience yang sungsang. Frame of Reference adalah kerangka acuan. Masing-masing budaya pasti memiliki kerangka acuannya sendiri dalam menyikapi suatu keadaan. Sedangkan Field of Experience adalah latar belakang pengalaman. Latar pengalaman dapat berupa pengalaman pribadi. Sehingga dalam proses komunikasi yang saya lakukan di Salatiga, saya banyak mendapat pelajaran tentang masing-masing kebudayaan di Indonesia. Bagaimana suatu kebudayaan mempengaruhi proses kognitif seseorang dan pada akhirnya mempengaruhi cara orang tersebut berperilaku.

Gara-gara di UKSW saya memiliki sahabat dari Palangkaraya, Manado, Salatiga, Bogor, Solo dan Papua. Semula kami masih mengusung Frame of Reference yang berbeda  dan Field of Experience masing-masing. Sama-sama menjadi anak rantau, bertemu di satu kota asing, mengusung kebiasaan dari rumah, tentu membawa sensasi tersendiri bagi saya ketika saling berinteraksi. Hidup adalah proses belajar.

Tahun-tahun pertama menjadi anak kos dadakan merupakan proses awal pembentukan pribadi. Saat tahun pertama ini biasanya hanya diisi dengan kumpul-kumpul bersama teman-teman se-geng, hanging out dan berusaha mencoba segala hal baru.

Kian dewasa, kita akan menuju usia kompromi. Pada tahun-tahun selanjutnya kita sudah mulai harus berkompromi dengan banyak hal, tidak hanya mengedepankan keinginan saja, namun juga dengan apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Akan sangat sedih ketika mengenang satu persatu teman se-geng kita lulus dan pulang kampung. Namun kesedihan itu pun diiringi oleh senyuman saat beberapa tahun berlalu melihat teman-teman seperjuangan sudah menemukan jalannya masing-masing dan  telah mengepakan sayapnya untuk berkarir.

Selain belajar komunikasi lintas budaya, kuliah di UKSW juga membuat saya menyadari bahwa belajar itu lebih dari sekadar masuk kuliah dan pulang. Kampus ini nampaknya sadar betul akan pentingnya pengembangan diri termasuk pengembangan bakat dan minat. Berbagai macam Kelompok Bakat dan Minat (KBM) disediakan di kampus. Mulai dari bidang kesenian sampai olahraga.

Gara-gara kuliah di UKSW saya bisa berlatih bernyanyi bersama teman-teman di paduan suara Voice, dan mengikuti perlombaan. Hitung-hitung melatih mental untuk berani tampil didepan banyak orang. Gegara studi di UKSW juga, saya pernah belajar mengasah kemampuan menulis di Scientiarum. Gara-gara masuk Senat Mahasiswa, saya belajar berpendapat, mempertahankannya dan belajar menerima kritik dengan lapang dada. Semuanya itu benar-benar mengasah Emotional Quotient (kecerdasan emosi) dan mengembangkan Creativity Quotient (kecerdasan kreatifitas) saya.

Walaupun kota ini mungil, namun mampu membuka kesempatan untuk mengembangkan potensi diri yang kita punya. Mumpung masih berkuliah di kampus berjuluk “Indonesia Mini”, maka seraplah semua hal yang berguna yang ada di UKSW. Mulai dari fasilitasnya sampai orang-orang yang ada didalamnya. Intinya, bukan kuantitasnya tapi bagaimana menggunakannya seoptimal mungkin. Menikmati setiap prosesnya sehingga selalu tersenyum kala mengingatnya.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra dan Erwin Santoso

Yosia Nugrahaningsih, alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi UKSW, angkatan 2006. Ia juga salah satu alumni reporter Scientiarum dan kini mengajar di Fakultas Teknologi Informasi UKSW. Ikuti kicauannya di @siayos.

11 thoughts on “Gara-gara UKSW”

  1. STR says:

    Inilah alasan kenapa saya ingin membawa Salatiga ke mana-mana.

  2. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Inilah alasan kenapa saya (kadang) malas pulang ke Surabaya.

  3. Agung Budiharto says:

    Fiuhhhhh….”ngangeni”!

  4. Geritz Febrianto says:

    Wah yosi ga cerita dia di salatiga dapat kekasih
    wkwkwkwkwkwwkkkk

  5. dee says:

    really love salatiga

  6. Jessica says:

    Kayaknya pernah makan binte rame-rame deh sama adek penulis 🙂 Yosi ga cerita kisah cinta di UKSW.

  7. kurniawan says:

    Salatiga memang bikin kangen…

  8. ludyana ohoiwutun says:

    Suatu saat pasti bisa baronda ron kota salatiga. Danke banyak utk kenanganmu, salatiga 😉

  9. Randi Muliyawan (@idnar_) says:

    utk info saja kakak: Binte makanan khas Poso Sulawesi Tengah 😀

  10. wendy says:

    kangen dengan kampus ku tercinta

  11. Nazarius Inri says:

    Karena UKSW & Kota Salatiga yang dingin ini aku mengenal Kalian semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *