Marching Blek, Hal-hal Akademis, Kerja Public Relations dan Investasi Argumentasi Naif

Browse By

Pawai Budaya Orientasi Mahasiswa Baru atau yang disingkat menjadi OMB dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) beberapa tahun belakangan merupakan salah satu kegiatan yang (ternyata) dinanti-nantikan oleh masyarakat Salatiga.

Namun untuk tahun ini, nampaknya masyarakat Salatiga akan menelan kekecewaan sebab 2014 ini tidak ada Marching Blek dan kostum warna-warni (untuk kostum warna-warni, sih sudah dari tahun lalu tak ada) yang biasanya mewarnai Salatiga. Kenyataan ini, entah disadari atau tidak oleh kampus.

Sungguh menarik ketika menyimak Surat Pembaca (atau sesungguhnya artikel yang menyamar sebagai surat pembaca?) yang ditulis oleh Girindra Prawredhi, berkaitan dengan tiadanya Korps CS Marching Blek pada keriuhan OMB 2014 di UKSW.

Sebuah tulisan yang ditulis dengan bagus dan—sekali lagi aku tegaskan—menarik yang menjelaskan kegundahan sang penulis akan tiadanya keriuhan Marching Blek pada OMB 2014.

Artikel tersebut bisa saja dianggap bias dan bahkan subyektif, mengingat sang penulis adalah salah satu “founding fathers” dari Marching Blek UKSW. Begitupun, artikel ini juga bisa ditera sebagai yang tak obyektif. Alas, ketika obyektif secara filosofis sebatas kebenaran yang bisa dibuktikan oleh orang lain, tak perlulah kita berpanjang lebar atasnya.

Marching Blek bukan aktifitas yang memiliki nilai akademis!

Demikian poin paling utama alasan peniadaannya dalam Pawai Budaya OMB 2014 kali ini. Sebuah alasan yang, jujur saja aku juga bingung memikirkan kemasuk-akalannya. Apalagi ketika aktifitas pengganti yang dimunculkan adalah bakti sosial yang berwujud membagi-bagi tas pada ibu-ibu di pasar dan bersih-bersih gulma.

Kalau persoalannya adalah bau akademis pada sebuah aktifitas, apakah kita bisa memastikan bahwa kegiatan pengganti dalam OMB 2014 ini mutlak lebih akademis? Jelas akan panjang perdebatannya.

Meski tulisan yang aku maksud di depan sudah memberi argumentasi yang bagus, tapi tak ada salahnya tulisan ini juga mencoba membincangkan hal ini. Sesekali biarkanlah pengangguran ini menyibukkan diri. Boleh, kan?

Marching Blek dan Hal-hal Akademis

Mungkin kita bisa berdebat, dan kalian akan mengajukan sekian argumentasi bahwa aktifitas macam Marching Blek (selanjutnya disingkat MB) bukanlah sesuatu yang akademis, jika dibandingkan dengan bakti sosial membagi-bagi tas, misalnya.

Namun sebelum kita lanjutkan, ada baiknya coba kita lihat apa sih yang dimaksud sebagai akademis? Akademis seringkali dimaknai dengan sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan dan tetek bengek sekolah—dan teori yang diajarkan di dalamnya.

Nah, berpijak pada pemahaman ini, jika Girindra dalam suratnya bisa menjelaskan bahwa MB merupakan pengejawantahan keberpijakan pada gaya seni kontemporer dengan pengaruh etnik, folk culture, dan seterusnya tersebut, bagaimana dengan bakti sosial yang wujudnya membagi-bagi (materi)?

No offense, aku tak bermaksud menyatakan bahwa bakti sosial itu buruk. Perdebatannya bukan soal itu. Melainkan pada soal di mana pijakan akademis bakti sosial?

Dalam amatanku, justru kegiatan semacam bakti sosial merupakan pengejawantahan dari sikap dan mentalitas pemberi-penerima, penolong-tertolong, yang dalam bahasanya Marx bisa dikategorikan dalam relasi borjuis-proletar, ndoro-batur. Kalau ini titik akademis yang dimaksud, kerjakan saja soal matematika!

Kecongkakan semacam inilah yang kupikir selama ini menegaskan keberadaan kampus sebagai menara gading. Meletakkan diri pada posisi yang mampu dan memberi, pun ukurannya materi. Jika, toh, memang harus seperti ini, bukannya kita diajarkan untuk memberi kail, dan bukan ikan? Bukannya kita seharusnya mampu menjadikan diri kita semua sebagai urip yang urup, yang Si Tou Timou Tumou Tou?

Meskipun pada saat yang sama aku secara pribadi juga akan menyatakan bahwa, dalam kacamata ini, jika memang MB Kampus merupakan produk folk culture atau bahkan pop culture, maka semestinya Girindra paham bahwa berhadapan dengan pihak otoritas (elit panitia OMB, elit kampus, atau bentuk otoritas yang manapun), MB tak akan memiliki arti apapun terutama jika kita membaca lagi dialektika low culture-high culture dan relasinya dengan kekuasaan.

Tapi baiklah, marilah kita tidak membatasi hal-hal atau tindakan-tindakan akademis semata pada segala sesuatu yang berkaitan dengan teori dan tetek bengek sekolah atau perkuliahan.

Taruhlah kita hendak menegaskan bahwa hal-hal akademik yang dimaksud adalah yang memberi kontribusi nyata bagi masyarakat di sekitarnya. Oke. Bagi-bagi tas (atau apapun materinya) selesai. Lalu? Lagipula apakah itu yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat Salatiga?

Kita kembali ke MB, kontribusi apa yang sudah diberikan olehnya? Sebagaimana yang kita semua tahu, MB sebenarnya bukanlah ide orisinil dari kampus. Sepanjang pengetahuanku, MB bermula dari aktifitas masyarakat Pancuran, dan maaf, tidak mengalami perkembangan signifikan.

Ini berbeda ketika kemudian MB masuk kampus. Bukan sebuah kesombongan kupikir, ketika aku menyatakan bahwa pada titik MB masuk kampus, pada saat itulah penerimaan masyarakat Salatiga atasnya menjadi lebih baik. MB menjadi sesuatu yang keren, yang cool, dan pada titik tertentu menjadi salah satu hal khas dari Salatiga. MB memberi identitas!

Ironisnya, seminggu lalu kusaksikan anak-anak SMP di daerah Kartini berlatih Marching Blek dengan ditunggui beberapa orang paruh baya yang aku asumsikan sebagai gurunya. Sebagai penanda MB tersebut adalah sebuahkegiatan resmi dari sekolah. Ironis bagiku karena justru di kampus dimana ia dibesarkan, ia sudah tak dimunculkan.

Mungkin memang kita mesti, meminjam istilah Girindra “membaca lagi bab-bab mengenai postmodern, seni kontemporer, industri kreatif, entertainment production, cultural studies, pop culture, komunikasi pemasaran, dan juga branding!” sebelum kita lanjutkan perdebatan ini, supaya tak akan lagi terbangun argumentasi naif yang meletakkan kekuatannya pada kuasa, dan bukan pada lajur logika yang semestinya!

Marching Blek dan Kerja Public Relations

Nah, sekarang kita bicara kontribusi Marching Blek bagi kampus sendiri. Dalam ranah ini kupikir justru kerja Public Relations (PR) yang benar sedikit banyak sudah dilakukan oleh korps ini jika dibandingkan dengan institusi resmi yang semestinya. Kalau mau lihat berhasilnya kerja PR (tak resmi) kampus, maka salah satunya akan kutunjukkan jariku pada MB!

Jangan marah dulu, terutama kalau kalian ada dalam institusi yang semestinya selalu berusaha membuat UKSW dikenal masyarakat. Begini, jujur saja, selama ini, apakah memang UKSW sudah benar-benar menjadi “milik” masyarakat Salatiga?

Lha wong kadang acapkali acara yang dibuat oleh kampus “tak terdengar” dan “tak menyentuh” masyarakat. Dulu-dulu, ketika ada keriuhan di kampus, tak banyak masyarakat Salatiga (bahkan yang ada dalam wilayah dekat kampus) yang benar-benar tahu (alih-alih peduli, tahu aja enggak) ada acara apa di kampus.

Sekadar “oh, kampus ada rame-rame. Ada acara” adalah indikasi tak berjalannya kerja public relations, atas alasan apapun. Lain halnya dengan Marching Blek yang kemudian membuat kampus dan masyarakat (relatif) tak lagi berjarak. Betul?

Marching Blek (juga pawai kostum warna-warninya) kemudian membuat kampus menjadi dekat dengan masyarakat Salatiga. Kampus tak lagi berjarak, masyarakat tak lagi abai dan sekadar tahu ada keriuhan di kampus, namun mereka menanti keriuhan tersebut. Tahap ini, menurutku, kalau mau teoritis, muncullah yang Stuart Hall sebut sebagai representasi dan identitas. Ini jelas salah satu wujud kerja public relations, bukan?

Selain itu, MB Kampus (kusebut begini sebagai pembeda, ya?) pada titik tertentu sudah menjadi sesuatu yang khas UKSW. Satu hal keren yang dimiliki oleh kampus. Pada titik inilah sebenarnya posisi MB sendiri pada saat yang sama menjadi rentan. Karena justru salah satu titik lemahnya secara internal bisa jadi berpijak dari kenyataan ini.

Bagaimana mungkin? Nah! Begini, akan kujelaskan.

Seperti yang kita tahu, salah satu kebutuhan manusia yang mendasar sesungguhnya adalah kebutuhan akan aktualitas diri, dan diakui atau tidak secara resmi tak lagi menjadi penting, namun pada kenyataannya MB Kampus menyediakan itu.

MB Kampus kemudian berkembang menjadi semacam kumpulannya “orang-orang keren” dan menjadi salah satu pintu masuk untuk mencari ruang aktualitas diri. Ini yang mungkin kemudian tak disadari oleh para pentolannya.

Maksudnya?

Begini, MB Kampus kemudian bisa jadi, sebagai konsekuensi logisnya, tak hanya diisi mereka yang memang serius dan bersungguh dalam melakukan aktifitas kerja MB, namun juga mereka-mereka yang cuma mau numpang nampang.

Tak sedikit mahasiswa (senior, yang enggak lulus-lulus dan kehilangan jati diri) yang melirik MB Kampus sebagai ruang untuk memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri itu.

Bermodalkan solidaritas pertemanan yang—kadang taik kucing—itulah, orang-orang macam ini masuk, dan pada titik tertentu akan menjadi masalah. Meski seleksi alam diandalkan, namun keberadaan mereka tak bisa dihindari.

Regenerasi kemudian menjadi kata kunci. Mudah saja pembuktiannya, saat-saat ini, seberapa banyak, sih, para pegiat MB Kampus yang kemudian memiliki kesadaran untuk melakukan sesuatu atas ketiadaan MB Kampus di OMB 2014?

Sementara dalam relasi kuasa, jelas bahwa para pegiat MB Kampus (sadar ataupun tidak) seringkali dianggap sebagai subordinat dari elit (ini bisa siapapun, entah elit panitia OMB atau elit kampus), tak lebih dari sekedar kelas pekerja.

Namun ironisnya kebanggaan dan identitas kampus sebagai yang dekat dan membumi justru berhasil mereka tumbuhkan, dan kuat. Ini jelas sebuah prestasi. Prestasi yang bisa jadi membuat para elit berpikir “kok, bukan kita yang bikin ya?”.

Nah, elit yang enggak memiliki kemampuan namun memiliki kuasa itu yang berbahaya. Karena solusinya mudah ditebak: potong jalannya, tutup ruang geraknya! Selesai. Karena tak semua orang mau bersaing dengan sehat, apalagi jika kekalahan yang di depan mata! (Oh ya, sekali lagi, elit di sini bisa siapapun. Jadi tidak usah paranoid dan reaktif-defensif).

Sebagai penutup, supaya tidak bertele-tele, satu lagi, jika kalian menyimak, slogan OMB 2014 yang adalah: “Mewujudkan Kreatifitas Global dalam Kearifan Lokal”, maka silakan didiskusikan, mana yang lebih mewujudkan slogan tersebut. Oke? Uraianku atas ini, nanti aku bikinkan dan presentasikan dalam tulisan lain yang lebih “teoritik” dan “mintilihir” saja, ya?

Memang, semestinya tak usah melebar kemana-mana, karena “gugatan” yang ada sesungguhnya sudah cukup esensial. Jika memang MB Kampus dianggap tidak akademik, apakah penggantinya akademik? Nah, ini masalah, karena sampai saat ini sepertinya belum ada argumentasi balasan yang jelas (minimal tertulis) dari pihak elit panitia OMB. Atau sudah ada dan aku tak tahu? Jika demikian, abaikan saja tulisan ini.

Namun yang paling membuat sedih sebenarnya adalah, kita hidup dengan warisan semangat menjadi creative minority, namun pada kenyataannya acapkali kita lebih rajin membangun investasi argumentasi-argumentasi naif.

Penyunting: Erwin Santoso dan Arya Adikristya Nonoputra

Tomi Febriyanto, dosen tamu bidang ilmu komunikasi di beberapa perguruan tinggi provinsi Jawa Tengah. Pernah mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi UKSW. Penyuka sepeda, piringan hitam dan mainan. Anda bisa mengikutinya di @decibeljunkie

6 thoughts on “Marching Blek, Hal-hal Akademis, Kerja Public Relations dan Investasi Argumentasi Naif”

  1. imam says:

    sangat miris ketika slogan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan oleh kampus,sangat disayangkan kalau cs marhingblek dianggap mengganggu kuliah,padahal berkuliah bukan hanya sebatas belajar formal semata,marhingblek dapat menumbuhkan sifat kekompakan,belajar tanggung jawab,membiasakan diri berbaur dengan orang lain,sungguh munafik sekali slogan yang berbeda dengan fakta yang terjadi.

  2. Badrun says:

    Memang makin lama kampus ini makin lemes.. Pawainya malah kya jalan santai. Ra masuk.

  3. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Akeh sing nganggur!

  4. Mona says:

    Semacam pembenaran para elit saja, tapi mereka lupa awam juga bisa menilai hal-hal macam ini.

  5. VIO says:

    Dear, Scientiarum.
    Web lebih bagus sekarang, tampilan lebih fresh foto-foto tambah oke.

    Masukan saya ya.
    Ini tulisan yang sangat bagus, tapi lebih bagus lagi kalau ini tepat sasaran. Coba disampaikan ke PR kampus yang selama ini aku pikir kurang tepat jika disebut dengan profesi “PUBLIC RELATIONS” (makanya disebut dengan nama lain, whatever). Ga ada salahnya juga lo..
    Mengenai MB ini apakah sudah dibentuk ruang diskusi untuk menampung kritik, ide, atau mungkin pendapat mahasiswa mengenai MB ini sendiri? Jd supaya Yang Berkuasa untuk membuat dan mengganti program tahu apakah program pengganti MB ini sudah dianggap efektif untuk beberapa tujuan atau tidak. Kl bukan kalian siapa lagi (PR kampus setau saya tidak melakukan fungsi ini)?

    Thank you Scientiarum.

  6. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Makasih,Vio, buat tanggapannya. Mengenai ide menyampaikan uneg-uneg ini langsung ke pejabat kampus, asli cemerlang. Beberapa kali sudah aku pikirkan, tapi masih buntu dengan cara apa. Selama ini, ruang diskusi yang dimaksud hanya sekadar celotehan di grup Facebook aja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *