Jungwok, Harta Karun di Gunungkidul

Browse By

Mencari harta karun, menjadi perumpamaan yang tepat untuk mencari pantai tersembunyi dan jarang dikunjungi orang. Aku dan kawanku, Maria Nina, sering mencoba mencarinya.

Semakin sepi semakin baik, agar kami bisa lebih leluasa mengambil foto pemandangan. Foto yang memperlihatkan alam yang seolah masih perawan, karena tidak terlalu banyak foto manusia di dalamnya. Hanya pantai tersembunyi yang bisa memuaskan hasratku.

Pukul enam pagi, kami berangkat dari Salatiga yang saat itu sangat cerah. Gunung Merbabu dengan indahnya membingkai kota tercinta ini. Ia seperti seorang Ibu yang mengantar kami ke luar rumah saat kami pergi. Ya, aku selalu menyebutnya sebagai Ibu Merbabu, karena di kakinyalah kami hidup dan bekerja.

Aku mengendarai mobil dari Salatiga menuju Gunungkidul, selama lima jam lebih. Cuma untuk melihat keindahan surga di bumi, yang disembunyikan oleh alam. Aku berharap, sesampainya di sana, aku bisa melepas jenuh dari rutinitas pekerjaan. Menyepi dari kakunya kehidupan sosial.

Kami menuju Boyolali, melewati Jatinom, dan menuju Candi Prambanan. Melihat siluet warisan budaya dunia ini, sempat terbesit pikiran: suatu saat harus datang lagi kemari. Untuk mengamati detil dan mengelilingi kompleks Prambanan.

Dari Prambanan, kami berbelok ke kiri menuju Wonosari. Aku sedikit terkejut, Wonosari luas dan bersih bukan main. Pun jalannya beraspal lebar dan sangat nyaman untuk dilewati. Dari Wonosari, kami berbelok ke kanan mengikuti petunjuk menuju ke pantai-pantai tujuan.

Kini jalanan mulai menyempit dan menanjak, banyak juga truk yang harus kami salip, otomatis membuat kami lebih berhati-hati. Pemandangan khas pegunungan mulai tampak: pepohonan tinggi menjulang sepanjang jalan. Menurut peta yang telah kami unduh di internet sebelumnya, pantai Jungwok berada di area pantai Wediombo. Petunjuk termudah, kami harus mencari pantai Siung yang bersebelahan dengan Wediombo.

Tangga turun menuju ke pantai Wediombo, tentunya saat pulang harus menyisihkan sedikit tenaga untuk menaikinya. Dokumentasi: Jati Mulyadi

Tangga turun menuju ke pantai Wediombo, tentunya saat pulang harus menyisihkan sedikit tenaga untuk menaikinya. Dokumentasi : Jati Mulyadi

Beberapa kali kami bertanya arah kepada penduduk sekitar. Mereka sangat ramah kepada pendatang dan memberi arahan yang jelas kepada kami.

Kami kian bersemangat karena Wediombo semakin dekat. Ditandai dengan loket yang kami temukan di tepi jalan, yang dijaga oleh dua orang Bapak. Mereka sering mengulangi perkataannya dengan nada  mirip tembang Jawa — ciri khas orang Jawa yang jarang ditemui saat ini.

Setelah membayar 10 ribu per orang, kami berpamitan dan meneruskan perjalanan. Sebelumnya, kami berusaha berterimakasih dengan bahasa Jawa halus, mencoba menirukan mereka. Tapi gagal dan justru terdengar aneh. Hahaha. Ternyata memang tidak mudah.

Di ujung jalan, kami menemukan tempat parkir yang lumayan luas, rapi, dan terorganisir. Kendaraan seukuran bis kecil saja dengan mudah sampai ke tempat ini. Kami semakin tak sabar.

Bau laut mulai tercium. Anginnya yang khas menerpa kami. Sambil tidak melepas pandangan ke laut, kami menuruni puluhan anak tangga. Di kiri-kanannya terdapat banyak Ibu-ibu penjaja berbagai macam makanan tradisional, seperti pecel, rujak, dan minum-minuman dalam kemasan. Ada juga penjual minuman dan mi instan dalam gelas.

Tapi karena terlalu ramai dengan pengunjung, kami pun melangkah ke kiri, melewati tumpukan bebatuan sebesar buah kelapa, sempat beberapa kali terpeleset dan dihempas ombak. Semuanya hanya untuk mencari kolam alami seperti foto yang pernah ditunjukkan seorang teman.

Kaki mulai pegal. Aku menyesal karena memakai sandal jepit, bukannya sandal gunung. Kami mencoba jalan alternatif melewati ladang penduduk, yang relatif lebih santai.

Setelah naik turun menyusuri ladang, kami pun menemukan harta karun pertama. Kolam alami berwarna biru kehijauan, seperti sebongkah batu opal raksasa yang dikelingi karang.

Ombak menerpa karang dan menciptakan cipratan air yang dramatis di sela-sela karang. Sungguh tempat yang sempurna untuk berenang.

Saat itu, sekitar pukul setengah 12 dan matahari nyaris di atas kepala kami. Karang sangat panas, tetapi air terasa hangat dan nyaman saat menyentuh kulit.

Hingga saat ini, Wediombo masih menjadi pantai favoritku. Di tempat ini juga ada beberapa penduduk sekitar yang memancing. Mereka dengan senang hati memperingatkan kami agar berhati-hati. Kami pun merasa lebih aman dengan keberadaan mereka.

Ladang yang harus dilewati untuk mencapai pantai Jungwok. Dokumentasi : Jati Mulyadi

Ladang yang harus dilewati untuk mencapai pantai Jungwok. Dokumentasi: Jati Mulyadi

Usai berenang, kami kembali naik menuju ke ladang penduduk dan meneruskan perjalanan ke pantai Jungwok. Pemandangan sepanjang jalan sangat mengagumkan. Ladang dikelilingi oleh perbukitan dipayungi langit biru.

Berjalan di sinar matahari yang panas menyengat, membuat kami lelah. Kami memutuskan untuk beristirahat dan merebahkan diri di salah satu tempat lapang. Menikmati angin yang berhembus, ditambah pemandangan yang menampang. Hanya sebentar kami memejamkan mata dan melemaskan tubuh.

Keringat mulai kering dan tubuh siap sedia diajak berjalan. Kami melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak menuju pantai Jungwok. Melewati rumah penduduk dan tempat mereka beternak.

Kami berjalan di hari yang sangat panas, otomatis membuat kami minum lebih banyak dari biasanya. Persediaan air kami hampir habis dan kami berharap ada yang berjualan minuman di sekitar pantai.

Perjalanan sudah mencapai ujung dari jalan setapak. Kaki kami mulai menyentuh pasir putih yang lembut itu. Aku berdiri tertegun, melihat setiap detil Jungwok.

Pantai Jungwok di saat surut. Karakteristik pantai ini adalah pasir putih, air bening, dan gundukan karang di pinggir pantai. Dokumentasi : Jati Mulyadi

Pantai Jungwok di saat surut. Karakteristik pantai ini adalah pasir putih, air bening, dan gundukan karang di pinggir pantai. Dokumentasi: Jati Mulyadi

Pantai yang tidak terlalu luas dan airnya berwarna biru kehijauan. Bening sampai terlihat jelas karang dan binatang yang menghuninya. Ada satu bongkahan besar karang yang bagian atasnya hijau ditumbuhi tanaman.

Aku telah membuka peti harta karunku yang kedua. Kali ini aku menemukan kuarsa bening, dan sebongkah batu zamrud besar.

Kami yang kelelahan, langsung merebahkan diri di tikar penjaja minuman dan mi instan. Beruntung ada ibu penjaja yang berjualan di dekat kami. Sambil beristirahat, aku menghabiskan mi instan dan minum sebanyak mungkin.

Pantai ini terlalu indah untuk tidak dinikmati. Jadi, aku menyeret badan lelahku untuk mendekati pesisir basah — menikmati segarnya air menyentuh kakiku. Di situ, aku melihat siput laut, anemon, kepiting, dan ikan-ikan kecil laut berkeliaran.

Jungwok sepi, sesuai dengan harapan. Hanya ada aku, Maria Nina, dan Ibu penjual mi instan, dan seorang ayah bersama anaknya yang berlarian di tepi pantai. Sungguh pemandangan yang indah.

Anak itu bermain seperti anak-anak di masa kecilku. Mengandalkan pesona alam dan tidak melulu bermain dengan ponsel atau tablet. Orang tua itu cukup bijak dengan mengajak anaknya kemari.

Sayang sekali kami tidak bisa berlama-lama di sini. Kami harus berpindah lagi ke pantai lain yang memungkinkan kami untuk melihat matahari terbenam.

Kami bergegas meninggalkan tempat ini sambil berharap, semoga harta karun ini senantiasa dijaga. Semoga tidak ada yang mengambilnya serakah. Semoga anak-cucu kami nanti, tetap bisa melihat sama dengan apa yang kami lihat sekarang.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

Jati Mulyadi, mahasiswi Magister Manajemen UKSW angkatan 2012. Di samping kuliah, Jati juga bekerja di Kayu Arum Resort, bagian akuntansi. Di sela pekerjaan dan berkuliah, ia turut bergabung dengan @KopLo_salatiga, komunitas pecinta kopi di Salatiga. Ikuti kicauan Jati di @Mulyajati .

3 thoughts on “Jungwok, Harta Karun di Gunungkidul”

  1. STR says:

    Salam pantai. Saya juga senang mantai di Gunungkidul. Favorit saya Siung. Konon, pantai itu dinamai Siung karena di sisi baratnya terdapat sebongkah karang menyerupai taring kera alias siung wanara. Nama Jungwok sendiri baru kali ini saya dengar. Unik (agak berbau K-pop, haha). Kira-kira kenapa ya dinamai Jungwok?

  2. nan says:

    untuk mengetahui sejarah pantai jungwok, anda bisa menghubungi pak Sedariyanto. beliau adalah penjaga pantai jungwok, pantai greweng, dan pantai sedahan, tiga gugusan pantai yang masih alami. anda akan menemukan sensasi vietnam di pantai greweng, dan pasir yang sangat lembut di pantai sedahan.. untuk nama jungwok sendiri, saya pernah diberitahu tentang asal-usulnya oleh beliau, bahwa kata jung itu berarti kapal (untuk kalimat tepatnya saya agak lupa).

  3. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Saya jadi keinget Pantai Palihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *