Forped BCB Salatiga Tagih Pansus DPRD Soal BCB

Browse By

Demonstran yang tergabung dalam Forped BCB Salatiga berkumpul di Gedung DPRD Kota Salatiga untuk angkat suara.

Teddy Sulistio berdialog dengan demonstran yang tergabung dalam Forped BCB Salatiga berkumpul di Gedung DPRD Kota Salatiga. | Foto: Andreas Reuben Oktavius

Forum Peduli Bangunan cagar Budaya (Forped BCB) Salatiga, melakukan aksi damai di area pembangunan mal The SL3, kawasan Jalan Diponegoro, pada Selasa (16/9). Aksi yang melibatkan puluhan demonstran dari berbagai elemen masyarakat ini, diawali dengan long march dari Balai RW III Jetis Timur, Kelurahan Sidorejo Lor, sekitar pukul sembilan pagi.

Selain aksi damai, Forped BCB juga melakukan orasi dan memasang spanduk dengan pesan penolakan pembongkaran bangunan eks Makodim, yang kini menjadi area pembangunan mal The SL3.

Arnold Fredo Binter, koordinator lapangan, dalam orasinya mengatakan, aksi damai ini bertujuan untuk menagih hasil kerja panitia khusus (pansus) konservasi BCB oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Salatiga pada 2010 silam. Hingga kini, keputusan dari pansus tersebut tidak pernah dipublikasikan.

“Pada 2010, kami sudah melaporkan kasus pembongkaran eks Makodim ini ke pihak kepolisian. Namun, hingga hari kami tidak pernah diberitahu tentang kelanjutan dari kasus ini,” ucap Arnold.

Arnold juga mengatakan, yang berhak memutuskan pembongkaran ini hanyalah pihak Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Hal ini didukung dengan surat yang dikeluarkan BPCB pada tanggal 16 Juli 2013, yang menyatakan bahwa bangunan eks Makodim – pada zaman kolonial Belanda bernama Hotel Blommestein – dikategorikan sebagai BCB, dan pembongkaran dilakukan hanya untuk keperluan konservasi bangunan bersejarah.

“Kami mempertanyakan dasar pembongkaran eks Makodim ini, karena tidak pernah ada surat yang memutuskan persetujuan bangunan ini dibongkar,” ujar mahasiswa Pascasarjana Studi Pembangunan UKSW.

Selain di area pembangunan mal, para demonstran juga melakukan orasi di dua tempat lainnya, yakni di pasar raya dan Kantor DPRD kota Salatiga.

Saat berorasi di Kantor DPRD, Teddy Sulistio, Ketua DPRD sementara Kota Salatiga, menemui langsung para demonstran.

Permintaaan Forped BCB Salatiga untuk melakukan transparansi kerja pansus 2010, segera diiyakan Teddy Sulistio. Dilanjutkan penyerahan tanaman sebagai bentuk simbolik.

Permintaaan Forped BCB Salatiga untuk melakukan transparansi kerja pansus 2010 segera diiyakan Teddy Sulistio.

Teddy menyampaikan bahwa pihak DPRD sebenarnya tidak tahu-menahu soal rencana pembangunan mal tersebut, “Kami tidak pernah dikabari, dikasih surat, atau yang lain. Saya baru mengetahui isu ini saat anda menyampaikan kasus ini ke kami,” ungkapnya.

Teddy berjanji akan kembali membuka arsip pansus BCB oleh DPRD pada 2010 silam, dan akan mengundang Forped BCB untuk membicarakan kasus pembongkaran hal ini lebih lanjut.

“Yang terpenting, kami sebagai pihak DPRD ada di posisi untuk mendukung konservasi BCB,” tutup Teddy.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

Robertus Adi Nugroho, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi, angkatan 2013. Wartawan aktif Scientiarum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *