Perancis-India, Kuliner dan Cinta

Browse By

 

Judul Filem        : The Hundred-Foot Journey

Produser             : Steven Spielberg, Oprah Winfrey, Juliet Blake

Sutradara            : Lasse Hallstrom

Pemain                : Helen Mirren, Om Puri, Manish Dayal, Charlotte Le Bon

Durasi                  : 155 menit

Rilis                       : Agustus 2014 (Australia)

 

upThe Hundred-Foot Journey PosterBut of course, no family is an island unto itself. It is always part of a larger culture: a community.”

Kerusuhan pasca pemilu di India menyebabkan keluarga Papa (Om Puri) tidak hanya kehilangan rumah dan restoran, tapi juga istri yang dicintainya. Bersama dengan keluarga yang tersisa, ia meninggalkan India lalu mengungsi ke Eropa untuk memulai hidup baru.

Kisah serunya berawal ketika mobil yang dikendarai Papa dan keluarga, hampir mengalami kecelakaan karena rem “blong” di sebuah tempat terpencil di Perancis. Beruntung mereka selamat dan mendapat bantuan Marguerite (Charlotte Le Bon)  yang kebetulan sedang melintas jalan pegunungan tersebut.

Dengan mobil antiknya, Marguerite menarik mobil tua Papa sampai ke desa terdekat. Ia juga menjamu makan malam yang membuat keluarga Papa untuk pertama kalinya merasakan cita rasa makanan Perancis.

Dini hari, Papa diam-diam menyelinap keluar penginapan menuju suatu tempat yang sempat ia lihat selagi mendorong mobil tuanya tadi. Sebuah rumah tua di atas bukit dengan papan bertuliskan ‘Dijual’ itu menarik perhatian Papa. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli rumah tersebut, tak peduli penolakan yang dilontarkan anak-anaknya.

Ia berencana membuat rumah itu sebagai tempat tinggal sekaligus restoran barunya. Tepat di depan rumah tua Papa, ada sebuah rumah sekaligus restoran ternama yang dikelola Madam Mallory (Hellen Mirren) – restoran dimana Marguerite bekerja sebagai salah satu juru masaknya.

Madam Mallory adalah orang yang sangat berkelas dan perfeksionis dalam bisnis restorannya. Mendengar Papa akan membuka restoran India di depan restorannya, Madam Mallory berusaha menggagalkan rencana Papa dengan membeli semua bahan masakan menu restoran Papa di pasar, sehingga Papa harus pergi ke tempat yang sangat jauh untuk berbelanja. Di sinilah perang dingin antara Madam Mallory dan Papa dimulai.

Sementara perang kedua orang tua tersebut berlangsung, muncul kisah romantis antara Marguerite dan Hassan (Manish Dayal), anak Papa. Cinta dengan melibatkan kuliner ini menghanyutkan Hassan dalam pengetahuan masakan Perancis melalui Marguerite. Sejak kecil, Hassan pandai memasak berkat ajaran ibunya sehingga kini ia menjadi koki utama di restoran Papa. Menjalin asmara dengan Marguerite telah membuka pikirannya untuk memadukan cita rasa Perancis dengan India.

Tak ingin restorannya kalah bersaing, seorang juru masak restoran Madam Mallory diam-diam membakar dan merusak restoran Papa, tak ketinggalan tangan Hassan ikut terluka. Madam Mallory kemudian memecat juru masaknya itu dan membersihkan tulisan hinaan di dinding pagar rumah Papa. Semenjak kejadian tersebut, baik Madam Mallory maupun Papa, mulai menurunkan egonya masing-masing.

Hassan, yang saat itu sedang tergila-gila dengan pengetahuan kuliner Perancis, melihat kesempatan bekerja di restoran Madam karena salah satu juru masaknya baru saja dipecat. Ia tahu, Madam Mallory bukan orang yang mudah mempekerjakan juru masak karena ia memiliki standar yang sangat tinggi.

Pada saat tangannya masih terluka, Hassan mengajak Madam Mallory untuk membantunya meracik omelet. Dengan resep ala Hassan, Madam Mallory menemukan rasa baru yang akhirnya membuka pintu restorannya bagi Hassan.

Sayangnya, Hassan tidak mendapat ijin Papa untuk bekerja di sana. Papa berpikir Hassan akan meninggalkan kuliner India. Akan tetapi, hati Papa melunak ketika melihat Madam Mallory turut memohon ijin, agar mau membiarkan Hassan bekerja di restorannya.

Inilah titik awal karir Hassan.

Selama bekerja di restoran Madam Mallory, berbekal resep masakan barunya, Hassan mencetak reputasi baik. Otomatis restoran Madam Mallory menerima penghargaan Michelin Star untuk kedua kalinya. Hal itu membawa kehidupan Hassan naik tingkat.

Ia kemudian menerima tawaran bekerja di sebuah restoran berkelas di Paris. Namun, karir yang meroket di Paris tak mampu membendung rasa rindu Hassan pada keluarga dan Marguerite. Pada akhirnya, Ia memutuskan untuk kembali ke rumah tua Papa dan mendirikan usaha bersama kekasihnya, Marguerite.

Kisah filem ini diangkat dari novel Richard C. Morais – dengan judul yang sama – yang diterbitkan pada tahun 2010 silam, berkategori “PG” (Parental Guide). Bagi saya pribadi, filem drama komedi ini sangat menarik dan berkualitas. Tak banyak filem yang mengambil tema kuliner sebagai “bumbu” utama filem, sehingga saya pikir “The Hundred-Foot Journey” ini memiliki daya tarik yang kuat dibanding filem-filem lainnya. Selain itu, filem ini mengajarkan bagaimana proses akulturasi dua budaya yang kontras.

Bisa beradaptasi saja sudah sangat baik, apalagi berakulturasi. Nampaknya fenomena sosial itu yang ingin ditonjolkan dalam filem ini. Nggak rugi saya nonton filem ini.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

Ninon Melatyugra, penulis lepas yang kini menetap di Melbourne. Ia adalah alumni Fakultas Hukum, angkatan 2009.  Ikuti kicauannya di @NinonCoemi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *