Komputer ALAM, Riwayatmu Kini

Browse By

Keadaan ini tampak di Gedung Fakultas Teknologi Informasi. | Foto oleh: Andreas Oktavius Reuben

Keadaan ini tampak di Gedung Fakultas Teknologi Informasi. | Foto oleh: Andreas Oktavius Reuben

Berdasarkan laporan Scientiarum pada Juli 2009, Komputer Anjungan Layanan Akademik Mahasiswa (ALAM) diluncurkan pertama kali sebagai salah satu fasilitas baru di UKSW.

ALAM sendiri memiliki berbagai macam fitur seperti: melihat — mencetak tagihan awal, tagihan pelunasan, kartu hasil studi, kartu studi tetap, melihat transkrip nilai, kredit keaktifan mahasiswa, dan dapat juga digunakan untuk registrasi mata kuliah.

Komputer ALAM sengaja diletakkan di beberapa gedung kampus, dengan titik-titik yang mudah diakses mahasiswa. Selain itu, sistem penggunaan dan perawatan ALAM dibuat semudah mungkin.

Lalu, bagaimana nasibnya kini?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya mencoba datang ke Bagian Administrasi dan Registrasi Akademik (BARA) UKSW. Saya menemui Fx. Haryanto, Kepala BARA, di ruangannya. Ia bercerita, pada mulanya ALAM sendiri diciptakan guna membantu mahasiswa dalam mengakses Sistem Informasi Akademik Satya Wacana (Siasat).

“ALAM itu, pada prinsipnya, dulu pertama kalinya kami ciptakan untuk membantu mahasiswa dalam melihat tagihan atau lihat jadwal kuliah,” kenang Haryanto.

Seiring berjalannya waktu, dengan adanya jaringan nirkabel (Wi-fi) di mana-mana dan kemajuan teknologi seperti smartphone, mahasiswa kini bisa mengakses Siasat di mana pun, tanpa ALAM.

“Sekarang ini Komputer ALAM sudah ketinggalan jaman. Sering rusak. Tetapi dengan kita bisa mengakses dari mana pun, lewat hape berarti kan semakin canggih,” tutur Haryanto.

Haryanto mengakui bahwa intensitas penggunaan Komputer ALAM kini mulai berkurang. Kendati begitu, ia menyatakan bahwa masih ada beberapa mahasiswa yang masih menggunakan Komputer ALAM guna mengakses Siasat. “Ya, walaupun jaranglah sekarang,” kata Haryanto.

Haryanto menegaskan bahwa Komputer ALAM akan dipertahankan. “Memang sudah tidak terlalu intens seperti dulu. Tetapi sekarang dengan pengunaan ponsel di mana pun, ALAM bakal tetap ada sekalipun fungsinya berkurang,” papar Haryanto.

Ketika ditanya mengenai beberapa Komputer ALAM yang tidak menyala, Haryanto menjawab, “Kita memang kadang-kadang suka mengecek. Biasanya kalau ada yang rusak, pihak-pihak terkait bisa hubungi BTSI.”

ALAM dituntut tambah fitur baru

Guna mengetahui lebih dalam mengenai perawatan dan pemeliharaan Komputer ALAM, akhirnya saya bergegas menuju BTSI. Di sana, saya menemui Sunarko, Kepala Bagian Teknologi Informasi jaringan.

Sebelum menjelaskan bagaimana perawatan dan pemeliharaan Komputer ALAM, ia menjelaskan bahwa sebenarnya layanan ALAM sendiri sebenarnya tanggung jawab dari BARA. “BTSI di sini cuma supporting teknis. Jadi mereka punya proyek ini, dan karena berkaitan dengan IT dan sistem informasi, kami membantu,”ujarnya.

Sekalipun tak bertanggungjawab secara langsung, Sunarko mengakui bahwa perihal perawatan dan pemeliharaan Komputer ALAM sekarang ini sudah berkurang. Komputer ALAM sendiri juga masih menggunakan perangkat lama prosesor Pentium 4.

upIMG_3549

“Sistemnya ALAM ini, tidak ada on-off-nya seperti PC. Mainnya cabut. Dengan seperti itu shutdown-nya tidak normal. Nah, dengan tata cara menghidupkan seperti itu, gampang rusaklah,” kata Sunarko.

Selain itu, menurut Sunarko, bila ditinjau dari perkembangan pelayanan di UKSW kini, banyak sekali dipasang titik-titik Wifi atau hotspot. Hal ini makin memudahkan mahasiswa guna mengakses Siasat tanpa harus memakai Komputer ALAM.

“Dari perkembangan teknologi gadget, hampir semua mahasiswa pegang alat device ini. Sehingga mereka bisa mengakses dengan mudahnya di mana-mana. Dari situlah fungsi dari ALAM itu masanya bisa dikatakan sudah tidak berlaku,” ujarnya.

Sunarko menceritakan pula perkembangan Komputer ALAM saat dilengkapi fasilitas cetak tagihan. Pada perkembangannya, ketika ada fitur cetak tagihan, frekuensi cetak mahasiswa meningkat. Hal ini disayangkan Sunarko karena menurutnya mahasiswa mudah sekali membuang kertas cetakan itu. “Jadi istilahnya, kurang menghargailah,” keluhnya.

Di samping harga kertas yang cukup mahal, menurut Sunarko, penggunaan fitur cetak dinilai kurang efektif. Oleh sebab itu, fitur cetak akhirnya ditiadakan. “Toh, sistem informasi di UKSW sudah berkembang. Kalau mau bayar tagihan bank di sini, tidak perlu membawa tagihan. Cukup menyebutkan NIM,” lanjutnya lagi.

Menanggapi perihal menurunnya intensitas pemakaian Komputer ALAM sendiri, Sunarko menerka bahwa nasibnya akan mirip dengan Laboratorium Skripsi yang berada di sebelah kantor BTSI.

“Itu dulu di situ banyak yang pakai. Tetapi sekarang banyak mahasiswa yang punya laptop atau komputer di rumah, tidak laku sekarang. Akhirnya kami tutup dan dijadikan gudang ini,” jelas Sunarko sembari menunjuk ke ruang sebelah.

upIMG_3524

Oleh sebab itu, Sunarko menegaskan, apabila Komputer ALAM dipertahankan, maka fungsinya mesti ditambah. “Tidak hanya untuk akses Siasat saja. Dikembangkan seperti apa, yang mungkin bisa mengakses layanan lainnya,” tuturnya.

Sunarko mengambil contoh Komputer ALAM yang ada di dekat kantor BTSI. Komputer tersebut, menurut Sunarko, hampir tidak pernah disentuh oleh mahasiswa. Akhirnya oleh BTSI sendiri, komputer tersebut dialihfungsikan menjadi komputer pengecekan password e-mail student dan net id.

Selaras dengan Sunarko, Budi Wahyu Kurniawan, salah seorang mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan Sejarah, menyebutkan bahwa alangkah baiknya Komputer ALAM diperbaiki dan diperbaharui apabila ingin tetap dipertahankan.

“Ya, daripada mangkrak tidak jelas seperti itu. Kan tidak enak juga kalau angkatan 2014 mau pakai, ternyata mati atau rusak,” ujar mahasiswa angkatan 2008 ini.

Penyunting: Erwin Santoso dan Arya Adikristya Nonoputra

Grace Paramythia, mahasiswi Fakultas Psikologi, angkatan 2011. Wartawan aktif di Scientiarum. Ikuti kicauannya Grace di @graceparamythia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *