Malena: Erotisme di Tengah Perang Dunia Ke-II

Browse By

Judul                : Malèna

Produser         :Harvey Weinstein

Sutradara      :Giuseppe Tornatore

Pemain           : Monica Bellucci, Giuseppe Sulfaro, Luciano Federico

Durasi            : 109 menit

Rilis                : 27 Oktober 2000 (Italia)

 

malenaposterBaru-baru ini saya direkomendasikan filem lawas oleh seorang kawan. Judulnya, Malena. Kawan itu mengatakan pada saya bahwa filem ini ciamik. Sebab, menurutnya, filem ini cukup vulgar dalam mengangkat sisi perkembangan pikiran dan jiwa seorang anak lelaki yang sedang tumbuh menjadi seorang remaja.

Mendengar cerita tersebut, saya agak tertarik menontonnya. Toh, kebetulan saja, stok filem saya sudah habis. Jadi butuh pasokan filem lagi.

Ketika menontonnya, saya agak kecewa. Karena filem ini ternyata pernah saya tonton sebelumnya di televisi. Tetapi saya baru sadar, saat itu, filem ini banyak sekali dipotong. Dan pemotongan itu membuat isi ceritanya agak kurang nyambung dari satu adegan ke adegan lain. Akhirnya, saya pun memilih menontonnya lagi.

Secara garis besar, filem berbahasa Italia ini berkisah mengenai romansa seorang bocah berusia 12,5 tahun bernama Renato Amoroso (Giuseppe Sulfaro). Ia memuja seorang wanita dewasa bernama Malena (Monica Belucci) yang terkenal elok di kotanya. Sayang, tak hanya Renato seorang yang memuja Malena. Hampir seluruh pria di daratan Sisilia itu memuja wanita sensual tersebut.

Bak bola salju yang menggelinding turun dari bukit, rasa suka Renato kian membesar dan membawanya pada pelbagai tingkah laku absurd. Dari menguntit Malena tiap hari—hingga membuatnya bolos dari kelas— sampai beronani ria tiap malamnya. Ini membuatnya kerap didamprat oleh Ayahnya.

Tetapi dasar anak muda, Renato kian menjadi-jadi. Ia malah nekat mencuri celana dalam milik Malena yang tergantung di jemuran. Malamnya, celana dalam itu diciuminya sembari membayangkan kemolekkan tubuh Malena.

Suatu ketika, kabar buruk datang. Suami Malena, yang seorang perwira fasis, dikabarkan gugur di medan laga. Kabar itu jelas memukul telak Malena yang begitu mencintai suaminya. Tak hanya itu, kabar buruk tersebut juga membuat statusnya menjadi seorang janda.

Ironis, bukannya ikut berduka, kabar janda Malena jadi kabar sukacita bagi para pria seantero kota . Mereka mulai menyiapkan seribu taktik agar mendapatkan hati dan tubuh Malena.

Riuhnya para pria di seluruh kota memicu kecemberuan para wanita. Mereka pun mulai menyebarkan gosip bahwa Malena adalah wanita penghibur yang dapat ditiduri asalkan para pria membawakan makanan padanya.

Apa yang digosipkan oleh para wanita itu terdengar sampai ke telinga Renato. Maka dari itu, ia mencari cara agar dapat melindungi pujaan hatinya.

Di sela Renato sedang mencari cara melindunginya, Malena berusaha keras bertahan hidup. Maklum, uang pensiun dari almarhum suaminya tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Ditambah lagi, gosip yang dilontarkan para wanita di kota membuat Ayahnya keluar dari pekerjaannya. Lalu, bagaimana akhir kisah antara Renato dengan Malena? Alangkah baiknya, bila anda menontonnya sendiri.

Secara keseluruhan, saya merasa wajib memberikan standing applause pada Monica Belluci yang berani menampilkan lekuk tubuhnya yang indah. Ini menunjukkan totalitasnya dalam dunia seni peran. Di samping itu, bahasa tubuh yang ditampilkannya dalam filem ini, sangatlah efektif dalam membentuk keseksian seorang Malena.

Belum lagi sorotan kamera yang diarahkan oleh Lajos Koltai, sang sinematografer, mampu membentuk kesan kecantikan yang alami. Apalagi didukung arahan musik dari Ennio Morricone menambah kesan erotic women itu makin terekspos. Kolaborasi ketiganya dalam membangkitkan sisi erotisme khas Italia, bisa dibilang sukses berat.

Tetapi sekalipun semesta erotisme khas Italia tersampaikan, saya merasa Giuseppe Tornatore dalam menggambarkan sisi perkembangan seorang anak laki-laki ini masih belum optimal. Sebab, tempo yang digunakannya terlalu lambat, hingga membuat saya sebagai penontonnya bosan. Untungnya, ada terselip beberapa adegan humor yang bisa membuat saya tertawa.

Hal lain yang menarik untuk disoroti adalah setting waktu yang dipakai Tornatore. Ia memilih waktu di saat fasisme yang dipimpin Musolini hancur oleh tentara sekutu. Awalnya latar waktu ini menimbulkan sebuah tanda tanya besar dalam kepala saya: kenapa latar waktunya mesti dibuat saat PD II? Memangnya apakah ada perbedaan perkembangan anak lelaki pada latar waktu tersebut? Sebab ketika saya mengamati tingkah laku Renato—seperti beronani, bertengkar dengan Ayahnya, naksir dengan Malena—hal tersebut sesuai dengan fase perkembangan psikologis remaja pada umumnya.

Hurlock menyatakan bahwa pada saat anak laki-laki berusia 12-13 tahun akan memasuki fase negatif. Pada fase tersebut, anak-anak akan melakukan pemberontakan demi mengetahui fungsi tubuh dan seksualitas. Maka dari itu, mereka mulai naksir dengan lawan jenisnya dan mulai membangkang dari omongan orang tuanya.

Tetapi ternyata Tornatore sudah menyiapkan jawaban dari pertanyaan saya 20 menit sebelum filem ini berakhir. Latar waktu tersebut dibuat untuk menggambarkan sejarah perkembangan masyarakat pasca fasisme Musolini dikalahkan Sekutu.

Tampak sekali masyarakat saat itu sangat lekat dengan sisi agresivitas. Hal ini ditunjukkan lewat adegan di mana Malena dihakim oleh para wanita kota karena kecantikannya dianggap meresahkan masyarakat. Lalu, apa maksudnya Tornatore menunjukkan hal ini pada para penontonnya?

Mungkin lewat filem ini, Tornatore ingin menunjukkan bahwa inilah efek samping dari sebuah peperangan yang panjang. Tak hanya negara yang jadi pesakitan, tetapi masyarakatnya juga.

Sayangnya, framming sejarah perkembangan masyarakat tersebut digambarkan Tornatore secara implisit. Artinya, tidak menonjol sejak awal. Ini membuat penonton tak dapat melihatnya secara jelas.

Erwin Santoso, mahasiswa Fakultas Psikologi, angkatan 2008. Ikuti kicauannya di @dik_eL.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *