Tapak Tilas Bumi Lorosae, Tatap Indonesia Kini

Browse By

timor-timur-untold-story-kompasTimor–Timur (Tim–Tim), bukanlah nama yang asing di telinga orang Indonesia sampai saat ini. Seiring bergulirnya era reformasi di Indonesia yang ditandai dengan transisi kekuasaan dari Jenderal Soeharto ke Presiden Habibie, membawa momentum bagi rakyat Tim–Tim untuk melakukan referendum. Kini, wilayah yang pernah jadi bagian dari Indonesia itu sudah merdeka, berganti nama menjadi Timor Leste.

Pada sisi lain, berbicara tentang buku atau tulisan yang mengulas tentang Tim–Tim, saat ini sudah jarang ditemui di pasaran. Baik yang berbentuk memoir dari seorang tokoh, kerja-kerja riset untuk korupsi, sosial–politik, sampai kejahatan Hak Asasi Manusia(HAM) dari bumi Lorosae.

“Timor–Timur The Untold Story” adalah sebuah memoar yang ditulis oleh Letnan Jenderal Kiki Syahnakri, yang setidaknya bisa dijadikan pijakan untuk melihat Timor Leste sekarang.

Bisa dilihat mengenai apa yang sedang terjadi di Tim–Tim terkait peta pembangunan ekonominya. Lalu, bagaimana konflik antar personal dan eksternal partai Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente (Fretilin) dengan partai lainnya? Serta, bagaimana kebijaksanaan pendidikannya dan juga kecemasan angkatan kerja yang menanti inovasi dan keberpihakan pemerintah? Apalagi jika ditambah maraknya isu-isu korupsi proyek kecil hingga besar, berdimensi multinasional yang mengatasnamakan kesejahteraan rakyat Timor Leste semata.

Membaca buku ini, lembar demi lembar, pertama: pembaca diajak menapaki tilas sejarah mengenai proses integrasi Tim–Tim saat itu ke Indonesia. Bermula dari bagaimana sebuah ide untuk merdeka tidak akan pupus oleh derasnya mesiu yang membabi buta pada rakyat Timor– Timur, serta peran gereja dihimpit oleh dua kepentingan: Indonesia dan pro kemerdekaan.

Kedua, seperti dikatakan Peter Ustinov, sejarawan Rusia, “Bahwa siapa menguasai ingatan, dia akan berkuasa.” Ingatan dan media seperti pedang bermata dua: kembar siam dan terkadang diplomatis, cerdik tapi kadang tidak tulus.

Ketiga, yang tidak kalah penting adalah konflik antara Jenderal Prabowo dengan Letjen Kiki. Keduanya bersaing akan pentingnya membuat media tandingan dan ormas kepemudaan, guna mencuci tangan terhadap derasnya tuntutan HAM kepada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), khususnya angkatan darat.

Dari konflik ini juga bisa terlihat hubungan antara isu-isu penculikan aktivis dengan gencarnya black campaign pada pilpres 2014 di Indonesia, antara Koalisi Merah Putih vs PDI-P dan sekutu. Situasi ini masih mempunyai pola-pola komunikasi yang sama dengan apa yang terjadi di Timor–Timur pada masa lampau.

Namun, buku ini juga tetap mengundang kritik. Pertama, kritik perwira-perwira angkatan darat di Indonesia terhadap Amerika Serikat dan Australia. Indonesia tidak bisa disalahkan begitu saja, karena Indonesia melakukan invasi ke Timor–Timur juga karena ada angin segar dari AS guna mengamankan kepentingannya membinasakan ideologi komunis. Tak lain akibatnya berawal dari ekskalasi perang dingin dengan Soviet–selain hasil alam bumi Lorosae yang juga menjanjikan bagi orang-orang di Jakarta.

Kedua, berkembangnya paradigma ilmu sosial, semacam antropologi dan sosiologi dalam membangun masyarakat Tim-tim dari ABRI yang selalu dipersepsikan represif pada saat itu. Seakan-akan kebaikannya menjadi samar bagi masyarakat.

Buku ini adalah lembar nostalgia. Sebuah kebesaran hati diceritakan bagi generasi yang akan datang tentang kejamnya perang dari nama-nama tersohor seperti, Kay Rala Xanana Gusmao, Uskup Bello, bersama tokoh lainnya berpeluk sedih dan bangga dengan Letjen Kiki. Kenyataan berpisah jalan harus ditatap. Kedua belah pihak merasakan hilangnya orang-orang yang dicintai untuk magisnya kata “ kemerdekaan”.

Buku ini juga mengajak untuk waspada bagi provinsi-provinsi lain di Indonesia, seperti Papua dan Aceh–manakala penguasa hanya melihat pembangunan sebagai alat eksploitasi Jakarta. Dengan merdekanya Tim–Tim, peran media dan strategi perang lokal, ditakutkan hal ini akan membawa inspirasi bagi provinsi lain untuk berpisah. Mengingat bentang negara Indonesia yang panjang dan terpisah secara pulau, didukung juga pluralnya suku, agama dan ideologi. Hal ini, di satu sisi membawa kekayaan, namun di sisi lain membawa ancaman disintegrasi.

Membaca buku ini, akan menjadi sesuatu yang menarik jika disandingkan dengan buku  atau artikel sejenis. Salah satunya, tulisan Romo Mangun dalam “Kata-kata Terakhir Romo Mangun”,  yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia. Buku tersebut juga merupakan napak tilas persoalan pelik dari Indonesia dan Tim–Tim saat itu. Dengan begitu, pembaca dapat melihat dari dua sisi.

Terakhir, buku ini penting bagi sivitas akademika Satya Wacana, Salatiga dan juga kota-kota lain. Banyak mahasiswa Timor–Timur singgah di Indonesia, ingin melawan dengan menulis dan melakukan aksi yang tidak sedikit mengundang  pro dan kontra. Semua dilakukan guna menyongsong negara baru mereka bernama  Negara  Demokratik Timor Leste. Selamat membaca!

Sunny Batubara, alumni Universitas Kristen Satya Wacana. Kini menetap di Ibukota Pulau Dewata. Tambahkan Sunny ke daftar teman Facebook anda sekarang: Sunnyboy Batubara.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra dan Ridwan Nur Martien

2 thoughts on “Tapak Tilas Bumi Lorosae, Tatap Indonesia Kini”

  1. sunny says:

    Terima kasih buat Arya Adikristya
    dan kawan2 atas editannya. Menulis
    Referensi dari buku ini, jadi inget diskusi
    jaman dulu di kampus Satya ttg lepasnya
    Timor Timur. Ak waktu itu ngomong
    ga setuju dan tiba2 ada seniorku dari
    Timor Leste nyela dengan suara keras.
    Bahwa mungkin ak ga setuju karena
    Ak ga ngerasain kehilangan orang
    akibat diculik, ditembak didepan kita,
    gimana rasanya kata dia, terenyuh juga
    jadinya.Setelah baca buku ini n liat
    Timor Leste merdeka ya bangga juga
    akhirnya.

  2. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Beda pengalaman, beda pemikiran.

Tinggalkan Balasan ke sunny Batalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *