Manusia Salatiga

Browse By

Kota yang selalu menancap di hati ke mana pun saya pergi adalah Salatiga. Tempat di mana saya dilahirkan, dibesarkan dan sekolah hingga tamat SMA. Bukan persoalan kenangan saja, tetapi ada ikatan yang cukup kuat dengan kampung halaman tanpa bisa dijelaskan secara gamblang.

Hal ini bukan menimpa saya saja. Tetapi juga beberapa teman saya yang merantau jauh bahkan ke luar negeri. Mereka masih kerap datang mengunjungi Salatiga, meski sanak keluarga sudah tak lagi ada di sana. Bahkan ada yang membeli rumah atau mempertahankan rumah keluarga di Salatiga. Yah, walau kosong, tapi semata agar ada tempat berteduh kelak saat pulang.

Tetapi ngomong-ngomong, apa sih istimewanya Salatiga?

Konon, Salatiga adalah kotamadya terkecil. Dulu hanya ada satu kecamatan dan sembilan kelurahan saja. Sekarang sudah mekar hingga empat kecamatan. Mungkin karena kota mungil, kami bisa saling mengenal satu sama lain. Ke manapun pergi, kemungkinan ketemu dengan orang yang dikenal cukup besar.

Dari kecil saya pun terbiasa melihat perbedaan dan keberagaman. Bahkan untuk berteman dengan orang asing pun biasa saja. Keberagaman suku ini datang dari kualitas pendidikan yang cukup bagus di Salatiga. Buktinya, murid yang datang bukan hanya dari Salatiga, tetapi juga dari kabupaten dan kota tetangga.

Arie Kurniawan dan Arfian Fuadi. | Sumber: http://yess-online.com/

Arie Kurniawan dan Arfian Fuadi. | Sumber: http://yess-online.com/

Meski jaman dulu belum ada internet dan telepon masih jarang – dan mahal, tetapi kami membicarakan Amerika, Singapura dan negara lain adalah topik pembicaraan biasa bagi kawula muda saat itu. Jadi, jangan heran bila mimpi anak Salatiga – yang notabene ndeso – adalah pergi belajar atau bekerja di luar negeri.

Kualitas manusia Salatiga patut dibanggakan. Beberapa manusia hebat di negeri ini berasal dari Salatiga.

Seperti misalnya, dua anak muda lulusan SMK di Salatiga baru-baru ini ramai dibicarakan media karena hasil karyanya memenangkan lomba General Electric Global (GEG), mengalahkan insinyur dari berbagai belahan dunia. Arie Kurniawan dan Arfi’an Fuadi, namanya. Kakak beradik asal Canden, Salatiga yang berhasil membuat CEO General Electric datang ke Salatiga karena penasaran dengan kehebatan mereka.

Ada lagi Ahmad Bahruddin, sang penggagas sekolah alternatif berbasis komunitas Qaryah Thayyibah (QT) yang telah mendapatkan berbagai penghargaan di luar negeri. Bahkan metode pendidikannya sejajar dengan Kampung Isy Les Moulineauk di Prancis atau pun Kecamatan Mitaka di Tokyo. Jadi kalau bicara Salatiga, apa istimewanya, bukan alam atau lokasinya tetapi manusianya.

Ironisnya, potensi manusia Salatiga ini kurang dimanfaatkan oleh aparat pemerintahnya. Mereka malah sibuk terpaku pada pajak, lahan parkir di bahu jalan dan menjual aset pemerintah guna meningkatkan pendapatan asli daerah. Padahal di jaman teknologi dan informasi sekarang ini, sumber daya manusia mutlak penting.

Ainun Chomsun, pendiri Akademi Berbagi. Akademi Berbagi (Akber) adalah gerakan sosial yang bergerak di bidang pengembangan masyarakat, lewat kelas-kelas kecil yang menghadirkan para pakar untuk membagi ilmunya secara cuma-cuma.  Ikuti kicauan Ainun di @pasarsapi  

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra, Ridwan Nur Matien, dan Erwin Santoso

4 thoughts on “Manusia Salatiga”

  1. STR says:

    No comment buat konten tulisan. Manusia Salatiga dari dulu ya begitu adanya. Yang menarik justru tulisan sependek ini yang ngedit tiga orang (lihat daftar penyunting). Apa nggak boros waktu dan SDM? Jangan-jangan setelah diedit keroyokan oleh ego tiga orang, suara asli penulisnya sendiri malah tenggelam.

  2. Arya Adikristya Nonoputra says:

    STR yang baik,
    Tak perlu banyak alasan. Saya akui, memang boros waktu dan SDM. Tetapi, sebelum diedit tiga orang (sebelumnya diedit dua orang), suara penulis justru banyak yang hilang. Setelah saya masuk, suara penulis boleh dibilang mendingan dari yang sebelumnya.

    Terima kasih sudah mengingatkan. 😀

  3. Aunul Fauzi says:

    salatiga punya sejarah panjang dan dalam, dibuktikan salah satunya dnegan banyaknya rumah rumah dari zaman belanda di kiri kanan jalan utama kota – ada yang terawat ada juga yang kurang terawat .. ini saja sudah jadi aset luar biasa untuk wisata budaya/sejarah bila ingin dimanfaatkan pemerintah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat .. di luar itu semua, salatiga sangat menarik buat tempat bersantai . udaranya masih dingin .. 🙂

  4. Ika Hutami says:

    Wah editornya jumawa sekali. Luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *