UKSW dan Batan Tandatangani MoU Pemanfaatan Nuklir untuk Medis

Browse By

Penandatanganan PKS antara Suryasatriya Trihandaru dengan Susilo Widodo. Sumber: sainsmat.uksw.edu

Penandatanganan PKS antara Suryasatriya Trihandaru dengan Susilo Widodo. Sumber: sainsmat.uksw.edu

Jumat siang (10/10), digelar acara penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang pemanfaatan nuklir untuk keperluan medis. Pengesahan ini dilaksanakan di Auditorium FTI UKSW lantai 4.

John Titaley, Rektor UKSW, dengan Djarot Sulistio Wisnubroto, Kepala Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) menandatangani MoU. Sedangkan Suryasatriya Trihandaru, Dekan FSM UKSW, dengan Susilo Widodo, Kepala PSTA (Pusat Sains dan Teknologi Akselerator) Batan menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS). Menurut Titaley, kerjasama ini kian mengukuhkan UKSW sebagai research university.

Kerjasama ini diinisiasi oleh Batan dengan membuat Konsorsium Fisika Medis BNCT (Boron Neutron Capture Cancer Therapy). Batan mengajak berbagai instansi untuk bergabung dengan konsorsium ini, antara lain perguruan tinggi di daerah Jateng-DIY ditambah Pontianak, rumah sakit, juga industri teknik. Batan menempatkan salah satu satuan kerjanya, PSTA Batan, sebagai anggota konsorsium.

Susilo Widodo, Kepala PSTA Batan, dalam sambutannya mengatakan, “Peraih Nobel dari Jepang, namanya Suzuki, pernah mengatakan ‘Oyo yara iso yare’, artinya jika kita akan melakukan aplikasi (oyo), jangan lupakan yang basic (iso). Kita (konsorsium—red) bermain di basic. Oleh karena itu, kita berharap koalisi ini permanen.”

Konsorsium dengan Kemristek RI

Perwakilan anggota Konsorsium Fisika Medis BNCT berkumpul di Ruang Rapat FSM untuk mengadakan rapat bersama Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) RI yang diwakili Sulistyo Nugroho, Jumat pagi (10/10). Kemristek RI diundang karena dianggap dapat membantu dari segi pendanaan.

Kemristek RI mendapat pinjaman dari Bank Dunia sebesar 100 juta Dolar Amerika yang akan digunakan untuk penelitian dasar melalui satuan kerja yang bernama Riset-PRO (Research and Innovation in Science and Technology Project). Kemristek RI melalui Riset-PRO, menyatakan bersedia membantu konsorsium melalui program Insentif Riset Sinas (Sistem Inovasi Nasional).

Meskipun begitu, profesor riset dari PSTA Batan, Yohanes Sardjono, berharap konsorsium ini tidak hanya mengandalkan dana dari Kemristek saja, tapi juga menghasilkan dana sendiri (swadana) sehingga konsorsium ini dapat lanjut di masa mendatang.

Rapat konsorsium ini juga dimaksudkan untuk menyatukan visi dan misi menjelang kerjasama strategis selanjutnya dengan Kyoto University, Jepang, dalam seminar internasional yang akan dilaksanakan di Bali, pada 10-11 November mendatang.

Stephen Kevin Giovanni, mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika, angkatan 2014. Ia merupakan wartawan magang Scientiarum. Tambahkan Stephen dalam daftar pertemanan Facebook anda: Stephen Kevin Giovanni.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

One thought on “UKSW dan Batan Tandatangani MoU Pemanfaatan Nuklir untuk Medis”

  1. Eka Simanjuntak says:

    Semoga upaya UKSW menjadi reserach University bukan diukur dari banyaknya MoU yang ditandatangani, tapi dari seberapa besar komitmen University berinvestasi dalam meningkatkan kemampuan para dosen/peneliti, serta sarana dan prasarana penelitian yang dibutuhkan.

    UKSW tidak boleh ikut-ikutan seperti banyak Universitas di Indonesia, yang menjadikan ‘Research University’ hanya sebatas ‘gimmick’ untuk jualan saja. Research University itu diukur dari outputnya, bukan seberapa gencar kampanyenya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *