Kuhabiskan Berjam-jam

Browse By

Aku pernah berbincang dengan seorang kawan, kawan yang baru aku temui pertama kali. Pintar, bahkan sangat cerdas. Ia berbicara panjang lebar mengenai banyak topik bab-bab kehidupan. Aku kagum akan ia, ia tak mau mendapat semangat dari penderitaannya, karena ia beranggapan bahwa kata “semangat” itu hanya untuk orang yang putus asa. Kukagumi ia yang mampu mengekstrak hidup menjadi nilai pendidik.

Ia menggiringku kembali merenungkan arti pendidikan, mengajakku beromantisme akan zaman kuno di tanah kita diskusi, membongkar kembali arti brahmana sebagai padanan kata dari intelektual kini. Ia bergumam, “Manusia pandai kala itu, tak lagi berpikir akan hal materil, bahkan terlepas, memisahkan. Kini aku temukan banyak pergeseran akan manusia pandai yang tak lain produk dari sistem pendidikan, rakus nian ketika ia memiliki kunci. Bukankah dulu kunci ini semakin membuat orang terbebas akan hal materil privat? Kini kunci ini malah mengunci dari dalam otak yang ter-mindset harta dan tahta dengan tangga edukasi. Tak semua memang, tapi sisa pilihan lain tetaplah tersungkur di kasta bawah, namun alangkah sulit kau temui manusia langka semacam itu.” Kujawab, “Kini kumenjumpainya.” Manusia cerdas tanpa harus memasuki struktur pendidikan formal, hanya bergumul pada hidup dan bercermin tuk memandang pantulan refleksi diri tak lagi otonom.

Kawanku ini membawaku kembali pada perenungan. Memutarkan otakku untuk mencari pembenaran atau bahkan hanya pelegaan atas derita yang dipikulnya, sebagai pembanding atau bahkan kata sifat yang berkasta lebih tinggi dari bahagia. Namun bahagia itu tak kulihat dari sorot matanya yang merintih kesakitan. Kutemani ia meski hanya sekali, mendengarkan apa yang tak tersampaikan pada kesepian.

Kawanku, ingin aku menjadi kakimu yang menghalangimu berkelana. Aku ingin pula menjadi kepalamu yang tak hentinya diputar-putarkan oleh kesakitan. Setidaknya kembali menyalakan matamu yang mulai sayu. Manusia cerdas yang terjebak pada kekalahan tubuh sendiri. Tubuh yang tak kau hiraukan mati hidupnya. Kau paksakan mata tetap menyala 22 jam dalam sehari, hanya karena kau takut waktumu tak lagi lama, kau sadari benar itu.

Natalia Avikma Manuk, mahasiswa Sosiologi UAJY (Universitas Atma Jaya Yogyakarta) & volunteer Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rumah Impian, sebuah LSM yang berkonsentrasi pada pendampingan dan pendidikan anak jalanan. Natalia kerap mempublikasikan tulisan melalui sosial media, utamanya di Facebook: Natalia Avikma Manuk. Ikuti kicauannya di @NataliaAvikmaM.

Penyunting: Erwin Santoso

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *