Pro-Kontra Pembangunan Mal di Salatiga Dalam FDMU

Browse By

Catatan bagi pemerintah kota Salatiga, mal bukanlah ikon kota, pembangunan mal juga perlu melihat dari segi psikologis perilaku mahasiswa selaku pasar yang potensial. Hal itu diungkapkan Martin Dennise Silaban, salah satu mahasiswa Fakultas Teologi, dalam acara Forum Diskusi Mahasiswa UKSW (FDMU), yang diselenggarakan Lembaga Kemahasiswaan (LK) UKSW. Diskusi ini mengangkat isu “Pembangunan Mal (Citywalk) di Salatiga, Ancaman atau Anugerah” pada Kamis (6/11), bertempat di ruang E126 UKSW, dan dihadiri 160 peserta dari 133 yang telah mendaftar.

Sebuah video tanggapan dari masyarakat tentang rencana pembangunan mal mengawali berlangsungnya acara tersebut, sebelumnya diskusi dibuka oleh Pembantu Rektor V, Neil Semuel Rupidara.

Diskusi ini menghadirkan perwakilan Walikota Salatiga dan pihak dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Danny Zacharias, serta delegasi mahasiswa dari setiap fakultas. Diskusi ini bertujuan agar mahasiswa kritis dalam kontribusi pembangunan kota. Adapun pembanguan mal yang rencananya  berlokasi di bekas markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0714 Salatiga ini bukan sekadar isu, melainkan sudah rencana dari pemerintah.

Valentino, staf yang mewakili Walikota Salatiga, menjelaskan faktor-faktor yang mendukung pembangunan mal sebagai ikon kota, yakni sebagai ruang investasi dan ekonomi. Faktor lain, ada kecenderungan sebagian masyarakat Salatiga yang belanja di luar kota, dan kerinduaan keberadaan wisata belanja di Salatiga yang representatif.

Namun, di balik perencanaan pembangunan mal tersebut, terdapat permasalahan yang membayangi, antara lain persetujuan tetangga di sekitar lokasi yang masih diakomodir oleh pemerintah, pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang masih di dalam proses, dan Ijin Tata Ruang yang masih dalam konsultasi dengan Badan Lingkungan Hidup (BLH).

“Terkait pembangunan mal, ada yang setuju, ada yang tidak, dan ada pula yang setuju dengan catatan. Mahasiswa bisa melaporkan ke walikota dengan melayangkan surat,” ungkap Valentino.

Hardiono Arron, Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas (SMU), menjelaskan bahwa sebelum dilaksanakan diskusi, SMU telah mengadakan riset di lingkungan kampus kepada mahasiswa UKSW.

“Dalam bentuk pertanyaan seperti; perlukah diskusi ini dilaksanakan? Perlukah dibangun mal di Salatiga? Apakah ada pengaruh dengan dibangunnya mal? Apakah pembangunan mal akan berdampak kepada perubahan positif? Apakah Anda mengetahui bahwa akan dibangun mal di Salatiga? Dan apakah setuju dengan pembangunan city walk? Dan sebagian besar mereka menjawab ya,” ucap Arron.

“Menarik, forum diskusi sangatlah diperlukan, dan acara ini juga dapat untuk memberikan masukan bagi pemerintah kota. Saya tidak setuju jika mal didirikan ditengah kota, lebih baik didirikan di pinggir kota untuk menunjang ekonomi kreatif dari masyarakat sekitar,” ungkap Rangga Adiwijaya, mahasiswa double degree Magister Manajemen dan Magister Sosiologi Agama, ketika diwawancarai Scientiarum usai acara.

Pranazabdian Waskito, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, angkatan 2014.

Penyunting: Ridwan Nur Martien

One thought on “Pro-Kontra Pembangunan Mal di Salatiga Dalam FDMU”

  1. Arya Adikristya Nonoputra says:

    Ini diskusi atau seminar? Atau lebih tepatnya sosialisasi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *