Usulan 10 Program Studi Baru untuk UKSW

Browse By

Saya memang baru sebentar menjadi warga kampus tercinta ini. Tetapi saya merasa beruntung dan bersyukur, karena di sini saya bisa menggali bakat-bakat saya, dan menekuni minat-minat saya di sini. Istilah kerennya pursue my interest. Saya juga belum lama bergabung dengan pers mahasiswa, tapi saya beruntung dapat bertemu orang-orang hebat, melalui profesi saya sebagai wartawan magang. Saya juga beruntung dapat menemukan teman-teman mahasiswa yang sudah seperti jurnalis profesional. Sesuatu yang menakjubkan.

Kali ini saya akan menumpahkan sebagian unek-unek saya yang semoga, diperhatikan. Saya melihat UKSW sebagai sebuah perguruan tinggi yang memiliki sejarah luar biasa, dan berisi orang-orang yang luar biasa. Walaupun begitu, saya rasa UKSW perlu melihat peluang kerja yang belum tersentuh oleh program-program studi yang ada di UKSW. Oleh karena itu, untuk masa mendatang, saya mengusulkan 10 program studi (prodi) baru untuk UKSW. Saya berharap, UKSW menjadi universitas swasta terbaik di Indonesia, yang tidak kalah dengan universitas negeri dan tidak dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat.

Sekarang saya mulai untuk mengupas usulan saya satu persatu.

  1. Pendidikan Ilmu Kebumian, dimasukkan ke Fakultas Sains dan Matematika (FSM)

Mengapa saya usulkan prodi ini? Satu hal yang terpenting, karena ilmu kebumian mulai populer di Indonesia ini, tetapi sampai sekarang belum ada lulusannya, bahkan belum ada satupun universitas di Indonesia yang membuka jurusan ini. Ilmu kebumian memang ilmu yang  menyeluruh, karena dalam ilmu kebumian kita akan mempelajari daratan hingga lautan, tanah hingga air, udara dan luar angkasa, pertambangan hingga cuaca serta iklim.

Pertanyaan yang mungkin muncul adalah: Mengapa harus pendidikan, bukan ilmu murni saja? Karena nantinya lulusan prodi ini akan bekerja sebagai guru ilmu kebumian di SMA/MA seluruh Indonesia, walau tidak tertutup kemungkinan lulusannya bekerja di bidang lain. Nantinya guru-guru ini membina anak didiknya agar dapat mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang kebumian, International Earth Science Olympiad (IESO), maupun olimpiade ilmu kebumian yang diadakan oleh beberapa universitas.

Pertanyaan yang mungkin juga muncul adalah: Mengapa tidak geografi saja? Memang betul UKSW pernah membuka prodi Pendidikan Geografi jenjang D3 dan S1, walau akhirnya tutup. Saya mendapatkan informasi ini dari buku wisuda 2014. Saya punya alasan kuat untuk ini. Saya kebetulan pernah mempelajari ilmu kebumian untuk mengikuti OSN bidang kebumian pada 2012. Menurut hasil pembelajaran saya, kebumian dan geografi itu bagaikan anak kembar tapi beda, walau tidak seekstrem Primus Yustisio dan Ucok Baba dalam sinetron ‘Si Kembar’ ketika saya SD. Ibu kedua ilmu ini sama, yaitu bumi. Tetapi, kebumian lebih mengarah ke ilmu alam, sedangkan geografi condong ke ilmu sosial.

Guru kebumian bisa menjadi guru geografi, paling tinggal memperdalam lagi aspek sosial yang ada dalam geografi. Sedangkan guru geografi agak sulit menjadi guru kebumian, karena biasanya guru geografi berbasiskan ilmu sosial, sedangkan dalam kebumian ada hitung-hitungan fisikanya, terutama dalam geologi dan meteorologi.

Lantas, siapakah dosen yang akan mengajar prodi ini? Saya melihat para dosen FSM mampu mengajar prodi ini. Para dosen kimia dapat mengajar prodi ini, karena mereka dapat memasukkan ilmu lingkungan (environmental science) dalam mata kuliah kimia kontekstual. Ilmu lingkungan ini sangat diperlukan dalam ilmu kebumian, agar nantinya lulusan program ini menjadi orang yang peduli lingkungan, tidak mengeksplorasi sumber daya yang ada secara berlebihan, sampai alam menjadi korban. Juga saya melihat Suryasatriya Trihandaru, Dekan FSM, dapat mengampu prodi ini, karena Ndaru—demikian ia akrab disapa—menguasai astronomi, fisika, dan modeling matematika. Ilmu-ilmu tersebut sangat diperlukan dalam ilmu kebumian.

Walaupun begitu, UKSW saya rasa tetap perlu mencari dosen baru untuk mengajar prodi ini. Dosen baru tersebut prasyaratnya pernah belajar ilmu ini: teknik geologi, teknik geofisika, teknik geodesi, teknik pertambangan, teknik perminyakan, teknik fisika, geofisika, teknik geomatika, meteorologi, oseanografi, geografi, ilmu lingkungan, teknik lingkungan, astronomi. Inilah yang saya sebut bahwa ilmu kebumian adalah ilmu yang menyeluruh.

Atau mungkin dosen-dosen yang sekarang ada dapat menjalani studi lanjut lebih dulu. Destinasi dalam negeri untuk studi lanjut setahu saya hanya di ITB, karena mereka memiliki jurusan S2 dan S3 Sains Kebumian. Sedangkan destinasi di luar negeri lebih banyak. Australia, Inggris, dan Amerika Serikat merupakan destinasi yang baik untuk belajar earth science atau geoscience. Korea Selatan juga bisa menjadi destinasi tepat, karena IESO justru diinisiasi Korea Selatan, bukan Eropa dan Amerika. Jika ingin studi lanjut tetapi tetap ingin di Salatiga, dapat memilih belajar lewat internet (online education) di Universitas Macquarie, Australia. Nama programnya Graduate Certificate of Geoscience, durasinya sekitar setahun. Sekadar informasi, Graduate Certificate adalah jenjang setelah S1 tapi sebelum S2 di luar negeri.

Pada intinya, saya sangat memprioritaskan usul ini karena prodi ini peluangnya masih terbuka sangat lebar. Olimpiade kebumian di Indonesia sudah berjalan sejak 2008, tetapi saat ini tenaga kependidikan yang ada masih jauh dari memadai. UKSW semoga bisa menjadi pionir pendidikan ilmu kebumian di Indonesia.

  1. Pendidikan Kimia, dimasukkan ke FSM

Mengapa saya usulkan prodi ini? Karena saya melihat banyak SMA/MA, SMK/MAK, dan SMP/MTs di Indonesia yang memerlukan guru kimia. Kimia seharusnya dapat menjadi pelajaran yang menyenangkan, bukan sekadar hafalan dan praktek yang begitu banyak.

Guru kimia yang dihasilkan UKSW harus memiliki ciri khas, yaitu dapat menjadi pembina olimpiade kimia di sekolahnya. Anak-anak didiknya nanti diharapkan dapat mengikuti OSN bidang kimia, International Chemistry Olympiad (IChO), juga olimpiade kimia yang diadakan berbagai universitas.

Kebetulan pula UKSW baru memiliki prodi Kimia, jadi belum mengakomodasi calon mahasiswa yang ingin mengambil prodi Pendidikan Kimia.

Sebenarnya ini usul yang cukup usang, karena para dosen FSM sudah lama mengusulkan prodi ini (selain S2 Pendidikan Fisika), walau masih dalam proses. Rencananya ada beberapa dosen yang akan menjalani studi lanjut di bidang pendidikan kimia. Sementara ini baru ada satu orang yang sudah menjalaninya. Semoga proses ini bisa dipercepat sehingga dapat segera meluluskan guru kimia yang handal dan berkualitas.

  1. Pendidikan Bahasa Mandarin (Bahasa Tionghoa), dimasukkan ke FBS (Fakultas Bahasa dan Sastra)
  2. Bahasa dan Budaya Tiongkok, dimasukkan ke FBS

Mengapa saya usulkan dua prodi ini? Karena Indonesia sudah memulai perdagangan bebas, dan salah satu negara yang barangnya sangat banyak masuk Indonesia adalah Tiongkok. Tiongkok sudah memulai kerjasama dengan ASEAN lewat CAFTA (China-ASEAN Free Trade Area), dan invasi barang-barang Tiongkok akan terus berlanjut, karena free trade membuat biaya ekspor dapat ditekan hingga nol.

Bahasa utama Tiongkok, yaitu Mandarin, juga merupakan bahasa yang paling banyak digunakan orang di dunia, karena penduduk Tiongkok sendiri sekitar 1,5 milyar jiwa. Belum lagi orang-orang Tionghoa yang tersebar di seluruh dunia dan orang-orang yang sudah belajar bahasa Mandarin sedunia. Untuk itu, diperlukan orang-orang yang bisa berbahasa Mandarin dengan baik dan benar.

Memang sudah agak banyak program bahasa Mandarin di Indonesia, tapi cukup banyak lulusannya yang belum dapat berbahasa Mandarin dengan baik dan benar. Dalam bahasa Mandarin, kesulitannya adalah mengidentifikasi huruf kanjinya yang sangat banyak (lebih dari 5.000 huruf), melafalkannya dengan tepat, dan mengartikan katanya dengan tepat sesuai konteks kalimat (interpretasi). Saya sendiri cukup kesulitan dalam hal ini. Huruf kanji Mandarin sendiri ada dua golongan utama, yaitu Cina Sederhana (Simplified Chinese) yang goresannya sudah disederhanakan oleh orang-orang komunis Tiongkok, dan Cina Tradisional (Traditional Chinese) yang goresannya lebih rumit dan dipakai di Taiwan yang nasionalis.

Di Indonesia generasi penutur asli (native speaker) yang ada juga hampir habis, karena banyak sekali yang sudah berumur di atas 60 tahun, menurut pengalaman saya di Solo. Generasi penutur yang baru relatif belum ada karena pengucilan etnis Tionghoa yang terjadi selama Orde Baru. Generasi penutur yang ada pun belum tentu bisa bahasa Mandarin yang resmi dipakai di Tiongkok dan seluruh dunia, yaitu dialek Han (Hanyu pinyin). Rata-rata dari mereka bisanya dialek yang lain, seperti dialek Hokkian, Tiociu, Hakka, dan Kanton.

Memang sudah mulai ada guru bahasa Mandarin muda, tapi kebanyakan hanya lulusan D3 Bahasa Mandarin, seperti yang terjadi di Solo. Atau malah lulusan dari Tiongkok langsung. Tapi tidak semua orang mampu pergi ke Tiongkok, karena alasan biaya. Sedangkan lulusan dalam negeri kebanyakan lafalnya masih belum bagus.

Kurikulum bahasa Mandarin di Indonesia juga belum tersusun secara pasti, padahal bahasa Mandarin juga perlu dibuat seperti bahasa Inggris. Akibatnya, pelajaran bahasa Mandarin di Indonesia relatif masih berkutat pada pelajaran yang dasar (basic), belum ke tingkat menengah, apalagi tingkat mahir. Pengalaman pribadi, semasa SD, saya belajar bahasa Mandarin tingkat dasar, di SMP tingkat dasar, di SMA tingkat dasar lagi. Padahal, saya pernah les Mandarin dari TK hingga SMP, materinya sudah tingkat menengah.

Pasti ada pula orang-orang yang menanyakan, mengapa Bahasa dan Budaya Tiongkok, bukan Sastra Cina? Karena Tiongkok tidak hanya sekadar sastra. Tiongkok memiliki kekayaan budaya yang juga luar biasa seperti Indonesia. Di sana ada beragam suku bangsa, mirip Indonesia. Perbedaan mendasarnya, bahasa utama di sana hanya satu, Mandarin, dengan dialek yang banyak. Orang Indonesia perlu lebih memahami budaya Tionghoa, karena sudah telanjur banyak stereotip yang melekat pada orang keturunan Tionghoa di Indonesia. Istilah kerennya cross cultural understanding.

Saya juga terinspirasi dari Universitas Bunda Mulia di Jakarta yang pertama kali membuka program ini, di saat universitas lain biasanya memiliki Sastra Cina. Gelar yang mereka berikan kepada mahasiswanya bukan S.S. (Sarjana Sastra), tetapi S.Hum. (Sarjana Humaniora). Oleh karena itu, saya merasa FBS UKSW ketika membuka prodi ini perlu bekerjasama dengan universitas tersebut, selain Universitas Ma Chung di Malang yang mempelopori misi penguasaan bahasa Mandarin untuk seluruh mahasiswanya. Juga UKSW perlu meningkatkan lagi kerjasama dengan universitas di Taiwan, Hongkong, dan Tiongkok.

Diharapkan, nantinya prodi Pendidikan Bahasa Mandarin menghasilkan lulusan yang menjadi guru bahasa Mandarin di sekolah-sekolah seluruh Indonesia, mulai dari jenjang KB/PG, TK/RA/BA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, hingga SMK/MAK. Sedangkan lulusan prodi Bahasa dan Budaya Tiongkok dapat diproyeksikan bekerja di berbagai bidang; seperti penerjemah, pegawai Kementerian Luar Negeri, dan staf humas perusahaan.

  1. Bahasa dan Budaya Jepang, dimasukkan ke FBS

Mengapa saya mengusulkan prodi ini? Karena yang saya tahu, UKSW menjalin kerjasama yang begitu erat dengan Kwansei Gakuin University, Jepang. Jadi, mengapa tidak sekalian membuka prodi yang berbau kejepang-jepangan?

Itu tadi alasan internal. Alasan eksternalnya ada banyak, tetapi saya ringkas saja. Pertama, karena banyak juga pabrik Jepang yang berada di Indonesia. Kedua, (lagi-lagi) Jepang bukan hanya sekadar sastranya, melainkan budayanya juga harus dipelajari. Budaya Jepang masih eksis di Indonesia, maksud saya seperti game, cosplay, anime, harajuku, J-Pop, dan J-Rock. Ketiga, sebagai sarana cross cultural understanding.

  1. Bahasa dan Budaya Korea, dimasukkan ke FBS

Mengapa saya mengusulkan prodi ini? Alasannya mirip dengan yang sebelumnya.

Pertama, karena budaya Korea, terutama K-Pop menginvasi Indonesia begitu rupa. Tidak mau kan kalau kita hanya menjadi penonton budaya Korea? Budaya Korea harus dipelajari agar kita memahaminya. Korea bukan sebatas sastra, K-Pop, atau boyband dan girlband.

Kedua, karena banyak sekali barang-barang Korea yang masuk ke Indonesia, selain barang-barang Tiongkok tentunya. Karena hal tersebut, kita perlu menjalin hubungan perdagangan dengan Korea sebaik mungkin.

Ketiga, bahasa dan budaya Korea perlu dipelajari sebagai sarana cross cultural understanding.

Keempat, karena yang membuka prodi ini baru sedikit. Sejauh yang saya ketahui, yang mempunyai prodi ini baru Universitas Indonesia –dengan nama yang sama persis– serta Universitas Gadjah Mada. Prodi sastra Korea pun saya belum pernah dengar, entah mengapa.

  1. Pendidikan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), dimasukkan ke FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan)

Mengapa saya mengusulkan prodi ini? Karena saya melihat, banyak SD/MI dan SMP/MTs di Indonesia yang sangat memerlukan guru IPA Terpadu. IPA tidak seharusnya menjadi momok bagi anak-anak Indonesia. Memang sudah banyak usaha untuk membuat IPA menjadi menyenangkan, tetapi usaha itu harus terus dilanjutkan hingga seluruh Indonesia merasakannya. Juga SDM pengajarnya harus siap sedia dalam hal ini.

Berbicara soal pengalaman, menurut buku wisuda 2014, UKSW pernah berpengalaman dalam mengadakan prodi ini, walau hanya setingkat D1 dan D2. Saya melihat, seharusnya program ini dihidupkan lagi dengan tingkat S1.

UKSW juga awalnya didirikan sebagai tempat mendidik para guru. Visi ini saya rasa perlu dipertajam lagi dengan cara mendidik para guru yang sesuai dengan keperluan pendidikan Indonesia. Dan Pendidikan IPA ini salah satu yang diperlukan Indonesia.

  1. Pendidikan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), dimasukkan ke FKIP

Mengapa saya mengusulkan prodi ini? Karena saya melihat, banyak SD/MI dan SMP/MTs di Indonesia yang juga sangat memerlukan guru IPS Terpadu. IPS juga tidak seharusnya menjadi momok bagi anak-anak Indonesia. Saat ini, IPS masih mendapat stigma sebagai ilmu sekadar hafalan. Jadi, IPS perlu dibawakan pengajar dengan lebih menyenangkan dan lebih menyentuh kehidupan sehari-hari. Mungkin IPS dibuat menjadi seperti dongeng atau cerita kepahlawanan, mungkin IPS dipraktekkan dengan berjualan sesuatu, dan sebagainya.

Jika melihat pengalaman, menurut buku wisuda 2014, UKSW pernah berpengalaman dalam mengadakan prodi ini, walau hanya setingkat D1. Saya melihat, seharusnya program ini dihidupkan lagi dengan tingkat S1.

Dan sekali lagi, alasan yang sama dengan usul saya sebelumnya, prodi ini perlu diadakan untuk mempertegas misi UKSW mendidik para guru yang sesuai dengan keperluan pendidikan Indonesia.

  1. Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, dimasukkan ke FKIP atau Fiskom (Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi)

Mengapa saya mengusulkan prodi ini? Karena saya melihat, banyak SMA/MA serta SMK/MAK di Indonesia yang memerlukan guru sosiologi dan antropologi. Tetapi saat ini saya melihat, masih banyak guru di Indonesia yang merangkap jabatan sebagai guru sosiologi-antropologi dan guru mata pelajaran lain.

Dan banyak juga guru sosiologi-antropologi yang gelar kesarjanaannya bukan pendidikan. Saya tidak antipati terhadap guru yang kesarjanaannya bukan pendidikan, tapi alangkah baiknya kalau guru-guru di Indonesia merupakan para sarjana pendidikan. Maksudnya agar setiap insan di Bumi Pertiwi ini dapat bekerja sesuai bidangnya dan sukses di bidang tersebut. Seperti Bob Sadino yang pernah berkata, “Para lulusan manajemen, jadilah manajer. Para lulusan pendidikan, jadilah guru. Para lulusan pertanian, jadilah petani.”

Dan lagi, UKSW perlu mempertegas visinya sebagai kawah candradimuka untuk mendidik para guru. Kita juga harus dapat bersaing dengan universitas para guru lainnya, baik yang negeri maupun swasta.

  1. Pendidikan Agama Kristen (PAK), dimasukkan ke FKIP atau Fakultas Teologi

Ini usul saya yang terakhir. Mengapa saya mengusulkan prodi ini? Karena saya melihat banyak sekali sekolah di Indonesia yang memerlukan guru agama Kristen. Bukan untuk Kristenisasi, sama sekali bukan. Tetapi untuk membimbing para siswa yang beragama Kristen supaya hidup sesuai jalan Tuhan.

Saya melihat pengalaman, menurut buku wisuda 2014, UKSW ternyata pernah membuka prodi ini untuk jenjang D1, D2, dan S1. Saya sangat menyayangkan mengapa prodi ini ditutup, terutama untuk jenjang S1. Memang menurut data yang ada, jumlah lulusan S1 PAK sedikit, tepatnya 24 orang. Namun itu sangatlah berharga untuk menyelamatkan generasi yang ada.

Dosen agama yang kita miliki pun hebat-hebat, lha kok prodi ini sampai ditutup? Jadi saran saya, kalau dahulu prodi ini masuk FKIP, sekarang prodi ini dimasukkan ke Fakultas Teologi saja, agar para calon guru agama dipersiapkan pemahamannya secara lebih matang. Tetapi kalau toh akhirnya dimasukkan FKIP kembali, juga itu dipersilakan. Semua tergantung universitas.

Demikianlah usul saya sebagai warga kampus, sebagai pengamat pendidikan amatir, juga sebagai orang yang peduli akan kemajuan Satya Wacana. Saya ingin melihat UKSW dapat bersaing dengan universitas-universitas lain, baik swasta maupun negeri, bahkan mancanegara. Tentu saja dengan tidak meninggalkan ciri khas yang ada.

Stephen Kevin Giovanni, mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika, angkatan 2014. Wartawan magang Scientiarum. Jika tertarik diskusi dengannya, tambahkan ia ke dalam daftar pertemanan Facebook anda: Stephen Kevin Giovanni.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

3 thoughts on “Usulan 10 Program Studi Baru untuk UKSW”

  1. Favian Reyhanif says:

    FEB ga ada usulan Prodi baru kah? 😀

  2. Yohanes Martono says:

    Saya ikut usul prodi farmasi

  3. Stephen Kevin Giovanni says:

    Favian: Awal tahun ini sempat terpikir, bagaimana ya jika UKSW membuka MBA? Alias Master of Business Administration. Soalnya kan Manajemen di UKSW sudah A semua, dari S1 hingga S3. Seluruh jurusan S1nya juga sudah mendapatkan akreditasi A. Juga ada beberapa dosen FEB yang bergelar MBA, bahkan ada yang DBA.

    Pak Martono: Boleh juga Pak. Asal dosennya cukup. He he.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *