Balada Mahasiswa Tingkat Akhir

Browse By

Dering telepon genggam di kala subuh itu mengagetkanku. Bagaimana tidak? Selain memecahkan langit yang masih sunyi, juga membunuh mimpi indahku. Padahal, kalau tidak salah, aku baru saja tidur sekitar dua jam-an. Seharian sebelumnya, aku mengerjakan permintaan tulisan dari editorku yang terkenal galak dan bengis.

Aku yang terbangun dengan kesal itu segera mencari di mana telepon genggam itu berada. Aku ingin melabrak orang yang sudah menganggu tidurku.

Kucari di mana, telepon genggam itu tak ada. Di atas meja. Di atas dan bawah tumpukan buku dan kertas. Di dalam cangkir berisi bekas kopi. Tetap saja hasilnya nihil. Setelah kudengarkan secara saksama, aku baru menyadari telepon genggam itu berdering dari arah dalam ranselku.

Buru-buru kubongkar ranselku. Dan memang benar, di sana telepon genggamku berada. Dari layar telepon genggamku terpampang jelas sebuah nomor yang memanggil. Sayangnya, nomor itu tak kukenal.

“Ini pasti nomor orang mabuk,” batinku cepat. Tetapi kalau mabuk, kenapa dia menelepon berkali-kali? Dari catatan panggilan tak terjawab, nomor tersebut melakukan lima kali panggilan.  “Mungkin lebih baik kuladeni saja,” gumamku.

“Halo?”

“Hasan, susah sekali aku menelepon kamu,” ujar suara alto serak di ujung sana. Suara itu cukup kukenal. Tapi milik siapa?

“Maaf. Ini siapa ya?” tanyaku balik.

“Ini aku. Sekar. Aku pakai nomer Ibuku. Nomerku lagi off,” aku perempuan tersebut.

Sekar? Sekar siapa, ya? Otakku segera melokalisasikan ruang dan waktu, siapa kira-kira perempuan yang memakai nama dan bersuara alto serak ini. Dalam memori otakku, cukup banyak nama perempuan bernama Sekar. Entah itu dari teman makan, teman minum, bahkan kadang sampai teman tidur.

Ah! Sekar Widyaningrum. Wanita ini berparas ayu mirip seperti Dewi Sri. Kulitnya putih resik. Wajahnya bulat laksana rembulan. Rambutnya panjang bergelombang. Anak priyayi manja ini adalah adik tingkatku di kampus.

“Ada apa?” tanyaku pada Sekar.

“Tuh, kan kamu lupa. Ini kan hari wisudaku. Kamu kan janji mau datang. Tadi kamu juga tidak menampakkan batang hidungmu di malam fakulter. Kamu ke mana, sih?” sergah Sekar dengan suara manja.

Duh, biyung. Mendengar ocehan Sekar yang manja ini, aku jadi senyum-senyum sendiri. Tetapi soal janji datang ke malam fakulternya, aku beneran lupa.

“Hahaha… Maaf, kemarin aku dikejar deadline. Jadi…” jelasku berusaha bercanda.

Yo, wislah. Kamu mesti kaya gitu. Yang penting hari ini kamu mesti datang. Keluargaku juga datang soalnya,” ucapnya cepat. “Acaranya dimulai jam 7 nanti. Kamu datanglah dengan rapi. Pakai kemeja, celana panjang kain dan pantofel. Jangan lupa cukur kumis dan jenggotmu!” perintahnya sepihak ala Hitler.

Belum sempat aku menjawab, telepon itu langsung ditutup. Aku pun segera merebahkan diri kembali ke atas ranjang. Pandanganku lurus ke langit-langit kamarku yang kumuh. Di sana seolah tergambar jelas pertanyaan yang muncul dalam pikiranku: Memangnya harus datang ke acara ini, ya? Kenapa Sekar memintaku datang ke acara ini, padahal dia tahu aku benci sekali acara formal?

Ah, tetapi ya sudahlah. Toh, hanya kali ini saja. pikirku lagi. Sekali dan terakhir kalinya….

***

Usai lama bergulat pikir, akhirnya aku bangkit dari tidurku. Aku mencoba bangkit berdiri, sekalipun langkah kakiku berat. Aku mengambil pakaian terbaikku: sebuah kemeja katun putih, lengkap bersama jas dan celana panjang kain hitam. Tak lupa juga kuambil dasi berwarna merah. Semuanya masih rapi. Belum pernah tersentuh sama sekali.

Dengan langkah beralaskan malas, aku menuju arah kamar mandi yang letaknya ada di lantai bawah. Ketika menyusuri tangga menuju lantai, angin dingin di pagi buta itu menyentuh kulitku. Sontak, bulu romaku langsung berdiri. Gigiku ikut bergemeletuk ria merayakan dinginnya pagi hari itu.

Sembari menangkupkan kedua tangan ke tubuh, pandanganku tertebar ke seluruh penjuru rumah indekosku yang masih sunyi. Tak seorang pun nampak batang hidungnya di ruang televisi. Padahal biasanya, jam segini mereka masih menunjukkan batang hidungnya. Entah sedang menonton televisi atau berjudi memakai kartu remi milikku. Mereka bermain, seolah tak peduli hari itu ada kuliah atau libur.

Namun kali ini, tampaknya mereka memilih tidur nyenyak. Mungkin ini semua gara-gara hujan semalam yang membuat hawa dingin kota di bawah kaki gunung ini jadi berlipat ganda. Suara ayam jago milik tetangga sebelah yang sudah berkokok terdengar nyaring. Tetapi itu tak membuat mereka terusik dari lelap.

Memasuki kamar mandi, aku langsung mencopot seluruh pakaianku. Tinggallah aku yang telanjang bulat tanpa sehelai benang. Aku menuju salah satu sisi dinding kamar mandi, tempat sebuah cermin agak besar yang tergantung.

Dari cermin itu, terlihat jelas bayangan wajahku yang mulai menua. Mirip seorang berkepala tiga. Padahal umurku belum sampai angka tiga puluh. Butuh waktu lima sampai enam tahun baru sampai di usia tersebut. Di gambaran wajahku yang dilukis oleh cermin, terpampang pula jenggot dan kumis yang sudah cukup tebal. Sudah berapa lama aku tidak mencukurnya? Tanyaku dalam hati.

Beberapa kali, poni rambutku yang panjang jatuh diantara pelipis mataku. Ini membuatku sedikit risih karena harus berkali-kali menyibakkan rambutku ke belakang. Tapi, tak kusangka rambutku sudah sepanjang ini.

Semua pertanda itu memancing sebuah tanda tanya besar dalam kepalaku: sebenarnya sudah berapa lama aku ada di kota ini?

Ah… Enam? Atau tujuh tahun, ya, gumamku.

Hmm… tujuh. Ya. Benar. Tujuh tahun sudah aku berada di kota ini. Itu berarti tujuh tahun pula aku menjalani studi sebagai seorang mahasiswa.

Tetapi ini tujuh tahun sebagai mahasiswa merupakan sebuah kejanggalan. Sebab paradigma masyarakat—termasuk aku, studi S1 sebenarnya sangatlah mudah. Hanya ditempuh sampai empat sampai lima tahun saja. Lalu kenapa aku belum lulus dan dan masih menyandang status mahasiswa ini?  Ada apa sebenarnya?

***

Memikirkan hal itu membuatku terlalu lama di kamar mandi. Terpaksa, aku pun mandi secepat kilat. Seusai mandi, aku melangkah cepat menuju kamar. Aliran darahku seperti membeku sesaat, setelah kulitku diterjang kombinasi air dan hawa dingin kamar mandi pagi ini. Agar tak tambah kedinginan, aku segera mengenakan pakaian yang tadi sudah kusiapkan. Kemeja katun putih, jas hitam, dasi merah, celana panjang kain hitam dan pantofel. Semua sesuai dengan permintaan Sekar.

Ketika akan mengambil dasi merah, pandanganku segera tertuju pada jam dinding yang tergantung di satu sisi kamarku. Pada jam dinding tersebut, terlihat arah jarum pendek menunjuk angka tujuh dan jarum panjang hampir mengarah pada pukul dua belas.

Celaka! Aku terlambat!

Buru-buru aku kenakan dasi merahku. Tak lupa juga aku segera mengenakan sepatu pantofelku. Agak berdebu, karena jarang kupakai.

Dengan tergesa, aku segera menuju ke halaman rumah indekosku. Di sana tempat sepeda motor bututku terparkir. Tetapi ketika akan mengeluarkan motor, jalanan terlihat penuh jejeran mobil. “Duh, berarti parkiran di kampus sudah membludak hingga ke belakang kampus,” gumamku.

Akhirnya, melihat situasi yang tidak memungkinkan itu, aku memutuskan untuk berjalan kaki. Malas memang. Tetapi, ya sudahlah. Toh, cuma butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke kampus.

Ilustrasi oleh: Alodia Yap

Ilustrasi oleh: Alodia Yap

Ketika mulai perjalanan ke kampus, aku melihat beberapa muda-mudi yang berjalan sembari tertawa. Mereka bergerombol satu sama yang lain. Pakaian mereka rapi tapi semi-formal. Bersepatu kets. Dan kutaksir, umur mereka jauh lebih muda ketimbang umurku. Mereka berjalan ke arah kampus juga.

Pemandangan ini melemparku kembali pada pertanyaanku tadi ketika di kamar mandi: Kenapa aku belum lulus? Kenapa aku belum menanggalkan status mahasiswa?

Memoriku seperti kabur. Jaringan listrik pada simptom otakku seperti terblokir “sesuatu”. Entah apa “sesuatu” itu. Aku kira, terblokirnya ingatanku mungkin disebabkan efek oplosan abidin (anggur merah campur bir dingin) semalam.

Tetapi ketika aku berusaha keras mengingatnya, ingatan yang hadir malah kenangan dua tahun silam. Kenangan di mana pertama kali aku menyentuh tugas akhir sebagai mahasiswa.

Waktu itu, aku teringat, betapa bangganya diriku ketika proposal penelitianku diloloskan oleh dosen penguji. Padahal, topik yang kupilih tergolong susah dan mustahil untuk diteliti. Kebanggaanku makin berlipat ganda, ketika aku mampu meloloskan ide penelitian kawan-kawanku pada ujian proposal penelitian. Sayangnya, kebanggaan sesaat itu menyesatkanku ke jalan keangkuhan diri.

Laozi, lewat Daoisme, pernah menyatakan bahwa seseorang yang jatuh ke dalam kesombongan dan keangkuhan, suatu saat akan menemukan celaan yang dapat membuatnya berduka atau menderita. Apa yang dikatakan oleh Laozi bertahun silam lamanya itu, ternyata terbukti benar.

Setahun kemudian, aku terpaksa mengganti topik skripsiku. Semua ini disebabkan seluruh dana yang kupunya telah habis. Padahal riset sendiri belum berjalan.

Kegagalan ini membuatku frustasi. Ingin sekali rasanya aku berhenti dari kampus dan pulang ke kampung halaman. Tetapi berkat dorongan yang kuat dari hati membuatku berusaha kembali menyelesaikan tanggung jawab ini. Makananmu adalah tanggung jawabmu. Habiskan hingga tuntas.

Tak butuh waktu lama, dua bulan kemudian, aku menyelesaikan topik riset yang baru. Lebih sederhana. Dan yang pasti, lebih murah.

***

Tak kusadari, ternyata aku telah tiba di pintu belakang kampus. Di sana, terlihat banyak sekali rombongan orang berlalu-lalang keluar masuk. Pintu belakang kampus yang kecil nan sempit seketika jadi macet total.

Karena sudah terburu-buru, aku terpaksa ikut bergerombol dengan rombongan yang akan masuk. Sempit dan sangat sesak.

Setelah hampir lima menit berjuang masuk di pintu belakang kampus, akhirnya aku dapat masuk ke area kampus juga.

Di depanku terlihat tenda-tenda mewah berwarna hijau tua. Tenda itu membentang luas menutupi jalanan yang biasanya digunakan mobil berlalu-lalang. Dalamnya terlihat deretan kursi yang sudah dipenuhi oleh orang tua, kerabat dan sahabat para wisudawan. Para wisudawan sendiri berada di dalam gedung utama, yang letaknya di depan persis tenda-tenda tadi.

Di sekitar tenda, ada banyak orang. Tapi kukira, mereka bukanlah keluarga, kerabat atau sahabat para wisudawan. Mereka adalah masyarakat sekitar kampus yang datang untuk berjualan beraneka rupa. Dari makanan kecil, minuman dingin sampai bunga dan boneka sebagai ucapan selamat. Semua lengkap. Selain itu, ada pula beberapa fotografer dari studio terkenal di kota ini juga ikut nongol di acara ini. Mereka membuka lapak menawarkan jasa foto pada para wisudawan dan keluarga bila acara wisuda ini usai.

Aku berpikir sejenak, apa hadiah yang cocok untuk wisuda Sekar, ya? Tetapi aku ingat, wanita seperti Sekar, yang feminin dan agak manja, merupakan tipe perempuan yang suka hadiah boneka. Tetapi bukankah di kamarnya sudah ada puluhan boneka berserakan. Alangkah lebih baiknya, bila aku memberinya hadiah sebuket bunga.

Segera saja, aku menuju ke penjual bunga yang letaknya tak terlalu jauh dari tempatku berpijak. Aku memilih bunga anyelir ketimbang mawar.

“Pilihan jitu, mas. Anyelir adalah simbol kebahagiaan abadi. Ia sangat populer di antara bunga lainnya. Sebagian besar bunga ucapan selamat atas wisuda menggunakan bunga ini. Bukan karena keindahan dan warnanya , tetapi karena anyelir tahan lama, mas,” ujar ibu-ibu penjual bunga itu.

Aku membalasnya dengan tersenyum.

Usai membeli sebuket bunga, aku berjalan menuju arah tenda. Di bagian ujung belakang, kulihat kedua orang tua Sekar. Mereka yang melihatku dari kejauhan, segera memanggil namaku sembari melambaikan tangan. Spontan, semua orang langsung menatapku.

Aku berjalan menuju arah mereka sembari menahan malu bercampur geli.

“Duduk sini, dek. Dekat sama om sama tante,” ujar Ibunya Sekar. Ibunya Sekar sangat ramah padaku. Suaranya halus dan pelan hingga mampu meneduhkan pikir.

“Om senang sekali akhirnya Sekar bisa lulus juga. Ini adalah kebanggaan bagi keluarga kami,” ujar bapak-bapak di samping Ibunya Sekar. Lelaki setengah baya ini adalah Bapaknya Sekar. Seorang priyayi tulen asli Yogyakarta. Dialah yang diwariskan darah seorang priyayi pada sosok Sekar.

Aku mengangguk sambil kembali melempar senyum pada mereka. Pandanganku segera tertuju pada sejumlah wisudawan di dalam gedung. Mereka sedang duduk manis mendengarkan ceramah dari rektor.

Melihat itu, pikiranku kembali mengembara. Dalam pikirku, para wisudawan itu pastilah orang-orang yang tahan banting dan sabar. Sebab mereka mampu bersabar diri menghadapi diri sendiri dan para dosen pembimbing.

Tunggu… Kenapa tiba-tiba tanganku menjadi dingin? Tubuhku juga tiba-tiba bermandikan keringat. Kepalaku terasa pusing. Pandanganku mengabur. Isi perutku serasa ingin keluar. Apakah ini efek abidin semalam? Aku kira tidak. Aku sudah terbiasa minum. Atau apakah ini karena aku berjalan ke kampus pagi ini? Aku kira tidak. Tadi di jalan, aku berjalan santai. Tidak cepat, tidak juga lambat. Selain itu, jarak perjalanan dari rumah indekosku sampai ke kampus, tidaklah jauh. Lalu ada apa dengan diriku sebenarnya?

Tiba-tiba dalam otakku muncul sebuah visualisasi sebuah kenangan. Kenangan yang bangkit, setelah terkubur dalam alam bawah sadar. Mungkin, kenangan inilah jawaban untuk pertanyaanku. Pertanyaan, mengapa aku masih ada di sini. Pertanyaan mengapa aku belum lulus dari studiku.

Aku segera berpamit pada orang tua Sekar yang duduk di sampingku. “Mau ke toilet, Tan,” ujarku sambil berjalan menuju arah toilet.

***

Ketika di toilet, aku melihat gambaran diriku dalam sebuah cermin. Hal ini bikin visualisasi dalam otakku jadi kian nyata. Telingaku berdengung, membuatku hampir tuli. Aku seperti terseret masuk pada visualisasi tersebut. Di sana, aku melihat diriku sendiri. Aku terlihat sangat gembira setelah proposal riset keduaku diterima. Kesenangan itu membawaku kembali berharap bisa lulus dari kampus ini.

Sayang, kesenangan itu ternyata seumur jagung. Sebab pada bulan selanjutnya, pecahlah konflik antara kedua dosen pembimbingku. Yang satu memintaku untuk turun lapangan. Yang lain menolak keputusan tersebut. Alasannya, aku masih hijau dan perlu uji coba terlebih dulu. Alhasil, perbedaan pendapat ini berujung pada kekalahan salah satu pihak.

Pihak dosen yang merasa kalah itu marah. Tapi ia tidak mungkin melampiaskan amarahnya itu ke dosen lainnya. Ia melampiaskan amarahnya itu padaku dalam pertemuan selanjutnya.

You make me in uncomfortable position,” sergah dosen itu padaku sembari menutup pintu ruangannya.

Aku yang baru saja datang, langsung terperangah atas tuduhan itu. Tidak nyaman? Maksudnya..

“Iya, benar. Anda mempermainkan saya dengan dosen lainnya. Ini jelas membuat saya tidak nyaman,” potongnya tegas.

“Begini, saya tidak tahu apa maksud mempermainkan anda atau dosen yang satunya. Namun untuk yang terjadi kemarin…” jelasku.

“Anda pun membohongi saya!” potongnya lagi dengan cepat dan tajam.”Dalam pertemuan lalu, beliau mengatakan bahwa dia sudah mengetahui topik anda jauh sebelum saya. Padahal pada pertemuan-pertemuan kita sebelumnya, anda menjelaskan pada saya bahwa dia tidak menerima bimbingan sama sekali. Berarti anda membohongi saya.”

Membohongi? Duh. Fakta macam apa yang sebenarnya orang ini lihat? Bukankah dulu dia sendiri yang menolak ketika aku memintanya meninjau proposal penelitianku? Tetapi apa guna menjelaskan hal ini padanya. Dia pasti akan marah lagi. Lebih baik aku meminta maaf saja padanya. Toh, “maaf” adalah kata yang mujarab untuk menghentikan amarah.

“Maaf. Ijinkan saya menjelaskan. Apa yang terjadi kemarin, terus terang saya juga tidak tahu. Saya hanya menyampaikan pesan saja untuk mempertemukan anda berdua. Tetapi kalau pertemuan itu malah menyebabkan sakit hati, saya minta maaf,” ucapku pada dosen tersebut.

Akhirnya, sekalipun dari gerak tubuhnya masih terlihat bara amarah, ia mendengarkan penjelasan itu. Pertemuan itu pun berakhir. Masalah selesai.

Dugaanku meleset. Ternyata ia kian menjadi-jadi. Dalam proses bimbingan selanjutnya, ia hanya mencari-cari kesalahan pada tata tulis dan logika penelitianku. Dalam berbagai kesempatan pula, sudah sangat sering aku menyanggah dan meluruskan logika berpikirnya. Tetapi ia terus mengulang-ulang hal yang sama. Ini membuatku kesal hingga timbul niatan ingin membunuhnya.

Sayangnya, persoalan ini tak bisa kuceritakan pada siapapun. Bahkan termasuk keluargaku. Alasannya sederhana, pemikiran keluargaku tergolong konservatif. Ketika mereka mendengar persoalan ini, yang ada mereka akan menganggap masalah yang terjadi ini disebabkan kesalahanku. “Sebab, bagaimana pun juga dosen itu selalu benar,” ujar Ibuku.

Lucunya, komentar dari Ibu akan dikait-kaitkan oleh kakak perempuanku dengan aktivisme yang dulu sering kulakukan. “Makanya, jadi mahasiswa itu yang lurus-lurus saja. Tidak perlu demo atau pun mengkritik pihak kampus,” tambahnya.

Dari situasi itu, aku mulai menyadari bahwa pendapat Marx mengenai sistem kelas dalam sosialita adalah benar. Masyarakat jaman sekarang terbagi atas kelas konglomerat, menengah dan buruh. Kelas-kelas itu saling gesek satu sama lain, utamanya dalam penekanan pada kaum buruh.

Tetapi Marx keliru! Kelas terendah yang selalu ditindas bukanlah kaum buruh. Yang benar, adalah mereka yang tergolong (calon) buruh. Kelas ini merupakan kelas abu-abu, yang di mana, para manusianya tidak memiliki status atau pekerjaan yang tetap. Mereka menodong atas dasar kata sosialis, tetapi tak tahu esensi sesungguhnya dari sosialisme.

Kelas itulah kelasku. Kelas seorang mahasiswa tingkat akhir. Yang belum punya status sosial yang tetap, karena belum punya pekerjaan. Yang selalu meneriakan tentang idealisme, tetapi kerap lupa akan daratan.

Lalu kini apa yang mesti kulakukan? Perlukah aku mengikuti saran Marx, yang mengatakan sistem kelas sosial bisa diruntuhkan dengan cara membuat sebuah revolusi? Lalu revolusi apa yang mesti kubuat?

***

Acara wisuda telah usai. Para wisudawan berhamburan keluar dengan wajah bahagia. Mereka segera menuju ke arah orang-orang tersayang. Ada yang ke orang tua. Ada yang ke istri. Ada pula yang ke kekasih.

Sekar, yang duduk di paling ujung terdalam ruangan, akhirnya menampakkan diri. Parasnya yang elok sangat sinkron dengan wajah sumringah. Ia berjalan cepat menuju ke arah orang tuanya.

Ia segera melepaskan peluk hangat pada orang tuanya. Ibunya menatap dalam anak semata wayangnya itu. Tiba-tiba tanpa disadari, air matanya jatuh. Ia memeluk kembali Sekar dengan erat.

Tiba-tiba mata Sekar tertuju pada sebuket bunga Anyelir yang berada di kursi dekat Ayahnya duduk. “Itu punya siapa, Yah?” tanya Sekar pada Ayahnya.

“Itu punya dik Hasan. Tadi dia ada di sini. Tapi pamit ke toilet. Sampai sekarang… kok, belum balik, ya?”

Sekar mengambil buket bunga anyelir itu. Harum. Di sana, terselip sebuah kertas “Congrats, my love”. “Ke mana si Hasan Ini?” ujar Sekar dalam hati.

***

Keesokan harinya, seantero kampus digegerkan oleh sebuah berita: Seorang mahasiswa tewas bunuh diri. Dia menerjunkan diri dari bangunan yang di hari sebelumnya dipakai sebagai tempat wisuda. Mahasiswa, yang diperkirakan sudah memasuki masa studi di tahun terakhirnya itu mengakhiri hidupnya dengan memakai pakaian sangat rapi dan formal. Kemeja katun putih, jas hitam, dasi merah, celana panjang kain hitam dan pantofel.

Motif bunuh sendiri itu sendiri tak jelas. Hanya saja, di sakunya terdapat secarik kertas yang berisi sebuah puisi:

Seorang filsuf Yunani pernah berkata,

bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan,

yang kedua dilahirkan tapi mati muda,

dan tersial adalah umur tua.

Rasa-rasanya memang begitu.

Berbahagialah mereka yang mati muda.


Makhluk kecil,

Kembalilah dari ada ke tiada.

Berbaringlah damai dalam ketiadaanmu.

Atas permintaan keluarga mahasiswa itu, kini jasadnya sendiri dikebumikan di tanah kelahirannya. Di daerah Timur yang tandus dan penuh terik matahari.

N.B: Puisi di atas berjudul “Nasib” karangan Soe Hok Gie.

Erwin Santoso, mahasiswa Fakultas Psikologi, angkatan 2008. Ikuti kicauannya di @dik_el.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *