Bangkitnya Radio XT FTEK

Browse By

Tumpukan Stiker Radio XT  | Dok: Tiras Indra Jaya (FTJENET)

 

Setelah enam tahun vakum siaran, Radio XT milik Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK), kembali menyapa para pendengarnya lewat soft launching, pada Minggu (7/12) pukul 19.00.

Dalam soft launching tersebut, Radio XT mengupas sejarah berdirinya Radio XT bersama Andi Irawan, alumnus FTEK yang juga pendiri Radio XT. Selain itu, Radio XT juga memberitahu kegiatan penyiarannya, yang diadakan dari Senin hingga Sabtu.

“Untuk sesi pagi (jam 6-8 pagi), nama acaranya “BMX” (Buka Mata bareng XT). Itu acaranya bacain berita dan memberikan tips-tips harian biasa. Yang siang (jam 1-3 siang), nama acaranya “Leyeh-leyeh”. Isinya membahas tentang fakta-fakta. Kalau malam (jam 7-9 malam), nama acaranya “7 p.m”. Isinya ngobrol santai dengan pendengar, dengan tema pembahasan yang ringan,” terang Markus Indra Setiawan, General Manager (GM) Radio XT keesokan harinya ketika ditemui oleh Scientiarum di kantor Radio XT.

Membuka Lembaran Baru Lewat Streaming

Acara soft launching tersebut membuka lembaran baru bagi Radio XT. Pada 2008 lalu, Radio XT sempat terganjal perihal perijinan di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Semarang.

“Jadi ceritanya, kan, kita 107.7 FM, radio lain yang sebenarnya sudah punya frekuensi sendiri, masuk ke frekuensi kita. Jadi kita kalah untuk mendapatkan perijinan frekuensi itu,” kenang Deny Lauwis, Wakil GM yang merangkap sebagai Sekretaris Radio XT.

Selain itu, dari liputan Imbas tahun 2009, ketika pihak Radio XT mulai mengurusi perijinan ke pihak KPID Semarang pada 2008 lalu, pihak KPID meminta Radio XT untuk menyerahkan Akta Pendirian Radio XT sebagai sebuah organisasi. Sayangnya, Surat Keterangan Rektor nomor 343/kep./rek./12/2003 tentang status Radio XT sebagai bagian dari UKSW yang diserahkan tidak dapat digunakan sebagai pengganti akta pendirian.

Alhasil, KPID, lewat Balai Monitoring Penertiban Radio (BMPR) se-Jawa Tengah menyegel pemancar Radio XT agar tidak dioperasikan sampai proses ijin siar diselesaikan. Sejak saat itulah Radio XT menghentikan siaran.

Sekalipun mesti menghentikan siaran, Markus dan Deny menjelaskan bahwa kegiatan seperti berbenah kantor dan menjaga setiap peralatan, seperti pemancar tetap dilakukan oleh setiap anggota Radio XT.

Karena tak ingin terus terganjal soal perijinan, pihak Radio XT mengambil langkah untuk tetap melakukan penyiaran. Tetapi kali ini bukan lagi secara konvensional, namun dengan cara streaming melalui website di www.xt-fm.com.

“Kita pikir daripada tidak ada kegiatan penyiaran hanya karena terhambat diperijinan doang, makanya kita tetap cari cara lain selain konvensional itu, akhirnya bikin streaming. Karena streaming, kan, enggak perlu perijinan, cuma perlu menyewa server, domain, dan web,” jelas Markus.

Indrika Dermadibyo Tiranda, mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, angkatan 2013. Wartawan magang Scientiarum. Ikuti kicauannya di @IndrikaTiranda.

Penyunting: Erwin Santoso

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *