Bau Hujan

Browse By

ilustrasi-cerpen-menunggu-ibu-pulang__sent-sumut-pos1

Aku mengenal bau jalanan beraspal yang panas tertimpa hujan, membuat jalanan itu mengeluarkan asap putih. Baunya begitu khas, seperti bau uap panas yang keluar dari sepanci air mendidih yang dibuka tutupnya.

Dulu, aku suka setiap tetes hujan. Mulai dari gerimis kecil sampai menderas, hingga membuat baju basah kuyup. Tak ada yang menggambarkan betapa emosiku tercampur ketika hujan datang.

Namun hujan juga membawa kenangan pahit bagiku. Bahkan, tak jarang membuatku termenung lama di bawah hujan.

Kenangan pahit itu bermula ketika aku masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Saat itu, aku suka sekali nekat pulang ke rumah, meski hujan turun dengan lebatnya. Di pintu rumah, Emak sudah menghadangku di pintu sambil berkacak pinggang. Ia marah dan mengatakan lebih baik aku tak usah pulang cepat, daripada aku pulang dengan baju yang basah kuyup.

Emak lebih memilih menyelamatkan baju seragamku terlebih dahulu daripada mengambilkan aku handuk. “Kamu masih punya telinga kan? Hah! Seragammu cuma satu. Kamu mau pakai apa besok?!” teriak Emak padaku.

Aku sadar kalau aku salah. Namun tetesan hujan selalu membuatku ingin bermain dengannya. Aku pun memilih diam. Ternyata Emak memikirkan baju seragamku yang cuma satu dan sekarang telah basah serta kotor.

Ia akan sibuk pada malam harinya, naik turun ke atas pogo untuk mengeringkan seragamku. Emak akan sibuk meniup sembari mengipasi kayu-kayu bakar yang asapnya akan membumbung tinggi ke pogo, sehingga baju seragamku akan cepat kering. Dan yang kulakukan sendiri hanya berada di kamar. Berpura-pura belajar. Padahal aku membaca buku yang kupinjam dari perpustakaan sekolahku yang sempit dan kotor.

Aku senang hujan. Dan aku berpikir bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangiku untuk bermain dengan hujan. Bahkan aku senang kalau besok tidak masuk sekolah karena aku tidak punya seragam. Pernah sekali waktu, sebelum masuk ke sekolah dasar, aku merengek-rengek ijin pada Emak untuk hujan-hujan. Emak yang sedang menjahit tidak mempedulikan aku. Namun aku tetap merengek. Akhirnya Bapak yang berada di sebelah Emak, mengijinkanku bermain hujan. Mungkin ia terganggu dengan rengekanku karena sedang mendengarkan radio dengan seksama.

“Iya boleh. Tapi kamu harus lepas baju. Emak ndak punya waktu untuk mengeringkan baju-bajumu,” ujarnya.

Aku berteriak girang sambil melepas baju yang kupakai. Aku belum mengerti tentang rasa malu. Aku hanya mengenal kebahagian dengan bermain di tengah hujan. Aku segera menuju ke bawah talang bambu yang dibuat untuk mengalirkan air yang menimpa atap daun rumbia. Aku senang ada talang bambu karena ada aliran air hujan yang lebih besar menimpa tubuhku.

Kala hujan turun di malam hari, aku sering terbangun dan mendengarkan suara hujan yang membasahi tanah. Terkadang aku juga mendengar Bapak dan Emak masih bercakap-cakap di dalam kamar. Pernah suatu ketika Bapak mengatakan bahwa jagung-jagung yang ada di ladang tumbang karena hujan deras malam sebelumnya. Bapak menghela nafas panjang dan kecewa. Emak menyuruh Bapak untuk bersabar. Emak menambahkan bahwa sekarang dirinya sedang menjahitkan pakaian kebaya ibu kepala desa, jadi ada cadangan untuk makan.

Namun dengan nada tinggi, Bapak menjawab bahwa uang tersebut untuk makan sehari-hari, lalu bagaimana Bapak bisa membayar sewa ladang dan kebutuhan lainnya. Bapak semakin gusar dan sedih. Sedangkan aku terus mendengarkan suara hujan sambil berpikir, untuk pertama kalinya, bahwa kami miskin.

Keesokan harinya, Bapak mengajakku ke ladang. Dengan senang hati aku mengikuti Bapak, karena aku bisa bermain dengan tanah berlumpur di ladang. Memegang daun-daun basah karena embun, memetik bunga-bunga daun putri malu tanpa membuat daunnya menguncup malu dan membantu Bapak memetik lombok, sayuran atau jagung.

Gundul-gundul pacul cul, gembelengan,
Nyunggi-nyunggi wakul kul, gembelengan,
Wakul nglempang segane dadi sak latar,
Wakul nglempang segane dadi sak latar.

Aku dan Bapak bersenandung sepanjang perjalanan menuju ke ladang. Tangan kiri Bapak menggandengku dan tangan kanannya memanggul pacul. Aku meminta Bapak untuk mengajariku lagu Lir Ilir. Tapi Bapak bilang nanti saja, sekarang harus nyanyi lagu ini dulu sampai hafal. Aku cemberut. Namun tetap menyanyikan lagu Gundul-gundul Pacul. Aku tahu Bapak tidak pernah berbohong.

Ya, Bapak tidak pernah berbohong.

Suatu ketika hujan deras turun di suatu sore hari, dan Bapak sedang bersantai mendengarkan radio. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dengan keras sambil memanggil-manggil nama Bapak. Orang tersebut memberitahukan bahwa ada pohon sengon tumbang yang menimpa ladang Bapak. Orang tersebut meminta Bapak untuk menyelamatkan tanaman lombok Bapak yang sebenarnya siap panen.

Bapak segera meloncat keluar dan aku merengek-rengek ingin ikut. Namun Bapak membentak dan menyuruhku untuk tetap tinggal di rumah. Ibu tergopoh-gopoh menghampiriku yang telah menangis. Menyadari kekasarannya, Bapak mengatakan bahwa Bapak akan pulang cepat dan akan mengajariku lagu baru. Aku mengangguk dan memilih menunggu Bapak di dekat jendela.

Sampai larut malam, Bapak belum pulang dan Emak membujukku segera tidur. Tapi aku menolak meskipun Emak memaksa. Akhirnya Emak menyerah dan melanjutkan menjahit. Mataku telah berat dan berkali-kali aku menguap lebar. Saat bulan sudah berada di atas kepala, aku melihat bayangan Bapak muncul dari kegelapan. Ia menenteng setundun pisang. Aku segera membuka pintu dan memeluk Bapak. Aku tahu Bapak tidak akan berbohong.

***

Tes…tes…tes…

Tetesan hujan menetes ke atap daun rumbia. Baunya seperti jerami yang disiram air. Bau yang mematahkan keringnya rumbia, yang telah basah oleh tetesan hujan. Aku menatap langit-langit kamar yang terdiri dari susunan bambu-bambu untuk melekatkan daun rumbia. Tiba-tiba pintu rumahku yang dibuka dengan kasar dan terdengar suara Emak yang marah-marah. Segera aku keluar kamar dan melihat baju Emak yang kotor apalagi di bagian jariknya yang belakang. Emak terpeleset.

Emak terus mengomel dan membentangkan kebaya jahitan milik ibu kepala desa. Sobek di bagian lengan. Tahulah aku bahwa kebaya itu tersangkut di pohon mangga sebelah rumah ibu kepala desa saat Emak terpeleset.

Aku hanya mendengarkan gerutuan Emak. Timbul rasa kasihan kepada Emak. Aku jadi teringat kata-kata ibu guru beberapa hari yang lalu. “Meskipun negara kita sudah merdeka, namun masih banyak orang-orang miskin di negeri ini. Mereka bekerja kepada para pendatang dari luar negeri dan orang-orang asing yang menjadi pedagang sukses. Ini membuat orang-orang Indonesia itu seperti ‘pembantu’ di rumah sendiri.”

“Pembantu” di rumah sendiri, itukah Bapak?

Bapak bekerja pada seorang asing yang sangat kaya. Bapak dipinjami ladang untuk bercocok tanam dan mendapat rupiah dari separuh hasil ladang. Kalau panen sedang berhasil, Bapak bisa memberi kami makan enak untuk beberapa minggu. Tapi bila panen gagal seperti sekarang, Bapak hanya bisa mengeluh dan bekerja serabutan jadi kuli angkut di pasar kecamatan atau di rumah-rumah daerah pecinan. Keadaan seperti ini merupakan bencana bagi keluargaku. Sebab Bapak pasti akan sering uring-uringan setiap harinya. Ia bertambah rajin melinting tembakau dan meminum kopi tiada henti.

Tetapi panen Bapak memang gagal bulan ini. Batang-batang jagung yang ambruk terkena hujan tidak mampu menghasilkan apa-apa untuk memberi Bapak uang. Hal ini sudah biasa. Namun yang membedakan adalah Bapak tidak uring-uringan lagi. Bahkan wajahnya sumringah ketika pulang ke rumah setelah seharian pergi.

Ia mengatakan kalau sekarang bekerja di desa tetangga, yang letaknya hampir lima kilometer dari rumah. Bapak juga mengatakan bahwa majikannya ini baik dan tidak pernah marah-marah kepada Bapak seperti tuan tanah. Majikannya selalu membawakan oleh-oleh kalau Bapak hendak pulang kerja.

“Memangnya Bapak disuruh kerja apa?” tanyaku kepada Bapak sambil mengunyah semar mendem yang dibawa Bapak.

“Habiskan dulu makanmu baru ngomong. Anak perempuan kok ora reti unggah-ungguh,” timpal Bapak sambil menyedot lintingan rokoknya.

Aku segera menutup mulutku dan meneruskan mengunyah. “Jadi kuli, Nok. Tapi ndak berat kerjanya. Bapak disuruh mlester lantai sama nembok dinding.”

“Lha kerjanya sampai kapan, pak?” tanyaku lagi.

“Mungkin beberapa minggu lagi. Karena di sana cuma ada dua tukang. Satunya itu pemuda dari desa sebelah. Bapak tidak terlalu akrab karena orangnya pendiam sekali.”

Terkadang aku mengkhawatirkan kesehatan Bapak karena ia sering terbatuk-batuk di tengah malam. Tapi segera kubuang jauh-jauh pikiran itu karena Bapak sangat kuat, bisa bekerja berat seharian tanpa istirahat.

Setelah itu Bapak berbincang dengan Emak, ngobrol ngalor ngidul. Aku tidak begitu paham karena mereka membicarakan tentang Harto. Nama itu begitu familiar dan sering didengungkan di radio. Kata Bapak, Si Harto sedang melakukan pembersihan terhadap suatu partai yang mengancam negara. Apalagi setelah partai tersebut mengadakan pemberontakan yang menewaskan banyak warga sipil di beberapa kota.

Aku menguap lebar mendengar cerita Bapak. Mungkin pengaruh banyaknya makan semar mendem. Aku segera beranjak menghampiri bale-bale bambuku. Terserah Pak Harto mau berbuat apa, yang penting Bapak bisa kerja dan kami bisa makan, pikirku. Lalu aku pun tertidur.

***

Keadaan makin sulit. Panen gagal total. Hujan deras turun setiap hari. Jahitan Emak sepi. Emak jadi sering mengomel. Kala hujan deras turun, pawon ikutan bocor. Terkadang air hujan juga masuk sampai ke dalam rumah dan membuat lantai jadi becek.

Tetapi Bapak seperti tidak terganggu dengan keadaan ini. Ia segera tertidur sepulang kerja.

Maklum. Bapak bilang kalau dirinya dapat proyek baru. Majikan meminta Bapak untuk membangun ruang bawah tanah di bawah rumah mereka. Hal inilah yang juga membuat Bapak jarang pulang. Kadang sehari. Kadang juga tiga hari baru pulang. Kalaupun pulang pasti sudah tengah malam. Dan di saat matahari belum muncul, Bapak sudah kembali berangkat bekerja. Emak jadi sering mengomel melihat Bapak yang jarang ada di rumah.

Kalau Emak sudah mulai marah, maka aku akan menyandarkan kepalaku ke pangkuan Emak sehingga Emak bisa mengelus kepalaku. Aku juga ingin mengingatkan Emak kalau masih ada aku di rumah. Toh, Bapak pergi juga karena mencari uang.

Namun Emak sangat gusar hari ini. Bapak sudah tidak pulang selama empat hari. Emak takut terjadi apa-apa dengan Bapak. Apalagi tersiar kabar ada kerusuhan di desa sebelah.

Emak pun sering melongokkan kepalanya ke pintu atau berdiri di depan rumah sambil melihat ke ujung jalan yang gelap. Tetapi tidak ada tanda-tanda bayangan bapak terlihat.

Pada suatu malam, tiba-tiba dari arah seberang terlihat sosok bayangan hitam mendekat. Perlahan tampak seorang lelaki tampak berjalan tergopoh pelan. Badan dan wajahnya penuh memar dan luka.

Kuwi Bapak, Mak!” teriakku.

Emak buru-buru berlari menuju arah Bapak. Ia langsung menopang dan membawa masuk ke dalam rumah. Emak langsung bertanya keadaan Bapak. Tapi Bapak hanya menjawab kalau dia jatuh terpeleset ketika sedang turun ke dalam ruang bawah tanah.

Dari pintu kamar, aku memandangi Bapak penuh rasa takut dan kuatir.

Kini Bapak telah berganti pakaian yang bersih dan duduk di meja makan. Dari dalam kamar, aku mendengar Bapak memanggilku. Aku pun segera datang dan duduk di pangkuan Bapak, meskipun ini sangatlah aneh. Tidak biasanya Bapak membangunkanku tengah malam seperti ini. Lalu Bapak mendudukanku di pangkuannya.

“Keadaan jadi tambah susah, Nah,” kisah Bapak pada Emak. “Mereka kini memintaku untuk berjaga di ruang bawah tanah. Kadang-kadang majikan datang bergerombolan ke ruang bawah tanah bersama beberapa orang. Lalu mereka akan keluar berjam-jam kemudian. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam. Bapak sendiri cuma diminta mengawasi keadaan di luar, saat mereka sedang berkumpul di dalam,” ujarnya.

Emak pun langsung meminta Bapak untuk berhenti bekerja saja.

Ora isolah, NahNgawur kowe!” sergah Bapak sambil mengelus kepalaku. Lalu keesokan paginya, Bapak berangkat ke tempat kerja. Aku dan Emak mengantarnya sampai di tingkungan jalan.

Ketika punggung Bapak telah menghilang, Emak melarangku untuk keluar bermain, “Nok, kamu jangan keluar main dulu. Katanya, ada beberapa orang terbunuh di desa sebelah. Lebih baik kamu di rumah saja,” kata Emak sambil menggandengku pulang.

Tangan Emak tampak gemetaran. Raut mukanya juga gusar, terlihat dari guratan pada keningnya yang semakin dalam. Aku hanya diam.

Malam harinya, hujan turun begitu lebat. Rumah gedheg terhuyun-huyun terkena angin dan hujan. Emak sampai kuatir, kalau rumah itu akan rubuh.

Tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara gedoran keras di pintu. Emak buru-buru bangun, menggelung rambutnya dan segera keluar kamar.

“Nah, suamimu, Nah,” ujar suara parau sesosok wanita. Suara itu cukup kukenal dekat. Itu suara Mbok Yem, tetangga sebelahku.

Ketika Emak membukakan pintu, Mbok Yem langsung mengguncang-guncang tubuh Emak dan menangis histeris. Aku melihat ada beberapa tetangga datang mengekor di belakang Mbok Yem.

Emak bingung dan mendesak Mbok Yem untuk mengatakan apa yang terjadi. Mbok Yem membisikkan sesuatu yang membuat Emak limbung dan tak sadarkan diri. Aku tahu bahwa terjadi sesuatu dengan Bapak.

***

Hujan turun semakin deras. Namun aku masih berjalan santai di trotoar. Aku melihat gerombolan orang yang menembus hujan dengan sepeda motor dan mobil pick up sambil menyerukan nama partai mereka.

“Mbak, jangan hujan-hujan nanti masuk angin lho,” teriak mereka menggodaku. Mereka tertawa sangat keras setelahnya.

Huh, kampanye. Sampai kapan mereka menyerukan kelebihan-kelebihan mereka padahal mereka hanya peduli dengan kepentingan mereka, pikirku sambil mendengus. Mereka tidak tahu kalau hujan adalah peredam amarah dan penyimpan kenangan. Kenangan di mana Bapak pergi dibawa para tentara karena dianggap sebagai anggota partai merah.

Dita Asmara Sofyani, mahasiswi Fakultas Bahasa dan Sastra, angkatan 2011. Dita merupakan wartawan Scientiarum. Tambahkan Dita di daftar pertemanan Facebook anda di: Dita Sofyani.

Penyunting: Erwin Santoso dan Arya Adikristya Nonoputra

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *