Proyek ‘Langit’ di Atas Bukit

Browse By

Langit gelap mendung berteteskan titik-titik air hujan menemani saya bersama Arya, kawan dari Scientiarum. Kami berkesempatan mengunjungi proyek pembangunan kampus III Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (UKSW), pada Minggu, 18 Januari dan dilanjutkan Senin, 19 Januari 2015.

Menuju lokasi konstruksi markas baru Fakultas Teknologi Informasi (FTI), yang terletak di Blotongan, kami disuguhi jalanan yang menanjak tajam untuk sampai ke tempat tujuan. Sebelum masuk area utama proyek pembangunan, di badan kanan jalan terlihat pepohonan yang sudah tumbuh di sekitar lokasi. Arya mengatakan pohon-pohon itu ditanam oleh mahasiswa baru pada tahun 2013 dan sebelumnya. (Baca juga: UKSW Menginjak Tahun Keempat Aksi Penghijauan)

Sesampainya di lokasi, kami disuguhi blok A dan B dalam proses penanaman tiang-tiang beton. Blok C dan D yang masih dalam tahap pembangunan awal. Terlihat juga gedung E yang setengah jadi.

Saya disuguhi pemandangan yang menarik. Hamparan lahan luas bukit-bukit mengelilingi lokasi kontruksi. Memandang ke arah utara terlihat pemandangan luas Rawa Pening, serta Gunung Merbabu yang diselimuti awan.

Saat Minggu, kawasan proyek tampak sepi. Hanya Blok C dan D yang digarap serta pengeboran di kawasan blok A dan B. Namun, jika Senin, ratusan pekerja tampak lalu lalang mengerjakan bagiannya. Ada pekerja yang membangun tembok, mengangkat batu bata, mengangkut pasir, membantu pengeboran, serta terlihat juga alat berat yang mengeruk tanah.

Pembangunan ini, dikerjakan oleh 150 pekerja sejak bulan November tahun lalu, dan direncanakan selesai pada 30 November 2015 sesuai target. Ada juga dua orang pelaksana lapangan yang mengkoordinir ratusan pekerja tersebut. Dengan tenggat waktu satu tahun itulah, Senin sampai Sabtu waktu mereka bekerja pukul 08.00-18.00 WIB. Jika cuaca tidak hujan, dilanjut hingga pukul 22.00.

Masyarakat setempat ikut membantu dalam proses pembangunan. Bahkan, disitu tampak beberapa pekerja ibu-ibu. Hal itu dikarenakan adanya panitia kecil dari warga setempat yang memiliki kesepakatan dengan kontraktor, untuk mempekerjakan masyarakat setempat. Adapun, pekerja-pekerja lain berasal dari Salatiga, Purwodadi, dan Semarang. (Lihat juga berita foto: Pembangunan Markas Baru FTI UKSW)

Melihat sekeliling lokasi pembangunan gedung baru FTI UKSW, ternyata hanya sebagian kecil dari lahan 12 hektar kampus Blotongan. Kampus III UKSW akan dibangun bertahap, setelah gedung baru FTI UKSW rampung.

Kami berkesempatan untuk melihat secara dekat pembangunan, dengan menaiki tanah bermedan curam dan licin karena hujan. Kondisi tanah yang tidak datar itulah, menyulitkan proses pembangunan, terutama di dalam pengangkutan material ke atas. Trisno, salah satu mandor mengatakan bahwa tanah yang licin seringkali menghambat pekerjaan.

Calon lorong kelas gedung D.

Calon lorong kelas gedung D.

”Pengangkutan material harus secara manual dengan menggunakan sontro (gerobak—red) dikarenakan truk tidak bisa naik sampai lokasi, apalagi saat hujan,” ungkap Trisno, sambil mengawasi para pekerjanya. Trisno bersama adiknya dipercayakan menjadi mandor di proyek tersebut. Trisno yang berpakaian hitam juga memakai topi caping itu, pun menambahkan, pembangunan jumlah lantai gedung menyesuaikan dengan kondisi tanah yang tidak rata.

Terlihat juga talut di setiap blok kerangka gedung yang masih dalam tahap proses pengerjaan. Terdapat talut dari batu-batuan dan tertancap pula pipa-pipa. Hal ini dikarenakan ada beberapa lokasi yang merupakan tanah huruk. ”Fondasi perlu dibangun untuk talut agar tidak terjadi longsor dan mencegah pergeseran tanah, pipa juga diperlukan untuk mengalirkan air. Saat ini juga masih tahap proses pembuatan parit, agar air hujan terarah dan tidak mengalir kemana-kemana,” ungkap Sumbari, salah satu pekerja di lokasi itu.

Mahasiswa membludak, FTI beranjak

”Hal yang membuat FTI harus berpindah tempat jauh dari kampus Diponegoro adalah keterbatasan laboratorium bagi mahasiswanya yang mencapai 400 kelas per semester dan jika dipaksa tidak baik. Beruntung UKSW mendapat tanah, dan selanjutnya akan dibangun disana saja. Selain itu, rektor punya rencana untuk membangun kampus baru,” begitulah Dekan FTI, Dharmaputera Palekahelu mengungkapkan saat berkesempatan untuk ditemui Scientiarum 26 Januari.

Siang itu, di meja kerjanya Dharmaputera menjelaskan latar belakang proyek konstruksi kampus baru FTI di Blotongan.

Di dalam membangun kampus FTI UKSW yang memiliki luas 10.000 m2 ini, pihak UKSW tidak bekerja sendiri. Dharmaputra menjelaskan bahwa pihak kampus bekerja sama dengan berbagai pihak. Ada empat pihak terkait dengan pembangunan ini. Dimulai dari pihak perencana yang dipercayakan kepada PT. Jawa Land Realty dari Semarang. Lalu kontraktor PT. Nugraha Karya Graharta yang telah memenangkan lelang. Pengawas pembangunan dari Astana. Di samping itu pihak kampus juga melibatkan dua orang profesor, seorang ahli tanah, dan arsitektur dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

IMG_7976Kami juga menyempatkan untuk bertanya apakah ada hambatan dalam pembangunan, orang nomor satu di FTI UKSW ini menjelaskan bahwa hambatan-hambatan telah bisa dilalui dengan baik dan telah selesai. Dahulu, pihak kampus menginginkan pembangunan segera dilaksanakan. Namun, hal itu sempat terkendala karena adanya regulasi baru yang harus ditempuh dalam mengurus Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

“Proses perijinan sudah selesai semua. Kampus baru FTI telah dibangun sesuai prosedur, karena skalanya besar. Pembangunannya seharusnya tahun lalu, tapi menunggu semua proses perijinan selesai,” imbuh Dharmaputera, saat disinggung mengenai proses Analisis Dampak Lingkungan Hidup (Andal), Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-Andal) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL), Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPL), dan Amdal. (Baca juga: Pembangunan Kampus Blotongan Masuk Tahap Amdal)

Semua dana pembangunan berasal dari dalam kampus. Untuk itu, FTI telah melakukan usaha penghematan anggaran di fakultas sejak 2010. Selain penghematan dana, FTI juga masih memiliki sisa anggaran pembangunan gedung di kampus Diponegoro saat ini. Dana tersebut berasal dari anggaran renovasi sayap kiri dan kanan gedung lama, yang tidak jadi direalisasikan.

Pembangunan kampus baru FTI berkontrak setahun ini menghabiskan biaya 32 miliar. Dana sejumlah itu kini diganti dengan gedung baru yang digadang-gadang, dapat membereskan padatnya populasi mahasiswa di kampus Diponegoro.

Pranazabdian Waskito, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, angkatan 2014. Wartawan Scientiarum.

Penyunting: Arya Adikristya Nonoputra

One thought on “Proyek ‘Langit’ di Atas Bukit”

  1. Pure says:

    informasi yang bermanfaat,,dtunggu artikel2 selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *