Bahasa Isyarat Untuk Semua

Browse By

Untitled-1

KTS (Komunitas Tuli Salatiga) adalah suatu komunitas yang dibuat sebagai wadah untuk tuna rungu berkomunikasi dan berkumpul. Komunitas ini digagas oleh Prayitno pada 2007 dengan nama sebelumnya Walitura (Wahana Peduli Tuna Rungu). Kemudian pada tahun 2010, berubah nama menjadi KTS.

Awalnya anggota KTS berjumlah 40 orang, hingga kini berkurang menjadi 30. Jumlah itu termasuk 15 orang pengurus harian dan 15 anggota biasa. Pengurangan tersebut terjadi karena banyaknya anggota yang berpindah tempat tinggal, atau bekerja di luar kota. Selain anggota tuna rungu, ada beberapa relawan juru bahasa yang tergabung di dalamnya.

Biasanya, mereka berkumpul di rumah salah satu pengurus komunitas. Terkadang juga berkumpul di rumah anggota yang lain, menyesuaikan dengan kepentingan yang dibahas. Mengapa demikian? Karena mereka tidak memiliki markas tetap untuk berkegiatan di Salatiga.

Sadar dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas, mereka justru tak urung diri. Mereka berusaha memajukan tuna rungu dalam segala aspek. Terutama pendidikan, pekerjaan, dan pergaulan dalam lingkungan sosial di luar KTS. Dan semuanya dapat dicapai dengan mulai memupuk rasa percaya diri anggota KTS.

Lantas mereka memulainya dengan futsal bersama setiap Sabtu dan bakti sosial setahun sekali. Selain mempererat hubungan antar anggota, hal ini juga salah satu cara memperjuangkan kesetaraan derajat antara orang yang bisa mendengar dengan tuna rungu.

Belajar lewat SOBIS

Tidak terbatas pada kegiatan futsal dan bakti sosial saja, KTS juga mengajar para anggota baru mereka mengenai bahasa isyarat. Semuanya dilakukan demi membangkitkan semangat tuna rungu. Adi, ketua KTS sejak tahun 2010 sampai sekarang, mengungkapkan, bahwa KTS terbuka untuk tuna rungu maupun masyarakat umum, mulai dari orangtua sampai anak-anak.

Sosialisasi Bahasa Isyarat atau disingkat SOBIS adalah salah satu kegiatan yang bertujuan untuk mengajarkan bahasa isyarat, khususnya pada masyarakat umum. Ini merupakan kegiatan rutin KTS agar masyarakat umum dapat terbuka dengan bahasa isyarat, sehingga mampu berkomunikasi dengan tuna rungu. Dalam SOBIS, anggota KTS yang menjadi guru bahasa isyarat akan mengajarkan isyarat alphabet, isyarat budaya, dan isyarat ekspresi.

SOBIS juga diadakan dengan harapan akan ada relawan atau juru bahasa baru yang ingin membantu KTS. Relawan yang tergabung biasanya akan diminta menjembatani komunikasi antara tuna rungu dengan masyarakat umum.

Relawan akan mengikuti kegiatan rutin SOBIS dan belajar bahasa isyarat dengan anggota tuna rungu KTS. Kalau dilakukan setiap hari, pengusaaan bahasa isyarat biasanya tidak akan mengambil waktu lebih dari setahun.

Adi mengaku sulit menarik minat masyarakat terhadap bahasa isyarat. Menurutnya, hal ini dikarenakan ada anggapan publik bahwa bahasa isyarat adalah bahasa yang aneh. Padahal, bahasa isyarat juga bisa dipelajari seperti bahasa verbal pada umumnya. Pun bahasa ini tidak hanya untuk tuna rungu, tapi juga orang yang dapat mendengar. Ia juga berharap masyarakat yang bisa mendengar tidak mendiskriminasikan tuna rungu dan menganggap mereka bodoh.

“Tuna rungu juga mempunyai bakatnya masing-masing. Ada yang bisa nyetir motor, mobil, mengetik, jadi montir, menjahit dan tata rias, sama seperti orang yang bisa mendengar. Tuli dan yang bisa mendengar, sama,” ungkap Adi dalam bahasa isyarat.

Mengapa bahasa isyarat?

Adi mengatakan bahwa ada Sekolah Luar Biasa (SLB) yang membantu pendidikan tuna rungu, tapi juga ada yang diskriminasi karena mengajarkan dengan oral, yaitu seperti berbicara kepada orang yang bisa mendengar. Dengan berkomunikasi oral, ada kecenderungan menyulitkan tuna rungu, karena harus berbicara dengan mulut dan mengeluarkan bunyi. Ini sangat berbeda dengan bahasa isyarat yang menggunakan gerakan tangan, tubuh dan ekspresi wajah, sehingga bisa dilihat jelas.

“Tuna rungu tidak paham dengan oral karena permasalahan yang berbeda-beda setiap orang. Ada yang bisa paham oral, ada yang tidak bisa sama sekali,” jelas Adi.

Menurut Adi, berbahasa isyarat adalah hak tuna rungu. Jadi, jangan memaksakan tuna rungu untuk menggunakan oral. Inilah alasan mengapa mereka mengadakan SOBIS, dengan penekanan bahwa KTS ingin mengenalkan bahasa isyarat secara luas. Walaupun ada tuna rungu yang mengetahui oral, tetapi mereka ingin masyarakat juga bisa berbahasa isyarat.

Grace Paramythia, mahasiswi Fakultas Psikologi, angkatan 2011. Wartawan Scientiarum. Liputan ini dikerjakan bersama Dita Asmara Sofyani, mahasiswi Fakultas Bahasa dan Sastra, angkatan 2011. Sekaligus Dita membantu Grace menjembatani dalam wawancara bahasa isyarat.

Penyunting: Dita Asmara Sofyani dan Arya Adikristya Nonoputra

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *